Rabu, 12 Sep 2018 18:30 WIB

True Story

Kisah Ratu Kecantikan dari Afsel dan Perjuangannya Melawan Tuberkulosis

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ratu kecantikan Afrika Selatan berjuang melawan tuberkulosis. Foto: YouTube/Miss South Africa Ratu kecantikan Afrika Selatan berjuang melawan tuberkulosis. Foto: YouTube/Miss South Africa
Jakarta - Sejak kecil, Tamaryn Green asal Afrika Selatan mengklaim dirinya adalah gadis yang mandiri dan kuat. Ia mampu menyelesaikan semua hal dan tak ingin merepotkan orang di sekitarnya, dan jika ia mampu, bisa membantu orang lain juga.

Akan tetapi pada 23 Juni 2015 lalu, Tamaryn jatuh sakit. Sakitnya juga bukan sakit biasa, ia terdiagnosis pulmonary tuberculosis (TB). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasi TB sebagai salah satu dari 10 penyakit terbesar penyebab kematian di dunia.

"Aku tahu aku dapat melewatinya, karena begitulah diriku. Aku takkan pernah menyerah, namun kupikir aku tidak akan pernah mengerti betapa benar-benar traumatisnya hal tersebut bagiku karena aku besar sebagai wanita yang sangat kuat. Aku sangat emosional tiap kali menceritakannya," tuturnya, saat berbicara dalam video kampanye TB miliknya.



Pada tahun 2016, WHO mencatat setidaknya 1,7 orang meninggal akibat TB, di mana sebagian besar adalah wanita dan anak-anak. TB disebabkan oleh virus dan sangat menular, terutama lewat udara jika ada seseorang yang mengidapnya batuk dan terhirup oleh orang sekitarnya.

Tujuh negara mencakup 64 persen dari total angka tersebut. India sebagai negara tertinggi, diikuti dengan Indonesia, China, Filipina, Pakistan, Nigeria dan Afrika Selatan. 40 persen kematian akibat TB juga terjadi pada orang yang positif HIV.

Gejala TB umumnya batuk terus-menerus, terbangun di malam hari, demam, turunnya berat badan dan kelenjar getah bening yang membesar. Tamaryn menyebut ia sama sekali tak menunjukkan gejala-gejala tersebut kecuali leher kanannya membengkak akibat kelenjar getah beningnya hingga ia terdiagnosis.

Dua bulan pertama setelah terdiagnosis, Tamaryn tetap melanjutkan pengobatan. Ia juga tetap berangkat kuliah, namun makin lama bengkak di lehernya semakin membesar dan menyulitkannya untuk beraktivitas dan bahkan sekadar menampakkan dirinya.

"(Bengkaknya) tumbuh lebih besar dari bola golf. Membuatku susah untuk bergerak, sehari-harinya tampak sulit. Untungnya saat itu musim dingin sehingga aku bisa memakai syal (untuk menutupi bengkak)," lanjut wanita yang kini berusia 24 tahun.



Sayangnya pada bulan kelima, ia merasa semakin buruk. Ia menjalani tes dan ternyata obat-obatan yang ia konsumsi merusak fungsi livernya. Tamaryn mengaku ia sempat merasa seperti tidak seperti dirinya sendiri, bahkan sampai berhalusinasi, namun itu semua efek dari masalah liver yang ia idap.

Ia merasa penyakitnya sangat ironis, karena ia sedang menempuh studi sebagai mahasiswa kedokteran. Dan ia sangat yakin bahwa karena itu salah satu alasan ia tertular penyakit tersebut karena terekspos dengan kemungkinan paparan penyakit tiap harinya.

Selama proses penyembuhan, Tamaryn menyebut membuatnya sangat trauma. Ia tahu penyakitnya tak hanya mempengaruhinya namun membebani kedua orang tuanya juga. Sempat depresi karena tidak ingin semakin membebani mereka, Tamaryn sempat membenci dirinya sendiri.

"Terlihat kekhawatiran di mata mereka. Mungkin aku merasa kecewa pada diri sendiri, karena aku tak cukup kuat, seperti untuk tidak sakit, tidak bangun di malam hari dan mengganggu orang tuaku. Mereka telah mendukungku terus dan lalu aku sakit dan mereka harus merawatku. Ayahku harus mengantarku tiap kali ada jadwal periksa dengan dokter," ungkap gadis berkulit eksotis ini dengan sedikit terisak.



Kini Tamaryn berhasil melawan penyakitnya tersebut. Ia bahkan baru saja menyabet gelar sebagai Miss South Africa 2018 dan akan berlaga di Miss Universe 2018 di bulan Desember nanti. Berbekal pengalaman pribadinya, ia bertekad membawa kampanye TB ke ajang tersebut untuk menyebarkan kepedulian mengenainya.

Jutaan anak-anak sering mengalami salah diagnosis dan diabaikan akibat gejalanya yang terlalu umum. Tamaryn merasa kini saatnya berbicara mengenai TB dan fakta bahwa penyakit ini dapat disembuhkan namun masih menewaskan jutaan orang tiap harinya.

"Kini aku lebih ringan dan senang membicarakan mengenai kisahku mengidap TB. Bagian terbesar dari kisahku adalah aku masih merasakan stigma akibat aku mengidapnya. Namun TB sendiri tidak mendiskriminasi, ia bisa menjangkit siapa saja."

Aku ingin menyemangati orang-orang di luar sana untuk lebih berani berbicara tentang TB dan bersama kita bisa menghentikan stigma dan diskriminasi tersebut," pungkasnya.




(frp/up)
News Feed