Kamis, 26 Jul 2018 11:02 WIB

True Story

Curhat Pasien Kanker Payudara HER2 Positif Usai Trastuzumab Dihapus BPJS

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Mariana Candra mengidap kanker payudara her2 positif. Foto: Aisyah/detikHealth Mariana Candra mengidap kanker payudara her2 positif. Foto: Aisyah/detikHealth
Jakarta - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) menghapus trastuzumab, obat kanker payudara HER2 positif. Gugatan terhadap BPJS karena isu ini pun pernah dilayangkan oleh salah satu pasien, Yuniarti Tanjung alias Juniarti.

Juniarti bukanlah satu-satunya di antara pasien yang merasakan derita akibat penghapusan trastuzumab dari tanggungan BPJS, Mariana Candra (61) asal Bogor pun mengisahkan perjuangannya kepada detikHealth untuk melakukan pengobatan menggunakan trastuzumab. Saat itu ia baru pulang dari kemoterapinya, datang dengan senyum tipis.

Bagai petir di siang bolong, Mariana terdiagnosis Februari 2018, dengan kanker HER2 positif +3 stadium 3B setelah melalui serangkaian tes. Sempat mengurung diri dua bulan karena diagnosis dokter, akhirnya ia memberanikan diri untuk melakukan pengobatan.

"Tapi karena benjolannya besar di atas 6 cm dokter onkologi menyarankan untuk kemoterapi 3x dulu untuk mengecilkan, supaya di operasi bisa bersih," kisahnya yang kerap berangkat sendiri saat pengobatan menggunakan kendaraan umum.



Saat itu ia menggunakan trastuzumab dan obat kemoterapi lain yang membuatnya merasa sangat semangat, setelah kemoterapi pertama saja benjolannya mengecil jadi sepertiga ukuran semula, menjadi 2 cm. Ini memunculkan semangat dan harapan kesembuhan baginya.

"Terus kemo kedua makin mengecil sampai kemo ketiga menghilang, sampai dokter datang nanya 'ini mana benjolannya?'" kisahnya yang akhirnya telah menjalani mastektomi tanggal 24 Mei silam.

Ia dijadwalkan untuk menjalani 6 kali kemoterapi dan lanjut 12 kali dengan infus trastuzumab usai mastektomi karena risiko tingkat kekambuhan sangat tinggi dalam waktu 1 tahun pertama. Akan tetapi, biaya yang ditanggung BPJS hanya sampai kemo ke-enamnya saja, selanjutnya ia harus membayar sendiri.



"Lanjut 12 kali untuk trastuzumab, itu yang saya pikir saya berat. Saya nanya ke rumah sakit Rp 22 juta per satu kali pengobatan, saya enggak tau per vial atau per treatment," ujar Mariana.

Ia sempat bertanya kepada dokter onkologinya apakah memungkinkan untuk menggunakan obat lain, namun dokternya mengatakan risikonya akan sangat besar jika ia berhenti menggunakan trastuzumab, ditakutkan benjolan bisa tumbuh di tempat lain. Tidak ada pilihan lain katanya.

"Harapan saya sama seperti pasien kanker lain, beban mental yang harus kami atasi , seandainya BPJS memberikan beban lagi secara finansial artinya kan tambah berat," harapnya.

Terlebih saat ini ia dan suami sudah pensiun, meskipun ketiga anaknya sudah lulus dan bekerja tentu saja biaya untuk pengobatan tetap terasa berat. Lalu biaya dari mana untuk pengobatan?

"Berupaya maksimal, kalau ada barang yang bisa dijual, atau upaya upaya lain untuk bisa kembali sehat," ujarnya.

Sama dengan pasien-pasien kanker lainnya, ia pun berharap bisa kembali sehat. Kita doakan ya agar Mariana bisa kembali sehat dan segera. Semangat ibu Mariana!


(ask/up)
News Feed