Selasa, 25 Jun 2019 10:21 WIB

Cerita Sedih Mantri Patra, Gugur Saat Tugas di Pedalaman Papua

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Seorang tenaga kesehatan, Patra Marinna Jauhari, alias Mantri Patra, meninggal dalam penugasan di Papua (Foto: pribadi) Seorang tenaga kesehatan, Patra Marinna Jauhari, alias Mantri Patra, meninggal dalam penugasan di Papua (Foto: pribadi)
Jakarta - Patra Marinna Jauhari, atau yang lebih sering dikenal dengan Mantri Patra, gugur dalam penugasannya di Kampung Oya, Distrik Naikere, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Patra meninggal dunia pada 18 Juni 2019, setelah bertugas sejak Februari lalu.

Dituturkan oleh Haspaniati (39), kakak kandung Patra yang berdomisili di Seriti, Sulawesi Selatan, selama bertugas di Papua Barat ia tak pernah mendapatkan kabar tentang adiknya karena sulitnya komunikasi. Ia dan keluarga mulai khawatir saat tiga bulan masa bertugasnya usai, namun adik bungsunya itu tak kunjung pulang.

"Kami tahu kalau Patra akan ke pedalaman hanya 3 bulan, tapi sudah cukup 3 bulan dia belum pulang ke Wasior. Karena sulitnya komunikasi sehingga kami tidak bisa tahu keadaan adikku. Sampai kami dengar dia sudah meninggal. Sama sekali tidak ada kabar," kisahnya kepada detikHealth, Senin (24/6/2019).

Patra merupakan anak bungsu dari enam saudara. Sebagian besar saudaranya yang lain juga berkecimpung di dunia kesehatan. Akan tetapi, Patra adalah satu-satunya anak yang memilih untuk mengenyam pendidikan di sekolah perawat di Kamanre, Palopo, Sulawesi Selatan.

Usai tamat sekolah, Patra bertolak ke Wasior, Papua Barat untuk mencari kerja. Ia kemudian lulus penerimaan pegawai negeri sipil (PNS) dan selama sepuluh tahun bekerja di Wasior.



Almarhum Mantri Patra saat bertugas.Almarhum Mantri Patra saat bertugas. Foto: pribadi


Haspaniati menyebut sebelum kejadian itu, Patra sedang bertugas sebagai perawat pelaksana lanjutan di Rumah Sakit Maekere di Wasior. Ia mengatakan bahwa petugas kesehatan di rumah sakit tersebut diwajibkan untuk bertugas di pedalaman, dan Patra mendapatkan tugas untuk bekerja di Kampung Oya selama tiga bulan.

Setelah itu komunikasi dengan adiknya terputus lantaran sulitnya mendapatkan sinyal di pedalaman. Ia mendengar kabar bahwa sang adik tidak segera dijemput, bahan makanan dan obat-obatan habis hingga akhirnya Patra meninggal dunia. Diakuinya, Patra semasa hidup adalah pria yang sehat dan tak memiliki riwayat sakit apapun.

Sang kakak dan keluarga jelas terkejut dan terpukul mendengar kabar duka tersebut. Lebih terpukul lagi saat keluarga kesulitan untuk memulangkan jenazah Patra ke Seriti lantaran kondisinya sudah tidak memungkinkan.

"Katanya karena mayatnya sudah lima hari di pedalaman baru bisa dievakuasi, selama di pedalaman tidak diformalin. Sudah lima hari meninggal baru dievakuasi dengan helikopter jadi tubuhnya sudah busuk jadi itulah alasannya sehingga nggak dibawa pulang," lanjut Haspaniati.

Ucapan belasungkawa juga datang dari Kementerian Kesehatan RI.Ucapan belasungkawa juga datang dari Kementerian Kesehatan RI. Foto: Kemenkes




Jenazah Patra akhirnya dimakamkan di Wasior pada Senin lalu. Haspaniati mengatakan hanya kakak pertama dan kedua yang ikut menguburkan di sana. Ia berharap adiknya bisa tetap bisa 'dipulangkan' ke kampung halamannya di Seriti walau dalam bentuk tulang-belulang sekalipun.

"Kakak saya dua orang sudah ke Wasior menguburkan adik terkasih tapi kerinduan kami (Patra) bisa pulang tapi tidak bisa. Padahal seandainya pemerintah berusaha pasti adikku bisa pulang. Padahal kami minta apapun kondisinya adikku tolong dipulangkan, agar jasad adik saya bisa dipulangkan, walau tulangnya sekalipun. Kami saat ini sangat berharap mayat adik Patra bisa pulang ke kampung halaman Seriti," ujarnya bersedih.

Ia berharap juga tak akan ada lagi 'Patra-patra' lainnya di luar sana, agar kejadian yang dialami adiknya tidak terulang lagi. Haspaniati berpesan jika memang ada penugasan, maka jemputlah saat memang harus dijemput, dan dibekali dengan makanan serta obat-obatan yang memadai sampai mereka habis masa tugasnya.

Sesal juga ia rasakan karena tidak cepatnya respon dari pemerintah setempat saat ada informasi dari warga Kampung Oya yang mengabarkan bahwa Patra jatuh sakit. Bagi Haspaniati, sang adik tersayang takkan menghembuskan napas terakhirnya seandainya kabar tersebut direspon.

"Dia anak yang baik. Patra adalah anak yang sangat baik, sayang sama keluarga, supel dan humoris. Kalau bicara sangat lembut dan suka menolong," pungkas Haspaniati, dalam sedih dan rindu saat mengenang mendiang adik bungsunya semasa hidup.

(frp/up)