Senin, 09 Apr 2018 09:18 WIB

True Story

Hidup dalam Kotak Kaca, Juana Tak Diperbolehkan Memeluk Keluarganya

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Foto: Facebook Foto: Facebook
Jakarta - Juana Munoz (53) asal Spanyol telah menghabiskan 13 tahun hidupnya dalam 'kotak kaca' khusus. Baginya, kotak tersebut adalah penjara, namun tanpa penjara tersebut ia juga tidak akan bisa hidup.

Juana terdiagnosis empat penyakit mematikan: multiple chemical sensitivity (MCS), fibromyalgia, sindrom kelelahan kronis dan elektrosensitivitas. Penyakit-penyakit tersebut mengharuskannya mengisolasi dirinya sendiri dalam kotak kaca berdiameter 25 meter terebut.

Dalam kesehariannya, ia harus mengikuti serangkaian protokol yang ketat, dan siapapun yang hendak mengunjunginya di dalam kotak tersebut harus mandi dengan produk pembersih bebas kimia dan menggunakan pakaian katun organik.


Hal yang paling menyakitkan adalah ia tak boleh disentuh, apalagi dipeluk, karena hal tersebut membahayakan hidupnya. Kedua anaknya yang berumur 26 dan 29 tahun, hanya diperbolehkan memeluknya dua kali dalam setahun, bahkan hanya setelah melalui persiapan selama beberapa hari.

Kejadian ini bermula 29 tahun lalu, hanya dengan sebuah kentang yang ditanam suaminya di taman rumahnya. Juana menceritakan ia hanya menyentuh kentang tersebut, dan kemudian bibir juga matanya tiba-tiba membengkak.

"Aku langsung dibawa ke dokter dan ketika aku baru saja sampai di rumah sakit, seluruh tubuhku membengkak seperti monster," kata Juana, seperti dikutip dari Oddity Central.

Oleh dokter, ia diberi obat corticosteroid dan setelah itu diperbolehkan pulang. Namun sejak itu, tiap kali ia melakukan kontak dengan beberapa bahan kimia ia akan mengalami muntah, lesu, iritasi kulit, asfiksia (tubuh kekurangan oksigen) dan reaksi alergi lainnya.

Beberapa waktu berlalu setelah kejadian tersebut, alergi Juana memburuk dan ia juga didiagnosis fibromyalgia dan sindrom kelelahan kronis, sehingga ia harus diisolasi dalam kotak kaca.


Suami Juana menanam produk organik di kebun mereka, yang menjadi makanan mereka sehari-hari. Dua kali dalam sebulan, Juana memakan daging organik dari produsen terpercaya, dan empat atau lima kali sebulan ia makan ikan.

Ia hanya diperbolehkan menggunakan pakaian katun organik dan masker keramik dibuat secara khusus di Jerman, untuk menghirup oksigen kapanpun ia merasa sesak napas.

Selain itu, karena penyakit MCS yang ia idap, hanya bisa keluar dari kotak kaca tersebut sekali setahun. Ia juga sempat terdiagnosis kanker payudara beberapa tahun lalu, sehingga ia harus menjalani check-up setahun sekali di rumah sakit.

"Bagiku perjalanan (ke rumah sakit) itu adalah neraka. Sebisa mungkin aku harus naik mobil yang bebas kimia, tapi mensterilkan kendaraan kan susah. Dan satu waktu aku sempat alami asfiksia sebelum sampai di rumah sakit," ungkap wanita yang akan menjadi nenek ini.

Ia juga mengungkapkan kesedihannya tak bisa memeluk cucunya, takut hanya bisa memandangnya dari balik kotak kaca. Walau begitu, ia menemukan kekuatan untuk terus hidup.

Juana bersama keluarganya, sedih tak bisa memeluk merekaJuana bersama keluarganya, sedih tak bisa memeluk mereka Foto: Facebook/Juana Munoz

"Salah satu tujuan hidupku adalah mempromosikan kepedulian mengenai MCS dan meningkatkan kualitas hidup pengidap lainnya. Aku memulai kampanye El Abrazo atau The Hug (pelukan)," imbuh dia.

Kampanye ini bertujuan untuk membantu membuat masker dengan penyaring kimia khusus. Masker ini membuat anak-anaknya bisa memeluk ibunya, karena engan usianya yang juga sudah lanjut ia kesulitan mengatur mereka mengikuti protokol ketat tersebut, namun adanya masker ini memudahkan hal luar biasa baginya tersebut terjadi.

Juana mengatakan kemungkinan kentang-kentang tersebut disemprot dengan pestisida yang sudah dilarang dua tahun setelah aku mengalami krisis tersebut. Ia diyakinkan bahwa pestisida itulah yang memicu, namun ia tak ingin menyebutkan namanya karena tak mau ada masalah hukum.

"Yang aku inginkan hanya dapat memeluk keluargaku lagi. Ingin suatu hari nanti aku dapat keluar dan hidup normal kembali," tutupnya.

(Frieda Isyana Putri/up)