Minggu, 16 Des 2018 17:15 WIB

Penyintas Kanker Paru Sutopo PN: Kankerku Jangan Sakiti Aku

Rosmha Widiyani - detikHealth
Kisah Sutopo Purwo Nugroho melawan kanker bisa jadi inspirasi. (Foto: Roshma Widiyani/detikHealth) Kisah Sutopo Purwo Nugroho melawan kanker bisa jadi inspirasi. (Foto: Roshma Widiyani/detikHealth)
Jakarta - Setahun menjalani pengobatan, penyintas kanker paru Sutopo Purwo Nugroho mulai mengetahui karakter penyakitnya. Sel kanker stadium IV yang bersarang di tubuhnya ternyata senang diajak ngobrol. Tak heran bila Sutopo kerap mengajak ngobrol sel kankernya, terutama saat rasa sakit menyerang.

"Saya selalu bilang, kankerku jangan sakiti aku. Kita sama-sama makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Silahkan tetap ada di dalam tubuhku, mungkin kamu memang ditugasi supaya aku selalu ingat beribadah, mendekatkan diri padaNya, dan mengurangi dosa. Aku berterima kasih sudah diingatkan, tapi tolong jangan sakiti saya. Tetap di situ saja dan jangan menyebar," kata Sutopo yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada detikHealth.

Menurut Sutopo, rasa sakit yang mendera tubuhnya bisa hilang usai ngobrol dengan sel kanker. Metode yang sama digunakan Sutopo saat tak bisa tidur semalam hingga pukul tiga dini hari. Ngobrol sejauh ini lebih efektif mengatasi sakit dibanding marah atau mengeluh sepanjang waktu. Bukannya meringankan, berlaku atau berpikiran buruk justu mengintensifkan rasa sakit.

Seiring proses pengobatan, rasa sakit dan sel kanker ternyata terus menggerogoti kesehatan Sutopo. Sel kanker yang telah menyebar hingga ke tulang menyebabkan Sutopo kerap merasa ngilu, tak bisa berdiri tegak, dan jalan dengan posisi cenderung miring kiri. Meski begitu, Sutopo telah siap menjalani periode pengobatan medis selanjutnya. Hingga saat ini, Sutopo telah menjalani 6 kemoterapi, 34 radiasi, beberapa kali CT Scan, dan tes lain untuk mengetahui kondisi kesehatan tulangnya.

"Rasa sakit ini yang bikin nggak enak. Tulang rasanya seperti dikerok dengan ujung paku dan dikasih api. Saya sebetulnya pakai korset untuk menjaga postur tubuh tapi saya tinggal di mobil. Untuk mengatasi rasa sakit, dokter sudah meresepkan obat tapi sudah dua hari ini tidak saya minum. Mungkin saya sudah harus naik dosis, tapi efek sampingnya tidak nyaman misal tidak bisa buang air besar," ujar Sutopo yang memperoleh penghargaan sebagai Inspirator Terbaik 2018 dari Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI).

Sutopo saat menerima penghargaan dari PDPI.Sutopo saat menerima penghargaan dari PDPI. Foto: Roshma Widiyani/detikHealth




Selain merasa ngilu, Sutopo juga mengalami penurunan berat badan hingga 20 kilogram. Saat ini bobot Sutopo hanya 68 kilogram dari yang sebelumnya 88 kilogram. Rasa mual usai kemoterapi dan efek pengobatan lain telah sukses mencuri selera makannya. Menurut Sutopo, sebab lain penurunan drastis berat badannya adalah banyaknya pantangan yang harus ditaati demi kemajuan proses pengobatan. Misal tidak makan daging merah, yang proses pengolahannya berisiko menghasilkan senyawa yang memicu pertumbuhan sel kanker (karsinogenik).

Meski merasa tidak nyaman, mual, dan ngilu, Sutopo berniat menjalani proses pengobatan dengan sebaik-baiknya. Sutopo juga berniat terus menjalankan aktivitasnya sehari-hari sebagai abdi negara, serta memberi semangat pada penyintas kanker lainnya. Sutopo bukannya tidak taat pada saran dokter untuk banyak istirahat demi pemulihan kondisi tubuh. Namun, padatnya aktivitas membantu Sutopo tidak stres menghadapi proses pengobatan dan penurunan kondisi kesehatannya.

Selain itu, Sutopo berpendapat hidup terlalu berharga jika harus dilewatkan hanya dengan rasa sedih dan marah. Hidup akan terasa lebih bermakna jika bisa memberi banyak manfaat bagi orang-orang di lingkungan sekitar. Karya terbaik hanya bisa diberikan bila menjalani episode kehidupan saat ini dengan rasa ikhlas dan berusaha yang terbaik.

(up/up)
News Feed