Kamis, 26 Jul 2018 12:30 WIB

Mengidap Penyakit Langka, Wanita Ini Sempat Ingin Bunuh Diri

Widiya Wiyanti - detikHealth
Mengidap penyakit langka, wanita ini sempat berpikir untuk bunuh diri. Foto: ilustrasi/thinkstock Mengidap penyakit langka, wanita ini sempat berpikir untuk bunuh diri. Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Seorang wanita berusia 21 tahun dari Islington, Inggris, merasa tersiksa dengan penyakit langka yang menyerang dirinya. Helena Stone mengidap Complex Regional Pain Syndrome (CRPS) yang membuat kedua kaki dan lengan kirinya sakit.

CPRS adalah penyakit kronis di mana menyerang lengan dan kaki, yang biasanya disebabkan karena adanya cedera, setelah operasi, stroke, atau serangan jantung.

"Complex Regional Pain Syndrome adalah kondisi nyeri yang tidak umum dan yang paling menyakitkan mengetahui bahwa kebanyakan dokter tidak mengetahui hal itu," ujarnya dikutip dari Metro.

Ketika berusia 16 tahun, Helena mengikuti perlombaan dayung kayak dan terjadi kecelakaan, kayaknya terbalik dan membuat lututnya cederea. Selama satu tahun, ia harus keluar-masuk Institute of Sport and Exercise Medicine untuk mengobati cederanya.

"MRI kembali jelas dan mereka tidak yakin mengapa saya kesakitan. Saya mendapat suntikan steroid dan itu bekerja dengan baik, namun ketika saya melakukan tindak lanjut, lutut saya membengkak, menjadi merah terang, dan sensitif terhadap sentuhan. Ini adalah gejala klasik CRPS, yang didiagnosis pada bulan Desember 2014," ceritanya.



Pada tahun 2016, kondisi Helena makin memburuk, bahkan ia juga mengembangkan dystonia, yaitu gangguan pada pergerakan otot yang dapat membuat kakinya tidak bisa digerakkan sama sekali.

Penyakitnya itu membuat kulitnya semakin sensitif dan rapuh. Sedikit sentuhan bisa membuat kulit Helena luka.

"Saya telah dituduh mencelakai diri sendiri karena kulit saya rusak, dan jika mereka membaca tentang CRPS mereka akan menemukan bahwa kulit saya sensitif terhadap sentuhan," jelas Helena.

"Kulit di sekitar lengan, pergelangan tangan, tangan dan jari saya menjadi sensitif terhadap angin, mandi adalah perjuangan dan saya kelelahan karena kurang tidur karena rasa sakit yang saya alami," lanjutnya.

Rasa sakitnya itu sempat membuat Helena berpikir ingin mengakhiri hidupnya. Namun, untungnya itu hanya ada di pikirannya. Sekarang ia ingin orang lain lebih sadar akan penyakit CPRS dengan membagikan kisahnya di blog pribadinya.

"Saya merasa sangat tidak berdaya sehingga saya ingin mengakhiri semuanya, tetapi saya menelepon seseorang dan dua paramedis tiba dan menghabiskan lima jam bersama saya sampai keluarga saya datang. Mereka brilian," tutupnya.



(wdw/up)