Kamis, 21 Mar 2019 14:35 WIB

True Story

Jual Mobil dan Kuras Tabungan, Dokter Indonesia di AS Ini Ingin Majukan Bangsa

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Tekad dr Medha memajukan bangsa. Foto: dok. pribadi Tekad dr Medha memajukan bangsa. Foto: dok. pribadi
Jakarta - Banyak sekali dokter asal Indonesia yang membanggakan. Salah satunya adalah Dr Medha Satyarengga, MD, yang memulai pendidikan spesialis penyakit dalam pada tahun 2014 di New York City, tepatnya di Mount Sinai St. Luke's and Mount Sinai West hospitals. Di sana, ia pun mendapatkan penghargaan Dr. Dan William Award for Medical Excellence.

Setelah lulus penyakit dalam pada tahun 2017, laki-laki lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini melanjutkan ke program subspesialis endokrinologi (hormon dan diabetes) di University of Maryland.

Mungkin muncul pertanyaan, kenapa harus jauh-jauh ke Amerika sih untuk ambil spesialisasi? Langsung kita tanya orangnya ya.

"Sejak remaja saya sudah bermimpi ingin belajar di Amerika karena saya banyak bermain game, membaca, dan menonton film dari Amerika. Selain itu, ketika kuliah di FKUI saya melihat bahwa banyak textbook dan penelitian terbaru yang ditulis oleh dokter-dokter di Amerika. Dari situ saya terinspirasi untuk sekolah spesialis di Amerika. Saya juga merasa bahwa masih jarang dokter Indonesia yang spesialis di Amerika, berbeda halnya dengan bidang ilmu lain seperti teknik, ekonomi, dan bisnis yang sudah umum dapat sekolah di Amerika."

Tahun 2012, dr Medha pun berangkat ke Amerika untuk memulai proses pendaftaran spesialis di Amerika. Perjuangannya cukup sulit dan panjang. Total, ia membutuhkan 2,5 tahun dari memulai proses persiapan tes hingga memulai sekolah spesialis.


Dokter Medha berhasil mendapatkan pendidikan spesialis penyakit dalam pada tahun 2014 di New York City, tepatnya di Mount Sinai St. Luke's and Mount Sinai West hospitals.Dokter Medha memulai pendidikan spesialis penyakit dalam pada tahun 2014 di New York City, tepatnya di Mount Sinai St. Luke's and Mount Sinai West hospitals. Foto: dok. pribadi

Menurut saya nasionalisme adalah rasa cinta Indonesia yang tanpa syarat (unconditional). Biarpun saya berada jauh di Amerika, saya selalu berpikir bagaimana menggunakan ilmu yang saya dapat untuk memajukan Indonesia,dr Medha
Tahap pertama adalah mempersiapkan diri untuk tes USMLE (ujian kompetensi dokter di Amerika) yang nilainya dibutuhkan untuk mendaftar sekolah spesialis. Untuk belajar dan menyelesaikan seluruh rangkaian tes USMLE, dr Medha pun membutuhkan waktu satu tahun. Mengingat, ia harus bersaing dengan dokter dari seluruh belahan dunia. Wih, ngeri!

"Setelah itu saya sempat magang dengan Prof. Ari Fahrial Syam (dekan FKUI) yang turut berjasa dalam perjalanan karir saya karena beliau bersedia menulis surat rekomendasi untuk mendaftar sekolah spesialis. Saya mendaftar ke 90 program spesialis, dan mendapat panggilan wawancara dari 6 program di seluruh Amerika. Pada bulan Maret 2014, saya mendapat kabar bahwa saya diterima di Mount Sinai Hospitals, New York dan memulai spesialisasi penyakit dalam," tuturnya.

Nah, untungnya, pendidikan spesialis di Amerika tidak dipungut biaya. Bahkan kata dr Medha, seluruh peserta didik mendapatkan gaji dan biaya hidup.

"Namun demikian, saya tetap harus mengeluarkan biaya untuk persiapan USMLE, biaya pendaftaran spesialis, dan biaya pesawat dan akomodasi untuk menghadiri wawancara yang tersebar di seluruh Amerika. Tiap orang menghabiskan biaya yang berbeda-beda, namun biayanya berkisar antara $6.000 hingga $10.000," ujarnya. Ya... kalau dikonversi sekitaran Rp 84 juta - Rp 141 juta lah.

Tapi jangan dipikir mengeluarkan uang segitu semudah membalikkan telapak tangan loh. Ia mengisahkan sampai harus menjual mobil dan menghabiskan tabungan sebagai dokter umum 3 tahun di Jakarta. Meski begitu tidak ada penyesalan, kata dr Medha pengorbanan itu tidak ada artinya dibanding ilmu dan pengalaman yang ia dapatkan.


Syukurlah, berkat perjuangan panjang dan tekad yang bulat, dr Medha berhasil mendapatkan gelarnya dan terbilang jadi dokter yang sukses. Eits jangan salah, meski sudah lumayan lama mengabdikan diri di negeri orang, hal ini tidak membuat dr Medha melupakan Tanah Air, justru ia ingin memajukan Indonesia dengan ilmu yang ia dapatkan dari Amerika Serikat.

"Menurut saya nasionalisme adalah rasa cinta Indonesia yang tanpa syarat (unconditional). Biarpun saya berada jauh di Amerika, saya selalu berpikir bagaimana menggunakan ilmu yang saya dapat untuk memajukan Indonesia. Langkah kecil saya ambil adalah membuat akun Instagram @dokter.medha untuk berbagi ilmu kedokteran dan memotivasi teman sejawat yang ingin sekolah di Amerika," akunya. Wah, jadi merinding bacanya! (ask/up)