Senin, 22 Okt 2018 07:05 WIB

True Story

Perjuangan Berat Ibu yang Harus 'Move On' Saat Ketahui Punya Anak Autis

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Menjadi orang tua anak dengan autisme, harus bisa menerima kondisi tersebut. (Foto: Dang Koe/dok. pribadi) Menjadi orang tua anak dengan autisme, harus bisa menerima kondisi tersebut. (Foto: Dang Koe/dok. pribadi)
Jakarta - Hidup menjadi seorang ibu dari anak penyandang autisme tidak bisa dipandang sebelah mata. Perjuangan keras mereka patut diacungi jempol, seperti kisah haru Dang Uy Koe dari Filipina.

Gio, anak sulung Dang lahir pada tahun 1994. Pada saat itu di Filipina masih santer mitos-mitos dan ungkapan tak menyenangkan seputar autisme dan juga orang tua mereka. Gio yang terlahir dengan kondisi autis tak lepas dari hal-hal tersebut.

"Orang-orang bilang itu kutukan. Karma. Aku telah melakukan hal yang sangat buruk sehingga Tuhan menghukumku. Tak ada pilihan lain bagiku selain 'move on'. Selama beberapa bulan aku menangis bersama suamiku, kita bertanya pada Tuhan "salah apa kami? apakah kami melakukan dosa besar?'" kisah Dang, saat berbincang dengan detikHealth di kawasan Kuningan, baru-baru ini.

Ketika menjadi orang tua dari seorang anak autis, hal pertama yang harus dilakukan saat ingin 'move on' adalah acceptance (penerimaan). Karena para orang tua, saat pertama kali mereka tahu mereka akan berada dalam kondisi denial (penolakan), dan sedih berlarut-larut. "Kayak kamu akhirnya punya anak setelah menunggu lama tapi ternyata dia mengidap autisme, umumnya kita mengharapkan anak yang normal," imbuh Dang.



Dengan sedikit berlinang air mata, Dang menceritakan ia kemudian berusaha mencari orang atau tempat yang tepat untuk membantunya. Saat itu ia menemukan Autism Society Philippines, sebuah support group berbasis kekeluargaan, di mana mereka melakukan pertemuan, saling berbagi dan menguatkan, dan juga melakukan advokasi.

Ketika ia bergabung, usia Gio berusia 3,5 tahun. Di dalam support group, Dang menerima konseling, banyak yang meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sendirian. Dan akhirnya membuatnya menerima, namun belum selesai sampai di situ.

Langkah selanjutnya bagi Dang untuk 'move on' adalah beraksi. Dalam hal ini ia harus menemukan intervensi yang tepat bagi anak, seperti sekolah dan guru serta terapi dan dokter yang tepat. Usai aksi, Dang melakukan advokasi untuk membantu para ibu dari anak-anak autis yang lain.

"Dalam kasusku, aku sangat beruntung suamiku yang menerima Gio seperti apapun dia. Aku juga sangat beruntung memiliki keluarga yang juga sama menerima dia. Namun hal tersebut tidak terjadi pada semua ibu. Biasanya para ibu harus mengurusi anaknya yang autis, belum lagi kalau tantrum, tapi pada saat yang sama, dia juga harus berurusan dengan keluarganya yang belum tentu paham atau bahkan menerima," kata ibu dari tiga anak laki-laki ini.

Lewat advokasi tersebut ia juga menyebarkan kepedulian, agar masyarakat saat melihat orang tua di mana anak autisnya mulai tantrum, bukan berarti sang anak manja atau mereka tak tahu bagaimana cara menangani anaknya. Dua tahun berturut-turut kemudian, kedua adik laki-laki Gio lahir dan Dang diangkat menjadi ketua dari Autism Society Philippines.

Anak kedua dan ketiga Dang lahir tanpa gejala autisme. Sejak awal ia telah memberikan pemahaman soal dunia anak berkebutuhan khusus pada mereka. Seperti memasukkan mereka ke sister school atau sekolah mitra dari sekolah sang kakak.



Ada sebuah cerita di mana saat anak bungsunya saat itu sedang berusia 11 tahun, gurunya di sekolah tiba-tiba becanda soal 'jangan tertawa keras di tempat umum ya, atau nanti orang-orang akan mengiramu anak autis'. Sang anak lalu menjawab dengan tegas bahwa hal itu menyinggungnya sebagai adik dari seorang penyandang autisme.

"Lalu dia menjelaskan singkat soal autis dan bagaimana hal tersebut berbeda dengan orang-orang lain. Yang terpenting saat itu, sang guru langsung meminta maaf. Jadi autisme dibahas di rumah kami, kadang mereka ikut aku ke acara-acara seputar autisme, mereka jadi memahaminya," ujar Dang.

Yang terakhir dari proses 'move on' Dang adalah menghargai. Autisme bukan hanya soal amal, katanya, namun mereka juga manusia pada umumnya yang memiliki bakat dan kemampuan yang bisa kita hargai kontribusinya.

Kini ketiga anaknya telah dewasa dan Dang pun berhasil 'move on'. Tahun lalu, ia didapuk menjadi ketua dari Asean Autism Network (AAN) dan berkeliling negara-negara Asia Tenggara untuk menyebarkan kepedulian yang masih menjadi bentuk dari advokasinya.

Ia juga turut serta menjadi penyelenggara ASEAN Autism Games 2018 yang dihelat di Indonesia pada 20-21 Oktober 2018 ini, sebuah ajang kompetisi persahabatan dalam olahraga yang diikuti nyaris 200 penyandang autisme dari seluruh negara Asia Tenggara. Sang anak sulung yang akan berusia 25 tahun di bulan Januari nanti, ikut bertanding dalam olahraga lari.

Dang menjadi penyelenggara ASEAN Autism Games 2018.Dang menjadi penyelenggara ASEAN Autism Games 2018. Foto: Dang Koe/dok. pribadi


"ASEAN Autism Games akan memperlihatkan kepada semua orang bahwa orang autisme mampu berkompetisi dalam bidang olahraga. Dengan support dari keluarga dan komunitas. Semoga lebih bisa menghargai mereka," pungkas Dang, diikuti senyum.

(frp/up)
News Feed