Minggu, 18 Nov 2018 08:23 WIB

True Story

Perjuangan Rahmi Merawat Anak yang Terdiagnosis Kanker di Usia 9 Bulan

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Foto: Aisyah Kamaliah/detikHealth Foto: Aisyah Kamaliah/detikHealth
Jakarta - Rahmi Adi Putra Tahir kembali mengingat perjuangannya di tahun 1990, ketika anaknya Saprita Tahir terdiagnosis kanker di usianya yang baru 9 bulan. Bayangkan saja, bayi yang masih mungil tersebut harus mengalami sesak napas yang tanpa disangka menjadi pertanda acute lymphoblastic leukaemia (ALL).

"Saya bawa ke dokter terus dokternya tuh cepat tanggap banget 'apa ini? Kok sesek napas tapi enggak pakai panas?'. Dia (dokter) 'mengharapkannya' pneumonia tapi di rongent, parunya dan jantungnya ketutupan massa kayak kabut. Terus langsung dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo ternyata itu ada blast cell," ujarnya kepada detikHealth.

Ia masih ingat betul, dua hari setelah diagnosis, ia langsung membawa Saprita pergi ke Belanda untuk melakukan pengobatan atas rekomendasi dokter yang menangani sang buah hati di Jakarta.

"Kita langsung ke Amsterdam, hari Senin malam berangkat, Selasa pagi nyampe, Selasa sorenya langsung dikemoterapi. Memang harus cepet. Sudah berapa kali kemo, sudah clear," tuturnya.



"Dokter bilang chancenya katanya 50:50, mikirnya sudah apa saja dikerjakan. Take it or leave it. Kita ambil chance-lah, ternyata Alhamdulilah makin lama massanya hilang," tambah Rahmi.

Selama menjalani pengobatan dosis tinggi di Belanda selama empat setengah bulan, Saprita akhirnya dibawa kembali ke Jakarta dengan tetap melakukan maintenance. Namun tidak sampai disitu, ia tetap harus menahan pilu melihat si kecil yang menangis. Mungkin takut. Entahlah. Yang pasti, pengalaman tersebut sangat menyakitkan baginya.

"Tiap tiga bulan harus lumbalpunktion, diambil cairan. Jarumnya panjang. Sekarang sih bisa senyum-senyum ceritanya, dulu sih bisa diare seminggu kalau mau diadakan. Itu yang paling berat, anak itu terus nangis sambil saya susui, ayat kursi sudah terus-terusan tiap hari," katanya sambil mengingat-ingat.

Setelah setahun, Saprita akhirnya berhasil dinyatakan remisi, kemudian secara bertahap melakukan pemeriksaan darah untuk memastikan sel kankernya tidak kembali. Kini, Saprita telah tumbuh dewasa dan menjadi ketua dari salah satu kelompok survivor kanker di Indonesia, Cancer Buster Community.



"Sembuh di dalam kanker itu harus hati-hati. Begitulah ceritanya. Ceritanya sih gampang, tapi begitu mengalaminya?" ujarnya sambil tersenyum.

"Lemes banget, tapi harus bertekad, kalau kita enggak kuat ya kasian anaknya," tandasnya.

Berbekal dari rasa syukurnya, Rahmi bersama wanita lainnya (Zanty R. Kurnia, Aries Sudjoko Muljo, Ir. Retno R. Soepardji, Kartika B. Purwanto, Lastri Krisnarto, Christina A. Priadi, Grombyang O. Faisal, dan Ira Soelistyo) yang juga mengalami pengalaman berjuang melawan kanker anak-anaknya mendirikan yayasan yang bergerak dibidang kanker anak. Yayasan tersebut dinamakan Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI). Rahmi ditunjuk sebagai ketua dari yayasan tersebut yang kini sudah berdiri lebih dari 25 tahun.



Simak Juga 'Tak Hanya Wanita, Pria Dianjurkan Vaksinasi Cegah Kanker Serviks':

[Gambas:Video 20detik]


(ask/fds)
News Feed