Jumat, 15 Feb 2019 13:35 WIB

Hari Kanker Anak Sedunia

Awalnya Dikira DBD, Tak Tahunya Bima Idap Leukemia

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Bima, si kecil pejuang kanker darah leukemia. Foto: dok. Pribadi Wahyu Prasetyo Bima, si kecil pejuang kanker darah leukemia. Foto: dok. Pribadi Wahyu Prasetyo
Jakarta -
Saat detikHealth menemui Bima dan keluarga di rumah kosnya di Jakarta Barat, Bima tampak seperti anak seumurannya yang aktif. Tubuhnya yang gemuk dan sangat lincah membuat orang mungkin tak memercayai bahwa si kecil ini sedang berjuang melawan kanker darah leukemia.

Dikara Javas Abimanyu (6), atau akrab disapa Bima, terdiagnosis leukemia sejak berusia 2 tahun. Akan tetapi, awalnya ia dirawat dirumah sakit dengan diagnosis demam berdarah dengue (DBD) karena gejalanya yang cukup mirip.

Bima asyik bermain bersama sang bunda.Bima asyik bermain bersama sang bunda. Foto: Frieda Isyana Putri/detikHealth

"Setelah dinilai udah boleh pulang, kami pulang dan diwajibkan kontrol seminggu kemudian. Namun ketika seminggu di rumah, Bima ini panas naik-turun terus. Panas tinggi sampai 39,8 - 40. Keluar juga lebam-lebam di kulit, kaki sendi-ngilu, mudah capek," kata ayah Bima, Wahyu Prasetyo Anggoro (29), saat berbincang dengan detikHealth, Kamis (14/2/2019).

Melihat kondisinya yang tak biasa, sang dokter yang menangani Bima mengatakan kepada Wahyu dan istrinya, Rifika Ayu (27), bahwa ia curiga ada sebuah 'keganasan darah' yang terjadi pada Bima. Ia menyarankan untuk melakukan tes hapusan darah tepi dan cek darah lengkap, dan ternyata hasilnya menunjukkan susunan darah Bima sangat rendah dan diminta untuk rawat inap kembali dan menerima transfusi darah.

Dari tes tersebut, muncul sel limfoblastik yang menandakan adanya keabnormalan dalam susunan darah Bima sebanyak 17 persen. Dokter kembali menyarankan untuk merujuk Bima ke rumah sakit di Jakarta untuk penanganan lebih lanjut.


Bima menjalani prosedur bone marrow puncture (BMP), di mana dokter akan mengambil sampel darah dari jaringan lunak di sumsum tulang. Dan ternyata benar, Bima positif mengidap kanker darah leukemia dengan tipe acute lymphoblastic leukemia (ALL) L-1 high risk.

Kanker darah leukemia menjadi salah satu kanker yang sering menyerang anak-anak, sekitar 60 persen jumlahnya dan kebanyakan terdiagnosis dalam kondisi akut seperti Bima. Leukemia terjadi di sumsum tulang, yang memproduksi sel-sel darah putih yang abnormal, tidak dapat berfungsi dengan baik, dan secara berlebihan dan akan berdampak pada sel-sel darah yang sehat akan berkurang.

Setelah menjalani prosedur bone marrow puncture (BMP).Setelah menjalani prosedur bone marrow puncture (BMP) dan munculnya stretchmark karena penambahan berat badan akibat pengobatan. Foto: Frieda Isyana Putri/detikHealth

Mengobati Bima tidaklah mudah bagi Wahyu dan Rifika, banyak hal yang harus dikorbankan. Wahyu terpaksa harus resign dari pekerjaan karena tak mampu pulang pergi Depok-Jakarta untuk berbagi tugas menjaga Bima hingga menjual harta benda milik mereka seperti motor.

Mereka juga harus melepaskan rumah di Cinere dan ngekos di Jakarta Barat agar memudahkan saat jadwal kemoterapi Bima. Walau berat, terutama dengan biaya pengobatan yang sangat mahal, keputusan ini diambil melalui banyak pertimbangan.

