Sabtu, 02 Jun 2018 14:08 WIB

True Story

Lumpuh Selama 28 Tahun, Nenek Ini Masih Aktif Bikin Kue Lebaran

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Bu Jaya usianya sudah tidak muda, tetapi semangatnya tidak pernah pudar meski mengalami kelumpuhan selama 28 tahun belakangan. Bu Jaya usianya sudah tidak muda, tetapi semangatnya tidak pernah pudar meski mengalami kelumpuhan selama 28 tahun belakangan.
Bogor - Nurjannah (67) tak pernah mengira akan hanya menghabiskan 28 tahun hidupnya hanya dengan tergeletak di atas tempat tidur setiap hari. Padahal dulunya wanita ini sangat aktif berkegiatan dan tak pernah jatuh sakit.

Saat ditemui oleh detikHealth di kediamannya di Gunung Putri, Bogor, Nurjannah tampak sehat dan riang meski tergeletak di tempat tidur. Kini ia hanya tinggal berdua saja dengan pengasuhnya di rumah tersebut.

"Saya udah bolak-balik dikerjain, ditipu sama pengobatan alternatif. Medis, alternatif sudah saya lakuin semua tapi ya gini, tetep aja nggak tau kenapa saya lumpuh," tutur Nurjannah yang lebih akrab disapa Bu Jaya ini, Selasa (29/5/2018).

Pada pertengahan tahun 1989 saat ia mengikuti mendiang suaminya bekerja di Samarinda menjadi momen yang menjungkirbalikkan hidupnya. Suatu hari ia menemukan badannya panas tinggi, nyaris 40 derajat celcius.

Saat dibawa ke rumah sakit, dokter mendiagnosisnya dengan penyakit tipes. Saat itu Nurjannah yang baru berusia 39 tahun dirawat di rumah sakit selama seminggu panasnya tak kunjung turun dan tak ada perubahan.



"Terus akhirnya pulang, tapi panasnya nggak turun-turun lagi. Ya akhirnya kita ngobatin sendiri kayak banyakin minum. Akhirnya hari ke-5 masuk rumah sakit lagi yang lain, terus dirawat dan dibilang ini kena malaria. Tapi kan emang Kalimantan memang identik sama itu ya, penyakit malaria," lanjut nenek dari 7 orang cucu ini.

Namun yang dirasa aneh oleh Nurjannah saat itu adalah dokter meminta untuk mengambil cairan sumsum tulangnya. Ketika ditanya apa alasannya, dokter hanya menjawab untuk mengecek siapa tahu ada kemungkinan tumor atau kanker karena panas tinggi yang tak kunjung turun.

Hasilnya keluar, dan ternyata hanya lemak protein tinggi, Nurjannah akhirnya kembali ke rumah tanpa diagnosis yang jelas. Ia diberi obat Fansidar untuk malaria oleh dokternya yang harus diminum dengan dosis 3 kali sehari.

Panasnya berhasil turun, namun lagi-lagi ada hal lain yang mengganggunya. Tak lama setelah itu, ia merasakan kedua lututnya semakin lemas dan telinganya sering pengang atau berdenging dan akhirnya memutuskan untuk berhenti mengonsumsi obat tersebut.

Lambat laun kakinya semakin berat dan lemas, susah untuk berdiri. Ketika itu, atasan dari suaminya menyarankan berobat ke Balikpapan untuk pengobatan alternatif. Sejak itu, cerita perjalanannya mengobati lewat jalan alternatif dimulai.

Nurjannah pun melompat dari satu pengobatan alternatif ke alternatif lainnya, ia menyebut tak lagi berani ke pengobatan medis karena mereka tak dapat memastikan apa penyakitnya. Dan akhirnya kakinya lumpuh total.

Menurut penuturan Yani, putri sulungnya, sudah tak terhitung berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tuanya demi membuat kaki Ibunya berjalan kembali. Mulai dari menjual tanah, bolak-balik luar pulau, dan lainnya membuat mereka sangat habis-habisan.



Bu Jaya sudah 28 tahun mengalami kelumpuhan.Bu Jaya sudah 28 tahun mengalami kelumpuhan. Foto: 20detik


Yani telah menemani ibunya berobat cukup lama, dimulai sejak berobat di Jakarta. Ada satu cerita saat itu ditipu oleh orang yang menjanjikan dapat menyembuhkan kakinya dan meminta membayar sejumlah uang untuk membelikan suatu bahan penting yang dapat menyembuhkannya.

