Senin, 17 Sep 2018 09:00 WIB

True Story

Cerita Mereka yang Pernah Hampir Bunuh Diri

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan setidaknya ada 812 kasus bunuh diri terjadi di Indonesia pada tahun 2015. Devan (19) beberapa tahun lalu hampir menjadi salah satunya, namun takdir membawanya ke jalan yang lebih baik.

Sejak usia sangat muda, sekitar kelas 3 SD, Devan telah memiliki pemikiran untuk bunuh diri. Ia mengungkapkan ada banyak masalah dengan lingkungannya saat itu, yang ia sebut sangat kompleks. Hal itu berlanjut hingga ia duduk di bangku kelas 2 SMA di mana dirinya mulai menunjukkan gejala-gejala gangguan jiwa.

"Titiknya di situ. Entah itu depresi, entah itu gangguan anxietas, dan lain-lain. Dan itu menjadi salah satu faktor risiko tertinggi saya untuk memiliki keinginan untuk bunuh diri. Bullying juga pernah ngalamin," tutur Devan kepada detikHealth, saat ditemui di kawasan Serpong, Minggu (16/9/2018).

Bertahun-tahun Devan bergumul dengan diri sendiri, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke psikiater. Keputusan tersebut didorong oleh kawan-kawan dekatnya, sampai ia bisa mencapai titik di mana ia ingin merubah diri jadi lebih baik.


Walau dia mengalami pergulatan dalam diri sendiri akan pemikiran mengakhiri hidup, Devan dikenal sebagai sosok yang baik sehingga banyak teman menjadikannya tempat bercerita. Namun Devan merasa tidak berdaya karena tidak punya kapasitas apapun untuk membantu, ia tidak hanya ingin menjadi sebatas pendengar.

"Kalau dulu teman saya ada yang cerita ingin bunuh diri, bahkan ada yang kelas 6 SD "Kak kayaknya bunuh diri itu enak ya Kak, kayaknya meninggal itu enak ya Kak" dan lain sepertinya. Banyak sekali tiba-tiba aja malem-malem jam 11 gitu ada yang cerita. Saya tidak bisa melakukan apa-apa, saya bukan terapis, saya bukan siapa siapa. saya cuma anak SMA yang sedang belajar, yang sedang mengalami stigma," ujarnya.

Beruntung ia menemukan Komunitas Into The Light Indonesia, sebuah komunitas yang bergerak untuk menyebarkan kepedulian dan informasi tentang pencegahan bunuh diri. Lewat komunitas tersebut selain mendapat ilmu baru untuk membantu orang lain, ia juga mengalami perubahan besar pada dirinya sendiri.

Pria yang kini sudah menjalani perkuliahan mengaku, masih banyak hari-hari di mana pikiran ingin bunuh diri kembali. Akan tetapi kini ia bisa menanganinya. Salah satunya dengan menulis puisi yang ia sebut alat terbaik untuk mengenal diri sendiri.

"Kalau ada yang cerita saya lebih bisa berempati, bisa welas asih sama mereka. Saya jadi tahu arah saya mau ke mana. lebih bisa menghadapi diri saya sendiri, lebih menerima keadaan diri sendiri. Jadi lebih baik lah sama diri sendiri, nggak jahat-jahat."

Walaupun dunia ini tidak menyediakan ruang, menyediakan waktu, menyediakan keadaan yang aman dan nyaman bagi orang orang dengan pemikiran bunuh diri, namun kita bisa menciptakan ruang, hubungan, bagi mereka untuk berbicara dan memanusiakan mereka. Untuk membantu mereka, kita bisa mencegah bunuh diri.Devan


Lain lagi dengan cerita Vira. Wanita ini tak pernah tahu bahwa saat seseorang di sekitarnya melakukan bunuh diri, memiliki dampak yang sangat besar bagi kesehatan jiwanya. Vira kehilangan seorang sahabat dekatnya pada tahun lalu setelah memutuskan mengakhiri hidupnya.

Hanya selang beberapa hari, salah satu idolanya juga melakukan hal yang sama. Yang dirasakan oleh Vira adalah gelombang kekecewaan yang sangat besar. Hingga berujung rasa marah pada diri sendiri.

"Teman macam apa yang membiarkan temannya menderita. Teman macam apa yang tidak bisa melihat temannya membutuhkan. Saya marah mengapa bunuh diri merupakan suatu opsi yang ada di dunia ini. Dan saya ingin tidak ada lagi yang membunuh diri di dunia ini," kata Vira, dengan tersedu-sedu.

Saat ia mengira dirinya baik-baik saja, rupanya tidak. Setelah kehilangan dua orang, secara beruntun ia kehilangan kedua orang tuanya, orang tua sahabatnya dan budhe-nya (kakak dari ayah atau ibu). Suatu hari, emosinya lepas hingga menangis terus-menerus.


Vira lalu menghubungi salah satu rekannya di komunitas paduan suara, meminta untuk dihibur. Namun rekannya tidak segera merespon dengan hiburan, akan tetapi justru mengajaknya berbicara hingga ia merasa lebih baik. Dari tempat ia bekerja juga mengantarkannya ke psikiater untuk konsultasi.

Walau perihal bunuh diri masih tergolong tabu dibicarakan di Indonesia dan jarang terlihat, namun Devan menegaskan bahwa jika kita teredukasi dengan baik akan tanda-tandanya, akan semakin banyak yang mau terbuka akan sangat penting untuk kebaikan bersama.

"Di Indonesia, jarang sekali orang yang memiliki posisi, entah itu guru, entah itu orang tua dan lain-lain yang kurang memberikan support. Walaupun kita itu bukan ahli, kita bukan dokter jiwa, kita bukan psikolog. tapi kita sebagai manusia, walaupun kita tidak bisa membantu langsung masalahnya, kita bisa mendengar mereka," katanya.

"Walaupun dunia ini tidak menyediakan ruang, menyediakan waktu, menyediakan keadaan yang aman dan nyaman bagi orang orang dengan pemikiran bunuh diri, namun kita bisa menciptakan ruang, hubungan, bagi mereka untuk berbicara dan memanusiakan mereka. Untuk membantu mereka, kita bisa mencegah bunuh diri," pungkas Devan.



Saksikan juga video 'Kate Spade Sudah Lama Berjuang Lawan Depresi':

[Gambas:Video 20detik]

(frp/up)
News Feed