Senin, 28 Mei 2018 07:27 WIB

True Story

Cerita Si Dokter Cantik dari Paloh yang Selalu Dirindukan Warga

Frieda Isyana Putri - detikHealth
dr Meilina Ayu Lestari yang selalu dirindukan warga. Foto: Frieda Isyana/detikHealth dr Meilina Ayu Lestari yang selalu dirindukan warga. Foto: Frieda Isyana/detikHealth
Jakarta - Sosoknya yang berambut panjang cukup menarik perhatian di tengah kerumunan orang saat itu. Mungkin jika tanpa jas putihnya dan stetoskop yang terkalung di lehernya, orang tak akan ngeh kalau ia bekerja sebagai seorang dokter di pelosok Kalimantan Barat.

Adalah dr Meilina Ayu Lestari, yang telah bekerja sebagai satu-satunya dokter di puskesmas Paloh sejak September 2015 lalu. Dara berusia 29 tahun ini cukup terkenal akan paras cantiknya.

Sering disapa sebagai dr Mei, ia mengambil spesialis umum. Ia menyebutkan bahwa puskesmas tersebut mulai kebanjiran pasien sejak ia bekerja di sana.

"Pernah ndak ada satu harinya saya misalnya buat pelatihan atau apa itu udah pada mengeluh soalnya, nyariin saya. Ada juga keluarga dari Pontianak ke sini, berobat sama saya, sembuh, balik lagi ke Pontianak cerita sama keluarganya yang lain sama tetangga tetangganya. Ada yang jauh jauh berobat ke sini sama saya dari pontianak," jelasnya saat ditemui di Puskesmas Paloh, Kalimantan Barat, Sabtu (26/5/2018).

Nyaris tiga tahun bekerja di daerah pelosok dan perbatasan memberikan pengalaman penuh suka dan duka bagi dr Mei. Salah satunya adalah pengalaman lucu saat warga Paloh yang datang dengan keluhan apapun mereka harus pulang dengan membawa obat.

"Misalnya pasien nak pergi berobat, berobat itu di sini rata rata harus ada obatnya. Jadi ada sakit ndak ada sakit mereka datang harus pulang bawa obat. Kadi misalnya datang saya tanya 'bu keluhannya apa?' 'ini dok saya suka ngantuk, bisa ndak dokter kasih obat saya biar ndak ngantuk?' Mah itu kadang bikin saya bingung, obat bikin ndak ngantuk itu gimana, dikasih apa gitu lho," kenang dr Mei, tergelak.

"Kadang ada juga pasien datang, 'dok ini perasaan saya kacau abis bertengkar sama suami, ada obatnya ndak dok?' ini kadang saya juga stres. Kadang-kadang pasien yang sangat ringan ndak perlu obat kadang emang mintanya obat," imbuh dia lagi.

dr Mei yang menempuh pendidikan dokternya di Universitas Tanjung Pura Pontianak ini menyebut pengalamannya di awal bekerja di Paloh cukup menakutkan dan sempat membuatnya tidak betah.


dr Meilina Ayu Lestari.dr Meilina Ayu Lestari. Foto: Frieda Isyana/detikHealth


Salah satu pengalamannya adalah saat suatu malam ia sendirian di rumah dinas, lalu mendadak ada beberapa pria yak mengenakan helm yang menggedor-gedor pintu. Pada waktu itu, rumah dinas yang ia tempati masih berdinding kayu dan kacanya retak di sana-sini, membuatnya sangat ketakutan.

Belum jelas apa maksudnya, namun pada saat itu ia menelepon salah seorang perawat untuk meminta bantuan dan melihatkan siapa pria tersebut. Selain itu, ia juga sempat alami kesusahan berkendara yang membuatnya merogoh kocek lebih banyak.

Karena ia tak bisa mengendarai sepeda motor, saat di kota Sambas ada pelatihan, ia harus menyewa motor ojek dengan biaya sekali jalan 200 ribu.

Akan tetapi seiringnya dengan waktu ditambah dengan perbaikan puskesmas dan rumah dinas serta warganya yang sangat ramah lambat laun membuatnya betah.

Pribadinya yang sangat ramah dan menyenangkan, membuat dokter cantik ini juga sangat dirindukan warganya. Bahkan sejak bertandang di Paloh, ia hanya sempat kembali ke kampung halamannya di kab. Sekadau sekali.

"Itupun hanya sehari, buat ambil berkas-berkas untuk CPNS. Tahu sendiri kan saya sehari ndak ada saja dicari-cari," timpalnya seraya tertawa kecil.

Namun ia menegaskan bahwa banyak warga yang mencarinya lebih karena panggilan dan pekerjaan yang tak bisa ditinggal, karena puskesmas Paloh tidak mempunyai dokter lainnya.

dr Mei belum punya rencana untuk pindah dari Paloh, namun ia berencana untuk kuliah lagi untuk mengambil spesialisasi obsgyn di Universitas Gadjah Mada, UGM.

Imbuhnya lagi, dengan semakin lengkapnya fasilitas di puskesmas diharapkan lebih tertarik untuk berobat. Tak hanya warga lokal, namun juga warga Malaysia.

"Rata-rata warga sini tuh lebih suka ke Kuching berobatnya dibanding ke sini, karena di Kuching itu pemeriksaannya lebih lengkap daripada di sini. Kalau bisa jadi puskesmas di perbatasan yang menarik warga di sekitarnya untik berobat ke sini, jangan ke Malaysia. Malah kalau bisa warga Malaysia yang berobat ke sini karena mendengar kalau di Paloh itu bagus," tutup dr Mei.

(frp/up)