Selasa, 19 Feb 2019 12:14 WIB

Sedih! Cerita Viral Driver Ojol Kehilangan Tangan, Diamputasi karena Infeksi

Widiya Wiyanti - detikHealth
Nadya Safitri, driver ojol yang tangannya harus diamputasi. Foto: Instagram/_nadsaf Nadya Safitri, driver ojol yang tangannya harus diamputasi. Foto: Instagram/_nadsaf
Jakarta - Tak pernah terlintas di benak seorang driver ojek online (ojol) ini akan hidup dengan satu tangan. Yaitu Nadya Safitri (19), seorang driver ojol asal Medan, Sumatera Utara harus kehilangan tangan kanannya karena infeksi. Tragisnya, semua bermula hanya dari luka karena kecelakaan.

Kisahnya berawal dari kecelakaan yang ia alami pada 22 Januari 2019, Nadya jatuh saat mengendarai motornya dan tiba-tiba sebuah truk melindas tangan kanannya. Tangan kanannya itu pun terluka parah dan segera dilarikan ke sebuah klinik. Klinik pun merujuknya ke sebuah rumah sakit di Medan.

Kepada detikHealth, Nadya mengaku bahwa setelah sampai di IGD rumah sakit tersebut, luka di tangannya tidak segera dibersihkan oleh petugas medis.

"Penanganannya terlalu lama, malah ditanya-tanya. Bukannya dibersihkan darahnya, cuma dikasain dan dikasih kayu buat penyangga. Itu dibiarin selama satu jam," ujarnya melalui saluran telepon kepada detikHealth, Selasa (19/2/2019).



Nadya pun harus menahan rasa sakitnya. Kemudian ia pun harus menjalani pemeriksaan rontgen untuk mengetahui keadaan tangannya itu. Nadya mengatakan pemeriksaan rontgen itu memakan waktu satu jam.

Beberapa jam pun berselang, Nadya menyebutkan ia hanya didiamkan hingga pukul sembilan malam. Kemudian lukanya dijahit dan tangannya digypsum.

"Harusnya diopersi besar, padahal sarafnya ada yang putus, tapi ini hanya dijahit," ungkap Nadya.

"Yang fatalnya itu luka, bukan patah tulang, cuma ada tulang geser di dekat bahu. Tapi malah digypsum dari pergelangan tangan sampai bahu. Itu luka jadi panas kan," lanjutnya.

Nadya mengisahkan, ia disuruh pulang ke rumah tanpa harus melewati perawatan intensif di rumah sakit. Tiga hari kemudian, ia pun kontrol ke rumah sakit tersebut, gypsumnya dilepas dan kasa penutup luka diganti. Tanpa ada penanganan terhadap luka, Gypsum pun kembali dipasang di lengan Nadya.



Semakin hari lukanya mengeluarkan bau yang tidak sedap. Pada tiga hari berikutnya pun ia kontrol ke rumah sakit yang sama, saat ia meminta gypsumnya dilepas, petugas medis itu pun tidak memperbolehkannya.

"Rasanya sakit panas kayak kebakar. Aku tanya 'apa nggak bisa dilepas?', mereka bilang 'nggak bisa ini harus tetap dipasang'. Terus aku tanya 'nanahnya gimana?', mereka jawab 'tutup kain kasa saja'," jelasnya.

"Terus mereka bilang aku kontrol ketiga ke rumah sakit lain saja," lanjutnya.

Nadya pun memutuskan untuk pindah ke rumah sakit lain. Yang mengejutkan, dokter mengatakan bahwa tangannya sudah mengalami infeksi yang menyebabkannya membusuk. Agar infeksi tidak menjalar ke anggota tubuh lain, dokter pun menyarankannya untuk diamputasi.

"Sudah nggak bisa, kulit sudah menghitam, sel jaringan sudah putus. Kata dokter dari awal harusnya langsung dioperasi, ini karena digypsum," ceritanya.

Gelap seketika saat Nadya mengetahui bahwa dirinya harus kehilangan tangan kanannya. Ia pun menyetujui tangannya itu diamputasi demi keadaan yang lebih baik.

Pada 7 Februari lalu, tangan kanannya pun diamputasi. Infeksi-infeksi yang menjalar pun sudah dikeluarkan dari tubuhnya.

"Nggak boleh disesalkan, dari kandungan kan sudah digariksan oleh Tuhan, ini sudah jalannya, harus diterima. Ya walaupun harus belajar pakai tangan kiri," tandasnya.

(wdw/up)