Kamis, 14 Feb 2019 15:45 WIB

True Story

Semangat Penyintas Kanker Darah: Urusan Mati di Tangan Tuhan, Don't Give Up!

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Paulus (kiri) seorang penyintas kanker darah leukemia (Foto: Dok. Pribadi) Paulus (kiri) seorang penyintas kanker darah leukemia (Foto: Dok. Pribadi)
Jakarta - Paulus Maria Bagus S. (47) tidak menyadari bahwa tahun 2005 akan menjadi tahun yang mengejutkan baginya. Bayangkan, ia divonis kanker Leukemia Granulositik Kronis (LGK) berawal dari gejala yang sebenarnya tidak ia sangka menjadi pertanda penyakit serius.

"Gejalanya badan kurus, lemas, kadang lihat agak pucat tapi saya sendiri tidak merasa begitu tapi orang ngelihatnya begitu. Istri bilang kok makin lama makin makan sedikit. Enggak banyak karena perasannya kenyang. Enggak ada rasa laper, dan saya enggak ngerasa apa-apa," kata Paulus, sapaan akrabnya.

Selain itu, yang paling ia rasakan ialah penurunan berat badan drastis. Leukosit yang standarnya 10 ribu sampai 15 ribu pun melejit di angka 330 ribu.

"Suruh BMP (bone marrow puncture), diambil dari sumsum tulang belakangnya. Begitu kena itu shock, saya nggak kayak sekarang sudah bisa nerima. 3-6 bulan saya isinya ketakutan, takut mati, nangis. Istri saya waktu itu dalam keadaan hamil," tuturnya.

Bahkan setelah pemeriksaan dokter, ternyata limpanya sudah membesar. Dari sana ia kerap merasa kosong dan linglung. Keluarga terus menasihatinya, namun ia merasa hanya mendengarkan saja tanpa bisa menangkap makna. Berbagai pengobatan seperti misalnya herbal juga ia lakukan.



"Mahkota dewa saya pernah. Ternyata dalam pengobatan ini, jenisnya kronik, ada obatnya. Puji Tuhan membaik, akhirnya bisa kembali ke normal. Dari sana mindset berubah, menyadari kesehatan itu sangat mahal," tandasnya.

Beruntung, Paulus di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Istri, keluarga, para pendeta, aktivis gereja, serta teman-teman dan pimpinan di kantornya selalu mendukung dirinya untuk bisa survive. Ia pun kembali bisa beraktivitas dengan semangat baru.

Siapa sangka, ini juga menjadi jalannya untuk membangun himpunan bersama rekan-rekan yang lain.

Setiap menjalani pengobatan, tentunya ia bertemu dengan orang-orang yang memiliki nasib serupa. Dari sana, ia dan teman-teman terinspirasi untuk membentuk Himpunan Masyarakat Peduli LGK (Leukemia Granulositik Kronik) dan GIST (Kanker Saluran Pencernaan) atau ELGEKA.

"Saya merasa sulitnya menanyakan informasi kemana-mana, akhirnya teman-teman kita ngobrol. Kita ngumpul, kita saling cerita. Dari situ saya dan teman-teman terpikir 'kalau begini buat saja'," ungkapnya.

Secara pribadi, Paulus juga kerap menelepon teman-teman yang terdiagnosis kanker jenis apapun untuk memberi semangat dan mengingatkan agar selalu mendengarkan nasihat dokter.

Paulus menuturkan kuncinya ada tiga, yakni selalu berdoa, kedua mendengarkan anjuran dokter, dan terakhir dengan menerapkan pola pikir dan pola hidup yang sehat. Satu lagi pesan Paulus adalah untuk selalu semangat dalam me jalani hidup.

"Berdoa itu nomor satu karena dia pemilik kesembuhan. Kedua, ke dokter karena dengan dokter kita tahu data keadaan kita. Ketiga, pola pikir sehat dan pola hidup sehat harus dijalankan. Hidup di tangan Tuhan, kita berjuang untuk disiplin hidup sehat, berjuang minum obat, berjuang untuk sehat. Urusan mati di tangan Tuhan. Don't give up," tutupnya.

(ask/up)
News Feed