Rabu, 17 Okt 2018 07:23 WIB

True Story

Lelah Obati Kanker Payudara, Wielly Sempat Menutup Diri

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Tak menyangka, Wiely mengidap kanker payudara. Foto: dok. pribadi Wielly Wahyudin Tak menyangka, Wiely mengidap kanker payudara. Foto: dok. pribadi Wielly Wahyudin
Jakarta - Tak banyak pria yang tahu bahwa mereka juga berisiko terkena kanker payudara. Wielly Wahyudin, pria yang sehari-harinya menghabiskan waktu di atas kapal pesiar ini tak pernah menyangka akan terkena kanker payudara, suatu penyakit yang hanya ia ketahui sebagai penyakit pada wanita.

"Waktu itu sama sekali tidak ada pikiran bahwa kanker payudara bisa menyerang ke pria. Karena menurut penjelasan dokter, perbandingannya 1000 banding 1. Jadi sangat jarang kanker payudara terjadi kepada pria dibandingkan wanita," tutur Wielly, sapaannya, saat berbincang dengan detikHealth, Selasa (16/10/2018).

Awalnya, ia mengisahkan, ia sedang bertugas di salah satu kapal pesiar. Wielly yang bekerja sebagai Chief Purser di perusahaan Holland America Line sedang bertandang ke Hong Kong pada pertengahan April 2013. Setibanya di sana, dada sebelah kanannya terbentur tiang saat menaiki kereta.

Sejak saat itu, Wielly menyadari ada benjolan kecil seukuran setengah kuku jari kelingking di payudaranya yang ia kira hanya jerawat batu. Namun lama kelamaan benjolannya semakin besar dan terasa nyeri, yang akhirnya ia periksakan ke dokter yang bertugas di kapal.

Waktu divonis terkena kanker, itu benar-benar rasanya lemes banget, udah terbayang kematian di depan mata. Jadi pertanyaan yang keluar dari mulut aku ke dokter, berapa lama lagi aku bisa hidup?Wielly Wahyudin, pejuang kanker payudara

Ketika itu, kapal pesiar tempatnya bekerja sedang mencapai perairan Alaska. Sehingga oleh dokter, Wielly yang saat itu masih berusia 37 tahun dirujuk untuk melakukan USG di salah satu rumah sakit di Vancouver, Kanada.

Hasilnya menunjukkan benjolan tersebut berwujud padat dan disarankan untuk melakukan biopsi. Namun hasil biopsi yang ia terima sempat ditahan selama tiga minggu oleh dokter yang menanganinya di kapal.

Rupa-rupanya, sang dokter memang sengaja menyembunyikan hasil biopsi dengan maksud agar Wielly tidak semakin stres yang bisa memperburuk kondisinya. Sebab hasil biopsi menunjukkan bahwa ia divonis kanker payudara stadium tiga.

"Waktu divonis terkena kanker, itu benar-benar rasanya lemes banget, udah terbayang kematian di depan mata. Jadi pertanyaan yang keluar dari mulut aku ke dokter, berapa lama lagi aku bisa hidup?"

Saat itu dokter hanya bisa menyarankan untuk fokus menjalani semua pengobatan tanpa perlu memikirkan pertanyaannya tersebut. Benjolan di payudaranya juga semakin membesar, lebih dari bola pingpong dan putingnya juga semakin melesak ke dalam.

Usai divonis, Wielly menelepon keluarganya di Indonesia untuk mengabari, namun ia hanya bisa menangis saat itu. Akhirnya istrinya meminta pulang untuk menjalani pengobatan di Indonesia saja, yang ia turuti.

Wielly harus menjalani operasi pengangkatan payudara di Indonesia akibat kankernya sudah menyebar ke kelenjar getah bening di bawah ketiak. Ia juga menceritakan prosesnya menjalani kemoterapi yang sungguh menyiksa.

Rambut rontok, nafsu makan berubah, sering mual dan muntah, hingga efek bisul di beberspa bagian tubuh jadi makanan sehari-harinya. Parahnya lagi, ia hanya bisa memakan jajanan klanting asal Purwokerto, bahkan mencium bau nasi saja membuatnya muntah.



Selama 16 kali prosedur kemoterapi ia lakukan, sebelum menjalani pengobatan Herceptine karena jenis kankernya adalah kanker HER-2 positif, lanjut dengan proses radiasi sebanyak 23 kali hingga kulitnya hitam dan melepuh.

Proses tersebut berdampak luar biasa bagi mentalnya. Ia sempat terpikir tak lagi sanggup menyelesaikan pengobatan karena semakin hari badannya justru melemah. Tak ada tenaga, tak boleh dekat dengan anak usai kemoterapi, membuatnya mengisolasi diri.

"Akhirnya pas ulang tahun di bulan Desember 2013, aku mulai berpikir bahwa aku harus bangkit dari kondisi yang ada waktu itu. Aku harus bisa survive bertahan untuk hidup, buat keluarga, buat anak. Karena mereka tidak henti-hentinya tetap men-support walaupun aku sempat mengisolasikan diri," ungkap Wielly.

Wielly pun mengubah mindsetnya tentang kemo dengan menganggapnya bahwa obat tersebut hanyalah jus buah. Hasilnya ternyata membawa efek luar biasa pula, ia sanggup menjalani seluruh rangkaian pengobatan meski masih kepayahan melawan efek sampingnya.

Pada tahun 2015, ia dinyatakan sehat dan dipercayakan untuk kembali bertugas di kapal pesiar hingga kini. Ia juga bergabung dengan komunitas Cancer Information and Suppor Centre (CISC), khususnya menyemangati para pejuang kanker yang sedang melalui masa kemoterapi.

Keluarga Wielly memang sama sekali tidak ada riwayat kanker apapun, namun ia mengaku pola hidupnya sebelum terdiagnosis sangat tidak sehat. Sering mengonsumsi junk food dan soda, merokok, dan kerap stres akibat pekerjaan.

Kini berusia 41 tahun, Wielly sesekali masih merasakan nyeri di bagian dada dan tangan kanannya. Walau memang sedikit mengganggu, namun ia bersyukur pekerjaannya lebih banyak duduk.

"Kalo zaman NOW buat para pria harus CERDIK: Cek rutin kesehatan, Enyahkan asap rokok, Rajin olah raga, Diet yg seimbang, Istirahat yang cukup, Kelola stress," tandasnya, diikuti dengan senyum.





Tonton juga 'Kisah Inspiratif Tentang Kelumpuhan Habibie dan Kasih Sayang Ibunda':

[Gambas:Video 20detik]

(frp/up)
News Feed