Jumat, 28 Sep 2018 08:45 WIB

True Story

Inspiratif! Olahraga Membuat Wanita Buta dan Tuli Ini Semangat Hidup

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Salah satu penyebab kebutaan adalah retinitis pigmentosa (Foto: iStock)
Jakarta - Rebecca Alexander masih berusia 12 tahun saat ia mulai mengeluh kesulitan melihat papan tulis di kelas. Orang tuanya membawanya ke dokter, dan ia divonis akan benar-benar kehilangan penglihatannya ketika ia dewasa nanti.

Rebecca terdiagnosis penyakit bernama retinitis pigmentosa (RP), sebuah gangguan genetik mata yang menyebabkan kesulitan penglihatan. Akan tetapi, saat itu Rebecca mengabaikannya dan tetap menjalani hidup seperti biasa, tak menduga akan sangat kesulitan akibat jadi buta di usia 30 tahun.

"Sangat tak mungkin bagi anak usia 12 tahun untuk benar-benar memahami apa artinya akan kehilangan penglihatan," tuturnya, dikutip dari Shape.

Beberapa tahun kemudian, ia perlahan juga mengalami kesulitan pendengaran yang membuat ia mengenakan alat bantu dengar ketika duduk di bangku SMA. Karena itu ia mengalami krisis percaya diri, dan jika ia tidak berusaha sekeras mungkin untuk terlihat 'sempurna' dalam segala aspek, orang-orang di sekitarnya akan mulai merasa ada yang 'salah' dengannya, dan ia tak menginginkan itu.



Suatu hari, sepulang dari pesta di kampusnya, ia terbangun di malam hari dan hendak menuju kamar mandinya. Namun yang terjadi adalah ia justru melangkah keluar dari jendela kamarnya dan jatuh setinggi 8 meter ke teras batu di bawahnya.

"Nyaris semua tulang di tubuhku remuk. Aku harus berada di rumah sakit selama sebulan. Kaki kiri dan sebagian lengan kiriku hancur; tangan kanan dan punggungku retak. Alhasil aku harus duduk di kursi roda selama empat bulan, mengalami pembedahan berkali-kali, dan merehabilitasi tubuhku secara total," lanjutnya.

Dokter menyebutkan ia tidak akan bisa berjalan dengan normal lagi. Membuatnya baik secara fisik maupun emosional sangat hancur. Tak hanya akan jadi buta, nyaris tuli, ia juga akan harus mengalami sakit seumur hidupnya.

Masih belum lagi pulih, suatu hari ia terbangun dengan suara melengking di telinganya. Rupanya, ia terdiagnosis sindrom Usher tipe 3A, gangguan yang lebih langka lagi yang menyebabkan kehilangan pendengaran dan penglihatan secara bertahap.

Rebecca merasa kepayahan, tak lagi mampu mengontrol hidupnya sendiri. Bahkan ia sampai mengalami gangguan makan dan berolahraga berlebihan. Hingga ketika ia lulus kuliah, ia memaksakan diri mengikuti rehabilitasi bagi gangguan makan.



Sejak rehabilitas, Rebecca mulai berolahraga dan makan secara sehat untuk menjaga badannya. Lambat laun, ia semakin menggemarinya bahkan akhirnya menjadi passion di mana ia mendapatkan sertifikasi untuk menjadi instruktur di sebuah pusat kebugaran.

Olahraga favoritnya adalah CrossFit dan High-intensity Intensive Training (HIIT) atau latihan interval intensitas tinggi. Ketika ia semakin percaya diri akan kemampuan tubuhnya, ia mencoba yang lebih ekstrem seperti 8 kombinasi latihan militer sipil, mendaki gunung Kilimanjaro, dan berenang dari penjara Alcatraz hingga pinggir pantai.

"Hal-hal tersebut merupakan syarat untuk tetap mampu muncul, terutama ketika kamu tak punya dua dari indera tubuh. Nikmatilah momen dan fokus agar aku teringat apa yang aku bisa, apa yang mampu kulakukan."

Kini Rebecca benar-benar tak lagi mampu melihat ataupun mendengar. Namun ia memperkuat dirinya sendiri dengan membuat fisiknya lebih aktif. Agar tak mudah cedera, dan juga ia menyadari bahwa makan makanan sehat baik untuk matanya. Ia merasa lebih baik dari orang yang masih lengkap semua indera tubuhnya.

"Banyak orang yang berpikir bahwa hidup hanya mengejar kebahagiaan. Tapi apa yang kupelajari dari pengalamanku adalah hidup itu menderita dan jika kita mampu untuk menemukan kenyamanan di antara ketidaknyamanan dari itu, kita sudah melakukan hal yang benar," tandasnya.

(frp/up)