Selasa, 02 Apr 2019 16:41 WIB

Kisah Perjuangan Pasutri Punya Anak Usai 10 Kali Alami Keguguran

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ilustrasi pasutri saat alami keguguran. Foto: thinkstock Ilustrasi pasutri saat alami keguguran. Foto: thinkstock
Jakarta - Tahun 2007, Jen Bickel mengalami keguguran pertamanya setelah hamil selama enam minggu. Saat itu ia bahkan tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung. Delapan belas bulan setelahnya, ia hamil lagi namun kembali alami keguguran pada usia kandungan 11 minggu.

Jen dan suaminya, Andrew, merasa sangat terpuruk saat itu. Mereka adalah pasangan suami-istri berusia 29 tahun yang sangat sehat. Keguguran kedua ini berdampak sangat hebat bagi kesehatan mental mereka berdua.

"Banyak dari teman kami sudah memiliki keluarga, dan walaupun kami berbahagia untuk mereka, hal itu membuat rasa kehilangan kami semakin terasa. Secara pribadi, mau tak mau aku terus menyalahkan diriku sendiri. Mengapa tubuhku terus membuatku gagal? Apa yang telah aku lakukan?" tutur Jen, dikutip dari BBC.


April 2009, Jen kembali keguguran setelah hasil USG menunjukkan detak jantung bayinya tidak ada. Tahun 2010 mereka mencoba untuk bayi tabung, berharap dapat menyelesaikan masalah ini karena tes menunjukkan tak ada masalah dengan mereka.

Rupanya justru perjalanan berat mereka dimulai dari situ. Di awal, 10 embrio yang mereka hasilkan tak berbuah, lalu beberapa bulan kemudian mereka mencoba lagi dan mendapatkan hasil positif, sayangnya, tak ada detak jantung yang terdengar dari si janin.

"Kami tak bisa menyerah, sehingga kami tak memiliki pilihan lain untuk terus berjuang dan mencoba. Tahun 2014, aku mengalami nyeri di sisi tubuhku, yang ternyata adalah kehamilan ektopik. Itulah akhir dari perjalanan bayi tabung kami. Sudah tak ada lagi embrio beku, dan uang kami ludes," lanjut wanita asal Cardiff, Wales.

Kehamilan ektopik merupakan kondisi di mana pembuahan sel telur terjadi di luar rahim, biasanya di salah satu tuba falopi atau saluran indung telur. Jen kembali mengalami kehamilan ektopik dua kali, yang berujung semua saluran indung telurnya harus diangkat.


"Aku patah hati, tahu bahwa aku tidak akan pernah hamil secara alamiah. Kalau ditotal, sepanjang satu dekade ini aku sudah hamil 10 kali, enam kali secara alami dan empat kali melalui bayi tabung, dan kami tak sanggup lagi."

"Aku tak ingin bangun dari tempat tidur. Aku tidak ingin pergi kerja atau bertemu orang-orang. Aku merasa seperti rusak dan terbakar, hanya dukungan dari suamiku Andrew dan keluarga besar yang membuatku terus berjuang," imbuh Jen lagi.

Tahun 2017, saat Jen berusia 40 tahun itulah keajaiban terjadi. Setelah menunggu beberapa bulan agar dinding rahimnya menebal, mereka menanam satu embrio dan hasilnya ia positif hamil setelah dua minggu.

Mereka mencoba untuk tidak berharap, terutama saat USG pertamanya. Akhirnya mereka mendengar satu hal yang tak pernah mereka alami sebelumnya, yakni suara detak jantung. Walau kecil, hal tersebut membuat mereka sangat, sangat bahagia.

Jen sangat antusias mengalami morning sickness pertamanya. Saat Andrew mengetahui mereka akan memiliki bayi laki-laki, ia masih sangat tidak percaya namun terus menyemangati istrinya. Hanya saja, ia menunda mendekorasi kamar bayi hingga minggu-minggu terakhir menjelang persalinan.


"Karena usiaku yang sudah mencapai 40 tahun, aku diinduksi untuk memastikan plasentaku tidak rusak. Tapi setelah berjam-jam kontraksi, dokter menyadari bahwa jantung bayi menurun karena lehernya terlilit tali pusar. Akhirnya aku memutuskan operasi caesar, dan pada 9 Februari dini hari, bayi ajaib kami lahir dengan berat 2,9 kilogram," kata Jen.

Sang bayi, Bobi William Bickel, kini berusia 6 minggu. Jen dan Andrew masih memiliki dua embrio beku dan berencana suatu hari akan mencoba lagi. Jika gagal lagi pun, mereka sudah sangat bersyukur bahwa kini doa mereka terkabul dan bayi Bobi telah bersama mereka kini.

Keguguran merupakan kondisi di mana bayi meninggal sebelum berusia 24 minggu. Sebanyak 20 persen kehamilan berakhir keguguran, biasanya disebabkan oleh faktor perkembangan bayi yang tidak normal, disertai dengan kebiasaan ibu yang merokok, obesitas dan usia.

"Bagimanapun, kami hanya ingin membagi kisah kami karena banyak pasangan lainnya yang mengalami hal yang sama. Berjuang untuk dapat hamil sangatlah sulit, secara fisik, mental, dan emosional," tutup Jen.



(frp/up)
News Feed