Kamis, 20 Jun 2019 09:05 WIB

True Story

Hidup Sehat dan Hobi Olahraga, Tak Disangka Terserang Kanker Penis

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ilustrasi pemotongan kepala penis (penektomi) akibat kanker penis. Foto: thinkstock Ilustrasi pemotongan kepala penis (penektomi) akibat kanker penis. Foto: thinkstock
Jakarta - Selama hidupnya, Jeff Adison (48) adalah pria yang sangat aktif berolahraga. Ia adalah pelatih rugby dan menjalani gaya hidup yang sangat sehat. Pada tahun 2017, ia sangat syok saat terdiagnosis kanker penis.

Ia lalu menjalani operasi untuk mengangkat tumor tersebut. Sayangnya, kanker ini kembali muncul pada Februari 2018 lalu dan yang sangat menyakitkannya adalah bagian kepala penisnya harus dipotong (penektomi) karena penyebaran kanker tersebut.

"Sejujurnya aku bahkan tak tahu bahwa kita bisa terkena kanker penis. Istriku menangis terus-menerus. Aku adalah orang yang positif namun sangat menguras emosiku saat diberitahu (kankernya) telah kembali tiga bulan setelah operasi, dan lalu kepala penisku harus dipotong," kata Jeff, dikutip dari Metro UK.



Fakta bahwa ia akan kehilangan penisnya dan kemampuan seksualnya membuat Jeff stres secara psikologis dan khawatir soalnya operasi tersebut. Ia masih syok karena menganggap kanker penis merupakan kanker yang hanya menyerang orang tua, bukan pria di usia 40-an.

"Memiliki penis adalah poin fisik yang membedakan antara pria dan wanita dan selama ini aku hanya menganggapnya sebagai pembeda jenis kelaminku," lanjutnya.

Agar mengatasi dampak psikologis menjalani penektomi sebagian, dokter memberi Jeff dua opsi. Yakni tidak memotong kepala penis dan harus menerima bahwa kanker tersebut akan menyebar ke bagian tubuh lainnya atau mengangkat bagian yang terkena kanker dan berkesempatan hidup bebas kanker.

Kanker penis termasuk jenis kanker langka yang bisa diidap oleh para pria, tidak seperti kanker prostat yang merajai penyebab kematian pertama pada pria di seluruh dunia. Gejala kanker penis meliputi adanya penebalan atau perubahan warna kulit penis, munculnya timbil atau luka di penis, adanya cairan atau darah yang keluar dari bintil atau luka tersebut.



Saking langka dan tidak umumnya kanker ini menyebabkan seringnya salah diagnosis. Penyebabnya belum diketahui, namun ada beberapa faktor risikonya, misalnya merokok atau adanya penularan virus HPV yang biasa didapatkan pria atau wanita yang aktif secara seksual.

Kemudian kulit kulup yang ketat, tidak dapat ditarik ke belakang dengan mudah (secara ilmiah dikenal sebagai fimosis) kerap ditemukan pada pengidap kanker penis. Oleh karena itu kanker penis jarang ditemukan pada pria yang telah menjalani sunat atau khitan, meski alasannya belum jelas.

"Aku berharap aku telah mengetahui soal kanker secara umum sebelum aku terdiagnosis. Aku tahu, namun aku tak pernah benar-benar memahami bagaimana mengecek tubuhku dan aku bukanlah tipe orang yang segera ke dokter begitu tahu ada yang berbeda namun tak menghentikanku beraktivitas," tutur Jeff.

Ia sangat bersyukur karena ada istri dan anaknya yang menjadi penyemangat utamanya menemani perjalanan ini. Ia juga berterima kasih pada perawat dan dokter bedah yang menanganinya.

Jeff berencana untuk bersepeda sejauh 675 km dalam 4 hari dimulai pada bulan September nanti. Hal ini ia lakukan untuk mendapatkan donasi setidaknya 20 ribu poundsterling atau setara dengan 359 juta untuk membantu mereka yang sedang berjuang melawan kanker.





Tonton video Nikmati Instalasi Moja Museum yang Jadi Incaran Para Milenial:

[Gambas:Video 20detik]

(frp/up)