"Aku suka berlari dan sudah melakukannya selama bertahun-tahun. Aku pernah berpartisipasi dalam empat marathon, meski yang ini adalah pertama kalinya setelah 15 tahun," kata ibu dari empat anak ini, seperti dikutip dari Metro.
Pada saat itu, tanggal 22 April, cuaca di area London Marathon yang diikuti Joanna menjadi hari terpanas. Rekornya mencapai 23,2 derajat celcius.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia memperkirakan meminum sebotol kecil air pada sekitar 20 water station, tanpa ada kesempatan untuk meminum minuman energi untuk mengganti elektrolitnya yang hilang.
"Aku ingat kurang 400 meter lagi (dari garis akhir) dan bilang 'aku goyah' dan keluargaku tak percaya aku tak akan melewati garis finish," tutur wanita asal Hampshire ini.
Akhirnya Joanna menyelesaikan perlombaan tersebut dalam 6 jam 35 menit namun ia tak mengingat apakah ia melewati garis finish atau tidak. Karena berikutnya, ia baru terbangun beberapa hari kemudian di rumah sakit.
Ia pingsan saat tiba di rumah, mengalami kejang hebat, hingga suaminya harus memberinya bantuan napas karena ia mendadak berhenti bernapas. Suaminya, Richard, berharap ia tetap hidup hingga ambulans datang.
Kondisi yang dialami Joanna disebut dengan hiponatremia, yang diakibatkan oleh terlalu banyak meminum air dan membuang sodium dari tubuhnya. Hiponatremia dapat membahayakan nyawa jika tak segera ditangani.
Hiponatremia terjadi ketika konsentrasi sodium dalam darah turun secara abnormal. Gejala yang ditimbulkan adalah sakit kepala, muntah, kejang dan bahkan koma.
Sodium merupakan sebuah elektrolit yang membantu mengatur jumlah air yang berada dalam dan seputar sel-sel tubuhmu, menjadikannya melembung.
Joanna kini sudah kembali ke rumahnya dan ingin memperingatkan kepada semuanya mengenai akibat terlalu banyak minum saat berlari. Ia juga berkonsultasi pada dokter jantung dan sudah menjalani beberapa tes lanjutan namun hasilnya organ tubuh terpentingnya tak terpengaruhi oleh insiden tersebut.











































