Selasa, 09 Okt 2018 19:27 WIB

Cerita Inspiratif Dua Wanita Melawan Kanker Tiroid di Usia Muda

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Penyintas kanker tiroid Ami Astriani. Foto: Frieda Isyana Putri Penyintas kanker tiroid Ami Astriani. Foto: Frieda Isyana Putri
Jakarta - Berasal dari keluarga dengan sejarah kanker membuat Astrid (40) sangat mengerti akan risiko yang mungkin akan dihadapinya suatu hari. Sebelum terdiagnosis kanker tiroid di usia 28 tahun, Astrid dikenal sebagai pribadi yang riang dan sangat aktif.

"Banyak yang bilang stres dan depresi jadi gejala kanker (tiroid), tapi saya justru stres setelah terdiagnosis. Sebelum ini saya orangnya happy banget," kata ibu dua anak ini kepada detikHealth saat ditemui di kawasan Fatmawati, Selasa (9/10/2018).

Ia mengisahkan saat itu ia baru saja melahirkan anak pertamanya, dan menyadari ada benjolan di lehernya. Sempat mengabaikan, ia lalu merasakan gejala-gejala seperti merasa semakin mudah lelah, bahkan kesusahan menelan hingga saat minum airnya bahkan malah keluar dari hidung.

Penyintas kanker tiroid AstridPenyintas kanker tiroid Astrid. Foto: Frieda Isyana Putri


Astrid memberanikan diri untuk memeriksakan diri ke dokter dan hasilnya ia positif terdiagnosis kanker tiroid. Sayangnya, saat itu yang menanganinya adalah dokter umum yang bukan ahli dalam menangani kanker.

"Saya salah banget. Saat itu om saya yang kebetulan adalah seorang dokter onkolog tahu hasilnya nggak optimal, sebulan kemudian saya ke Bandung, dioperasi dan ternyata udah terjadi perlengketan di mana-mana," lanjutnya.

Setelah jalani operasi pengangkatan kedua kelenjar tiroidnya, Astrid juga sempat alami dua kali gagal melakukan ablasi, sebuah prosedur terapi target menggunakan nuklir untuk membersihkan sisa-sisa kanker. Obat pengganti hormon yang ia minum tidak dapat membantu kondisi tubuhnya untuk mencapai persyaratan minimal melakukan prosedur tersebut.

Akhirnya ia memutuskan mencari obatnya hingga ke Singapura dan berhasil menjalani ablasi. Pada 2015, Astrid bahkan berhasil melahirkan anak keduanya dengan normal, walau saat kehamilan beberapa kali ia menyebut masuk rumah sakit akibat kondisi tubuhnya memburuk.


Kanker tiroid umumnya berisiko tinggi pada orang berusia di atas 45 tahun, namun rupanya kini semakin banyak ditemukan pada usia muda. Selain Astrid yang terdiagnosis pada usia 28 tahun, Ami Astarini (24) juga menjadi warrior kanker tiroid yang terdiagnosis pada usia remaja, yakni 19 tahun.

Wanita yang baru saja menuntaskan pendidikannya di Thailand ini mulai merasakan benjolan di leher kanannya sejak awal masuk kuliah. Saat itu Ami, sapaannya, hanya bercerita pada ibunya bahwa ia merasakan ada benjolan dan tidak sakit ataupun membesar, ditambah siklus menstruasinya sempat berantakan.

Penyintas kanker tiroid Ami Astriani.Penyintas kanker tiroid Ami Astriani. Foto: Frieda Isyana Putri


Dua tahun setelahnya ia kembali ke Indonesia dalam rangka magang, ia memeriksakan benjolan di lehernya yang tak kunjung hilang ke dokter. Setelah menjalani biopsi hingga ke tiga dokter berbeda, hasilnya ia terdiagnosis kanker tiroid dan sudah menjalar ke kelenjar getah bening.

"Akhirnya dioperasi, diambil tiroid yang sebelah kanan dan kiri sama sekalian kelenjar getah beningnya. Ini makanya kalau orang-orang abis operasi tiroid cuma bekas luka di depan (leher) saja, tapi aku sampe ke belakang dan ke atas," kisahnya kepada detikHealth.



Ami mengaku bekas luka tersebut masih membuatnya kurang percaya diri. Efek lainnya adalah membuat wajah sebelah kanannya menjadi lebih besar dan membuat tubuhnya menjadi lebih cepat lelah dan mudah lupa.

Dukungan penuh dari keluarga membuat baik Ami dan Astrid tidak pernah menyerah melawan penyakit mereka. Terdiagnosis kanker tiroid yang membuat mereka harus mengonsumsi obat seumur hidup untuk membuat mereka tetap 'hidup', bukanlah akhir dari segalanya.

Bekas luka operasi kanker tiroid Ami Astriani.Bekas luka operasi kanker tiroid Ami Astriani. Foto: Frieda Isyana Putri


"Kanker tiroid ini bukan suatu keterbatasan ya. Kalau saya sendiri, saya nggak tahu kalau orang lain ya, saya ngerasanya memang setelah dua tahun rasanya biasa saja. Bedanya ya cuma kalau ngaca sekarang ada bekas lukanya. Dan lucunya lagi, setelah ablasi terakhir kemarin, malah saya nggak merasa sakit-sakit lagi," kata Ami diikuti gelak tawa riang.

Astrid berpesan bagi pria maupun wanita untuk lebih memedulikan tubuh mereka. Apabila menemukan yang tak biasa atau aneh di tubuh, segera periksakan ke dokter.

"Lebih aware sama diri sendiri. Jangan anggap enteng, dan juga periksakan pada dokter yang tepat. Jangan kayak saya, hehehe.." tandas Astrid.





Tonton juga 'Silent Killer itu Bernama Kanker Leher':

[Gambas:Video 20detik]

(frp/up)
News Feed