Saat Bima dirawat di rumah sakit.Saat Bima dirawat di rumah sakit. Foto: dok. Pribadi Wahyu Prasetyo

Selama tiga tahun, Bima bertarung melawan kanker leukemia. Orang tua Bima pun bertarung melawan waktu dan emosi, banyak momen di mana Wahyu dan Rifika merasa sangat sedih, namun buah hati kecil merekalah yang jadi penguat mereka untuk terus maju demi kesehatannya.

"Down itu pasti. Tapi ketika lihat anaknya tetep happy, tetep ceria, itu jadi penyemangat kami. Jadi nggak boleh nge-down, ayolah cari semangat. Anaknya aja semangat masa kita nggak," imbuh Wahyu.

Akhirnya pada Maret 2018 Bima dinyatakan selesai pengobatan, dan masih harus dilanjutkan kontrol berkala dengan interval satu bulan sekali. Wahyu memutuskan untuk membawa Bima pulang ke Blitar dan membuka usaha di sana.


Sayangnya pada bulan ketiga kontrol, Bima mendadak mengalami penurunan kesadaran. Ia dibawa ke salah satu rumah sakit di Malang dan menjalani CT-SCAN, di mana hasil menunjukkan ia mengalami hidrocepalus (penumpukan cairan di rongga otak) dan meningoencepalitis (radang otak dan selaput otak).

Kemudian prosedur VP Shunt dilakukan dengan memasang selang di kepala untuk mengurangi tekanan dari cairan otak. Setelah menjalani serangkaian tes, dipastikan Bima mengalami relaps atau kambuh dan mengalami metastase atau penyebaran ke otak.

"Setelah itu kami kembali ke Jakarta. Namun beberapa minggu kemudian, ternyata Bima malah terserang meningitis (radang selaput otak). Saya tanya dokter kenapa, mungkin karena leukopenia ya, karena leukositnya rendah bisa terserang virus dari luar," kata Wahyu, yang terpaksa kembali meninggalkan usahanya.

Saat itu salah seorang temannya menawarkan untuk membuka donasi di kitabisa.com untuk menggalang dana bagi pengobatan Bima, yang masih ditemukan sel kankernya walau telah dilakukan radioterapi dan kemoterapi kembali.


Wahyu yang sedang berupaya menjual rumah orang tuanya di Blitar dan menyebarkan beberapa proposal bantuan, merasa sangat terbantu. Donasi terkumpul cepat, namun perjalanan pengobatan Bima masih panjang. Alhasil, Wahyu kembali membuka laman donasi baru.

Kemudian, dokter yang menangani Bima merekomendasikan metode terbaru bernama CAR-T Cell (chimeric antigen receptor-T cell). Sebuah immunotherapy yang prinsipnya memanfaatkan tentara dalam sel darah yang dinamakan T cell untuk dimodifikasi menjadi lebih efektif membunuh sel kanker.

Dinilai lebih efektif untuk mencapai kesembuhan dari sel kanker serta minim resiko, Wahyu berencana melaksanakan metode tersebut di Malaysia. Dengan perkiraan biaya mencapai 1,5 miliar dan 100 juta rupiah untuk pengobatan, nominal tersebut masih jauh di luar kemampuan Wahyu dan Rifika.

Bima bersama orang tuanya.Bima bersama orang tuanya. Foto: Frieda Isyana Putri/detikHealth


"Bima tahu kalau di dalam tubuhnya ada sel yang jahat. Dia udah saya kasih gambaran dikit tentang CAR T-Cell. Jadi saya bilang, 'Bim nanti Bima dimasukkin tentara di dalam tubuhnya Bima biar sel jahatnya dibunuh sama tentaranya.' Kita selalu cari cara gimana caranya biar bisa diterima," ujar Wahyu

Rifika menyahut, tiap kali berdoa bersama orang tuanya, Bima selalu meminta agar segera diberikan 'tentara' tersebut. "Dikasih petunjuk!" celetuk Bima, di sela-sela bermain dengan kedua orang tuanya.

Jika kamu ingin membantu Bima segera mendapatkan 'tentara' untuk melawan sel jahatnya, kamu bisa berdonasi di laman kitabisa.com/bimapastisembuh atau klik Donasi Sekarang di tautan di bawah ini:



(frp/up)