Selasa, 15 Jan 2019 08:30 WIB

Tak Punya Tengkorak, Bayi Ini Cuma Bisa Hidup 7 Hari Usai Lahir

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ilustrasi bayi. (Foto: iStock) Ilustrasi bayi. (Foto: iStock)
Jakarta - Seakan sudah suratan takdir, bayi ini hanya bisa hidup seminggu usai dilahirkan. Rylei Arcadia lahir pada malam Natal dan menghembuskan napas terakhirnya saat malam Tahun Baru, karena penyakit cacat anenchepaly yang diidapnya.

Sang ibu, Krsyta Davis (23) sudah diberitahu soal diagnosis bayinya sejak dalam kandungan berusia 18 minggu. Dokter mengatakan bisa menginduksi kelahirannya lebih cepat, namun Krysta memutuskan untuk terus tetap hamil, walau ia tahu dapat keguguran kapan saja atau hanya memiliki waktu sebentar dengan putrinya.

"Keputusan ini berarti karena kita bisa memiliki pilihan untuk mendonasikan organnya sehingga para ibu lainnya dapat membawa pulang bayi mereka saat kami sendiri tak bisa. Sungguh positif dan kami melakukannya (menjalani kehamilan) seperti kebanyakan orangtua lainnya," tutur Krysta, dikutip dari Daily Mail.



Menurut situs Mayo Clinic, 75 persen bayi dengan anencephaly meninggal saat masih dalam kandungan, sementara lainnya hanya bisa bertahan hidup selama beberapa jam atau hari. Hidup Rylei yang singkat malah bermanfaat bagi dua bayi lainnya setelah dua katup jantungnya didonasikan dan paru-parunya diberikan pada yayasan penelitian.

Anencephaly merupakan cacat lahir di mana otak dan tengkorak tidak terbentuk dengan sempurna saat bayi masih di dalam rahim. Akibatnya otak tumbuh kecil, terutama bagian cerebellum yang memiliki fungsi utama untuk berpikir, bergerak, merasakan (sentuh, lihat, dengar).

"Aku membawanya selama sembilan bulan dan jatuh cinta padanya namun itu semua tak sebanding dengan memegang dan melihatnya. Aku tak melihat ada yang salah dengannya saat ia lahir, dan aku mencintainya," tutup wanita yang bekerja sebagai seorang asisten manajer ini.

(frp/up)