Selasa, 16 Okt 2018 13:10 WIB

True Story

Ada Benjolan Saat Mandi, Tak Disangka Yanthi Kena Kanker Payudara

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Kisah Aryanthi diharap dapat menginspirasi wanita menghadapi kanker payudara. (Foto: 20detik) Kisah Aryanthi diharap dapat menginspirasi wanita menghadapi kanker payudara. (Foto: 20detik)
Jakarta - Menjadi seorang wanita yang cukup teredukasi soal deteksi dini dan periksa kesehatan, Aryanthi Baramuli Putri (54) mengaku terkejut saat dirinya didiagnosis terkena kanker payudara pada tahun 2002 lalu. Ditambah lagi, dia juga merupakan wanita yang bergaya hidup sehat dan bahkan aktif dalam berolahraga.

"Saat itu saya belum 37 tahun. Jadi periksa payudara sendiri (SADARI) saat mandi lalu ada benjolan kecil sekali teraba, tapi teman saya bilang 'Ah nggak apa-apa'" tuturnya, saat berbincang dengan detikHealth, baru-baru ini.

Dua tahun sebelum terdiagnosis, Yanthi telah menjalani USG payudara dan mendapatkan hasil negatif. Usai melakukan SADARI, ia segera memeriksakan diri ke dokter dan kembali melakukan USG dan juga mammografi. Hasil tes keluar, ia positif terdiagnosis kanker payudara HER-2 positif.

Walau Yanthi terbilang cukup beruntung karena terdiagnosis di stadium awal, pada saat itu informasi mengenai kanker masih sangat terbatas. Ia panik karena tidak tahu harus ke mana untuk mengobati dan mendapatkan perawatan. Merasa putus asa dan pasrah, ia sempat merasa tidak ingin berobat dan menyerah saja.



"Kalau sudah waktunya ya sudah lah saya ikhlas. Tapi Ayah saya tuh marah, walau memang orang tua saya lebih down dari saya saat tahu diagnosis tersebut. Ayah saya bilang 'Nggak boleh gitu. Kalau dikasih cobaan tuh harus berjuang, Nak. Masa dikasih cobaan mau nyerah. Berdosa kalau kita dikasih cobaan nggak berjuang' Saya pikir saat itu, betul juga. Saya harus jalani, lebih terbukalah diri saya, lebih dekat sama Allah dan juga lebih ingin banyak berbuat," katanya.

Lewat bertanya-tanya pada dokter, ia akhirnya mendapat informasi bahwa ia harus melakukan operasi. Pada awalnya ia melakukan prosedur breast conserving surgery, yaitu pengangkatan sel kanker dan jaringan sekitarnya dengan tetap berupaya mempertahankan penampilan asli payudara. Rupanya, kanker tersebut sudah menyebar ke kelenjar getah bening di bawah ketiaknya yang mengharuskan ia menjalani operasi pengangkatan payudara.

"Saya pikir saat itu selesai operasi, ya sudah selesai. Ternyata masih ada kelanjutannya lagi, harus kemo. Apa lagi ini kemo kan nggak ngerti waktu itu tuh apa. Bener-bener nggak paham tentang itu. Usai operasi saya bilang ke dokter saya nggak mau langsung kemo dulu boleh nggak, saya mau bicara dulu sama anak saya," lanjutnya.

Menjadi seorang ibu tunggal pada saat itu, Yanthi tak kuasa harus memberitahu anaknya bahwa ia terkena kanker. Ia merasa sangat sedih membayangkan apabila dirinya bernasib buruk, bagaimana juga nasib anak-anaknya nanti. Berminggu-minggu ia mengumpulkan kekuatan untuk memberitahu anak lelaki sulungnya yang saat itu berusia sembilan tahun.

"Satu malam mau tidur, saya bilang ke anak saya 'Kak, mama kena kanker' dia bilang 'Kanker, Ma? Nggak apa-apa, Ma, nanti Mama diobatin terus Mama botak' hahaha.. Jadi ternyata anak anak udah teredukasi, mungkin dari sekolah ya. Setelah itu saya meledak nangis, sampai sekarang kalau inget masih sedih," kenangnya dengan mata agak berkaca-kaca.



Ketika menjalani kemoterapi, ia bertemu dengan rekan seperjuangan, Yuniko Deviana. Saat itu Yuniko juga sedang kebingungan mencari informasi. Berbekal pengalaman ketidaktahuan mereka berdua, mereka membentuk sebuah organisasi nirlaba bernama Cancer Information and Support Centre (CISC) pada 30 April 2003.

CISC berfokus pada pemberian informasi dan support atau dukungan pada baik pasien maupun keluarga pasien kanker apapun. Informasi mulai dari apa saja gejalanya, bagaimana pengobatannya, bagaimana menghadapinya secara mental dan spiritual, serta bagaimana menghadapi dokter di rumah sakit dan perawat.

Tidak mudah membentuk dan mempertahankan sebuah organisasi di mana sekaligus menjalani kemoterapi yang sendirinya sudah sangat berat. Namun Yanthi merasa terus tertantang, dia ingin menyebarkan kepedulian dan edukasi soal kanker kepada masyarakat Indonesia.

Penyebab dari kanker apapun termasuk kanker payudara memang belum diketahui hingga kini. Yanthi sendiri beranggapan mungkin faktor risiko kelelahan akibat bekerja mengurusi bisnis keluarganya dan kurangnya tidur juga bisa menjadi pemicu kanker yang ia idap selama lebih dari 15 tahun ini. Ia berpesan kepada para wanita dan juga pria untuk lebih peduli terhadap tubuh mereka dan lakukan deteksi dini, di mana dalam pengalamannya deteksi dini lah yang menyelamatkan dirinya.

"Jika ada benjolan, serahkan kepada ahlinya. Jangan kita bilang nggak papa, tidak semudah itu untuk mengetahui apakah itu kanker atau bukan. Ada standar dan prosedur yang harus dijalani," tutupnya.



[Gambas:Video 20detik]

(frp/fds)
News Feed