Selasa, 08 Mei 2018 11:45 WIB

Jadi Donor, Wanita Ini Relakan Hatinya 'Terpotek' 50 Persen untuk Suami

Widiya Wiyanti - detikHealth
Suaminya terkena sirosis hati, sang istri donorkan setengah hatinya. Foto: thinkstock Suaminya terkena sirosis hati, sang istri donorkan setengah hatinya. Foto: thinkstock
Jakarta - Sirosis hati merupakan kondisi di mana terbentuknya jaringan parut di hati akibat kerusakan hati jangka panjang atau kronik. Biasanya terapi yang dilakukan untuk menyelamatkan orang denga kondisi ini adalah transplantasi hari.

Itu lah yang dialami Rodi Susilo (40), Pegawai Negeri Sipil yang mengalami sirosis hari pada 2009 silam. Sirosis hatinya dilatarbelakangi oleh adanya infeksi hepatitis B yang tak kunjung sembuh.

Rodi bercerita bahwa kondisinya saat itu semakin memburuk. Akibat sirosis, fungsi hatinya mulai menurun dengan cepat. Bahkan mulai timbul varises pada usus dan saluran pencernaan lainnya.

"Salah satu efeknya timbul varises di usus dan saluran pencernaan. Kalau tidak dirawat bisa jadi pecah, makanya secara periodik dilakukan endoskopi," tuturnya saat ditemui di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, Senin (7/5/2018).

Bertahun-tahun hidup dengan sirosis hati, kondisi Rodi semakin para karena hatinya mulai menyusut dan mengeras. Bahkan berpengaruh pada ginjalnya juga.


Pada tahun 2014, Rodi mulai sulit beraktivitas karena perutnya pun ikut membesar. Rodi mengaku perutnya dipenuhi oleh air yang harus dikeluarkan terus-menerus menggunakan obat.

"Untuk mengeluarkan (air) harus pakai obat supaya kencing-kencing terus. Ketika sudah tidak bisa pakai obat lagi ya harus disedot, suntik diperut," ceritanya.

Bukan hanya tidak bisa beraktivitas, efek samping dari sirosis hatinya sudah memengaruhi ingatannya. Ia mengaku sering kali tidak sadarkan diri, atau sadar namun tak tahu apa yang sedang ia lakukan.

Rudi SusiloRudi Susilo Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth


"Sekitar dua bulan sebelum operasi sudah dirawat di sini (RSCM) karena memang efeknya sudah macam-macam. Sampai tidak sadar diri, tidak sadar apa yang dilakukan, lupa, seperti orang gila gitu lah, bahkan bangun, istilah medisnya saya lupa," jelas Rodi.


Akhirnya dokter memutuskan transplantasi hati demi menyelamatkan nyawa Rodi. Tanpa pikir panjang, istrinya Dhelistya Liza (36) yang menjadi donor bagi suaminya itu karena memiliki golongan darah yang sama.

Operasi transplantasi pun berjalan lancar. 40-50 bagian hati istrinya diberikan ke Rodi. Rodi pun harus dirawat di ruang intensive care unit (ICU) selama kurang lebih satu bulan.

"Waktu itu berat badan saya (sebelum operasi) 52 kilo, tapi itu isi air. 52 itu dalam waktu dua bulan ada perbaikan gizi sampai mendekati 57 kilo. Kemudian dioperasi berat badan paling ringan di ICU itu 37 kilo, karena airnya sudah nggak ada. Tipis tinggal tulang," katanya seraya tertawa.

Namun kondisinya berangsur pulih, dalam waktu satu bulan lebih Rodi sudah boleh pulang ke rumah dan menjalani rawat jalan secara rutin. Berat badannya pun perlahan kembali normal karena teratur dalam asupan gizi seimbang.

"Keluar ICU 44 kilo (sebulan setelah operasi). Terus ngatur makan gizi berimbang, naik-naik sampai sekarang 70 kilo," tandasnya.

(wdw/up)