Selasa, 31 Jul 2018 11:35 WIB

Alergi Matahari, Gadis Ini Pakai Penutup Kepala Seperti Astronot

Widiya Wiyanti - detikHealth
Caitlin McCabe harus menggunakan pelindung agar tak terpapar sinar matahari. Foto: Facebook/real fix Caitlin McCabe harus menggunakan pelindung agar tak terpapar sinar matahari. Foto: Facebook/real fix
Jakarta - Sinar matahari adalah salah satu sumber vitamin D terbanyak dan salah satu sumber kehidupan bagi banyak makhluk hidup. Tetapi tidak bagi Caitlin McCabe, gadis berusia sembilan tahun asal East Taunton, Massachusetts itu ternyata alergi terhadap sinar matahari.

Kondisi Caitlin cukup jarang terjadi, sekitar satu daru satu juta orang di dunia. Penyakit ini disebabkan adanya kelainan genetik yang disebut Xeroderma Pigmentosum (XP) yang membuat tubuhnya tidak mampu memperbaiki kerusakan DNA yang disebabkan oleh sinar ultraviolet (UV).

Dengan kelainan tersebut, ibunya, Ann-Marie terpaksa memakaikan krim matahari dengan SPF 50 ke anaknya itu setidaknya setiap tiga jam sekali. Caitlin juga harus menggunakan sarung tangan dan penutup kepala sebagai pelindungnya dari sinar matahari.

"Aku benci bola kuning besar di langit," ujar Caitlin dikutip dari Daily Mail.

Jika ia keluar rumah dan terpapar sinar matahari tanpa mengenakan pelindung, kulitnya bisa terbakar dalam hitungan menit.



Tidak jarang orang-orang yang melihat Caitlin mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan, seperti menjulukinya sarang lebah atau bahkan astronot karena pelindung kepalanya seperti helm astronot.

"Ini membuatnya merasa tidak enak karena mengingatkannya bahwa dia tidak seperti setiap anak lain, tetapi pada saat yang sama dia tidak malu untuk bangun dan berkata 'inilah aku'" ungkap Ann-Marie.

Untuk mengurangi Caitlin dari paparan sinar UV, Ann-Marie harus mengganti semua lampu rumah dengan LED (Light Emitting Diode). Karena pada dasarnya, pasien XP bisa 10 ribu kali lebih berisiko mengembangkan kanker kulit jika terpapar sinar UV tanpa perlindungan sama sekali.

Pertama kali Ann-Marie menyadari anaknya itu mengidap XP pada saat berusia satu bulan. Setelah dibawa keluar pada siang hari selama lima menit, dini harinya Caitlin tidak dapat membuka matanya.

Serangkaian pemeriksaan pun dilakukan, hingga biopsi menegaskan bahwa Caitlin mengidap XP pada September 2009, saat ia masih berusia satu tahun.

"Kami telah memberi tahu Caitlin bahwa masa depan menyimpan apa pun yang diinginkannya, asalkan dia tahu cara melindungi dirinya sendiri," tegas Ann-Marie.



(wdw/wdw)
News Feed