Setelah beberapa waktu tak terdengar kabar, mereka mengunjungi alamat yang pernah diberikan oleh pria tersebut. Rupa-rupanya, ia sedang mengadakan hajatan pernikahan anaknya dan uang Nurjannah digunakan untuk acara itu.

Ada lagi cerita ketika ia kembali ke Samarinda, di mana Nurjannah menemui seseorang yang terkenal akan pengobatan alternatifnya. Orang tersebut bilang ia dapat sembuh jika berkurban seekor sapi atau kambing tapi ternyata uangnya dipakai untuk pulang ke Jawa.

Nurjannah mengaku tak berani memakai kursi roda karena malu. Namun semuanya berubah ketika ia bergabung di Himpunan Wanita Penyandang Cacat Indonesia (HPCI) yang kini telah berganti nama menjadi Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia.

"Waktu itu saya tanya 'Berasa sakit nggak kalau pakai kursi roda?' Mereka jawab nggak, karena lumpuh itu kan kakinya aja yang nggak bisa jalan, tapi yang lainnya masih bisa bergerak. Itu bikin saya sadar," ungkap wanita kelahiran Ciamis ini.

Setelah itu ia berhenti menjalani pengobatan alternatif dan lebih giat dalam beragama. Ia akhirnya tak lagi mencari-cari alasan kakinya lumpuh, namun ia lebih menerimanya sebagai takdir.

Ia juga akhirnya terus aktif dengan melakukan kegiatan, yang awalnya ia lakukan sebagai penghabis waktu agar cepat sore hari. Ada salah satu karyanya yang laku keras dijual di Samarinda, yaitu tas mote atau manik-manik.



Walau lumpuh, Bu Jaya ingin tetap aktif. Antara lain dengan membuat kue lebaran meski hanya untuk keluarga yang dicintainya.Walau lumpuh, Bu Jaya ingin tetap aktif. Antara lain dengan membuat kue lebaran meski hanya untuk keluarganya. Foto: 20detik


Nurjannah juga dulunya sempat aktif membuat kue, yang kini ia lakukan kembali. Semuanya ia lakukan dengan posisi tidur dan tengkurap yang ia akui malah memudahkannya untuk bergerak ketimbang duduk. Bahkan untuk memasak, masih juga ia lakukan, namun hanya sebatas meracik bumbu saja.

Ia membuat sejumlah kue-kue kering bersama kedua anaknya di rumah tersebut. Tetapi ia belum berniat untuk menjualnya karena masih belum percaya diri akan kualitas dan rasanya karena sudah sekian lama tidak membuat kue.

Yang paling disyukuri oleh Yani dan ibunya, adalah keberadaan sang suami yang selalu setia mendampingi. Sayangnya suaminya meninggal terlebih dahulu pada 2009 lalu, meninggalkan Nurjannah bersama tiga anak perempuannya.

"Beruntung Bapak saya itu orangnya sayang banget sama Ibu. Tau Ibu sakit didampingi terus, bahkan digendong" katanya seraya tersenyum.

"Ada suatu ketika saya lagi duduk, mau menjahit gitu ya pakai kain licin banget terus sering jatoh. Nah suami saya itu langsung ambilin lagi taruh di meja. Pokoknya di manapun saya suami selalu berada di sini (menunjuk di belakang punggung)," timpal ibunya.

Ia akhirnya memutuskan untuk tinggal di Bogor bersama hanya seorang pengasuh, namun rumahnya dekat dengan banyak saudaranya. Pagi hari akan Nurjannah habiskan dengan tadarus Al-Qur'an, lalu melakukan aktifitas prakarya apapun yang sedang ingin ia lakukan,kebanyakan ia lakukan semuanya di tempat tidur.

Yani bekerja di Jakarta sebagai seorang pemandu wisata dan ia mengatakan hidupnya kini hanya untuk ibunya. Bersama kedua adiknya ia juga membantu keberlangsungan hidup orang tua semata wayang mereka tersebut.

"Semuanya untuk Ibu, saya yakin ada hikmahnya di balik apa yang menimpa Ibu," pungkas Yani.



Simak kisah Bu Jaya dalam video 20detik berikut ini.

[Gambas:Video 20detik]



(frp/up)