Selasa, 25 Jun 2019 16:57 WIB

Cerita Wanita Berkelamin Ganda di Negara Tanpa Dokter Bedah Plastik

Firdaus Anwar - detikHealth
Dorothee Adjakidjie menjalani operasi koreksi kelamin. (Foto: Reuters) Dorothee Adjakidjie menjalani operasi koreksi kelamin. (Foto: Reuters)
Jakarta - Dorothee Adjakidjie dari Gabon baru bisa bernapas lega setelah kisahnya sampai ke lembaga amal dokter bedah plastik di Amerika Serikat (AS). Setelah 28 tahun Dorothee bisa dengan percaya diri menyebut dirinya sebagai wanita usai menjalani operasi kelamin.

Apa yang terjadi pada Dorothee adalah kondisi langka yang disebut interseks, kelamin ganda, atau kelamin ambigu. Ia memiliki penis dan juga vagina yang tidak terbentuk dengan sempurna.

Dorothee mengaku selama bertahun-tahun kebingungan karena Gabon diklaim tidak memiliki dokter ahli bedah plastik sehingga kondisinya sulit untuk diperbaiki.

"Di budaya Afrika ada beberapa hal tabu... kami menyebut 'anak ini dikutuk', anak ini kena sihir, atau anak ini tidak bisa disembuhkan," kata Dorothee seperti dikutip dari Reuters, Selasa (25/6/2019).


"Saat kamu harus hidup... tanpa tahu apakah kamu pria atau wanita, setiap saat harus meyakinkan siapa diri kamu sebenarnya, rasanya tidak mudah," lanjutnya.

Adalah dr Michael Obeng dari lembaga R.E.S.T.O.R.E yang kemudian melakukan operasi koreksi kelamin pada Dorothee. dr Michael melakukannya dalam rangka kegiatan amal yang ia lakukan di beberapa negara Afrika.

Operasi berjalan lancar dan Dorothee kini tidak lagi memiliki penis hanya vagina. Namun demikian dr Michael mengingatkan kalau Dorothee tidak bisa punya anak karena tubuhnya kekurangan rahim yang fungsional.

"Kami menyebutnya kelamin ambigu. Dia punya payudara, penis, dan vagina yang tidak terbentuk sempurna," kata dr Michael.

Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Dr dr Andi Nanis Sacharina Marzuki, SpA(K), pernah menjelaskan bahwa kondisi kelamin ambigu tidak sama seperti transgender di kelompok Lesbian Gay Bisexual Transgender (LGBT).

"Ini murni karena genetik. Memang sulit, bahkan mereka ada yang harus pindah sekolah dan pindah rumah untuk menghindari stigma," pungkasnya.


(fds/up)
News Feed