Selasa, 06 Agu 2019 22:35 WIB

Terbaring 11 Tahun, Seorang Pasien Temukan Sendiri Obat Penyakitnya

Rosmha Widiyani - detikHealth
Lindsay kini sering jadi pembicara kesehatan. (Foto: CNN) Lindsay kini sering jadi pembicara kesehatan. (Foto: CNN)
Jakarta - Doug Lindsay, yang kini berusia 41 tahun, mungkin menjadi satu-satunya contoh pasien langka di dunia. Selain karena penyakitnya, Lindsay menemukan sendiri penyakit yang mengakibatkannya terbaring selama 11 tahun. Dikutip dari CNN, Lindsay mengalami penyakit langka bilateral adrenal medullary hyperplasia.

Kondisi tersebut mengakibatkan tubuh Lindsay memproduksi terlalu banyak hormon adrenalin. Akibatnya, tanpa gejala spesifik Lindsay tiba-tiba pingsan dan merasa dunianya berputar. Lindsay juga merasa jantungnya berdetak lebih cepat, lemah, dan sering pusing. Dia merasa tidak sanggup lagi menahan kondisi tersebut hingga hanya sanggup berdiri beberapa menit dan jalan 15 meter.

"Saya masih merasa sangat lemah meski sudah berbaring. Saat itu saya telpon ibu untuk bilang tidak bisa melanjutkan kuliah. Ibu saya mengerti karena kondisi serupa juga dialaminya. Ibu langsung setuju tanpa bertanya lebih lanjut," kata Lindsay yang saat itu tengah kuliah di Rockhurst University jurusan biologi tahun 1999 di usia 21 tahun.


Selain ibu, tante dari garis keturunan ibunya juga mengalami penurunan kondisi tanpa sebab yang jelas. Saking lemahnya, tante dari Lindsay tak sanggup mengikat tali sepatunya sendiri. Mengetahui kondisi tersebut, Lindsay sadar tengah menghadapi bom waktu penyakit yang suatu saat menimpanya. Ibu Lindsay akhirnya meninggal di tempat tidur saat anak laki-lakinya berusia sekitar 28 tahun.

Dalam kondisi terbaring 22 jam per hari, Lindsay tetap berobat ke berbagai jenis dokter spesialis. Menurut Lindsay, dokter menyerah hingga merujuknya ke psikiater. Saat itulah dia tahu harus menemukan sendiri obat atas penyakitnya. Berbekal buku tentang endokrinologi, Lindsay menyimpulkan penyakit yang dialaminya terkait kerja kelenjar adrenal dan gangguan sistem saraf otonom.

Lindsay akhirnya mendatangi American Autonomic Society dan mempresentasikan sendiri penyakitnya. Seorang ahli medis Dr H Cecil Coghlan dari University of Alabama-Birmingham tertarik dan mendatangi Lindsay usai presentasi. Bersama seorang partner, Lindsay melanjutkan prosedur medis yang disusun dari 32 kasus serupa di seluruh dunia. Dalam pengawasan dokter, Lindsay menerima injeksi noradrenaline yang mampu melawan efek kelebihan adrenalin.


Setelah sekitar 7 tahun riset dan bergantung pada noradrenaline, Lindsay akhirnya menerima diagnosa yang lebih jelas seputar penyakitnya. Namun keraguan kembali timbul, karena operasi pada kasus ini ternyata belum pernah dilakukan. Operasi diperlukan untuk memotong kelenjar yang terlalu besar, hingga memproduksi adrenalin lebih banyak. Lindsay bersedia menjadi kelinci percobaan operasi, yang sebelumnya hanya dilakukan pada hewan.

Operasi pertama dilakukan pada September 2010 di University of Alabama-Birmingham, yang berhasil mengekstraksi satu dari kelenjarnya. Meski hasil operasi tak terlihat dalam waktu cepat, Lindsay berhasil duduk tegak, belajar jalan, dan berdiri. Operasi kedua dilakukan pada 2012 di Washington University untuk mengangkat sisa kelenjar.

"Kita tidak bisa mengulang yang sudah berlalu. Saya juga tidak bisa menjadi sesuai mimpi saat berusia 21 tahun. Namun dengan pertolongan yang diterima dari lingkungan sekitar, sudah waktunya saya mengembalikan kebaikan tersebut. Saya bisa menjadi pembicara, berjalan-jalan, dan membuka mata dunia terkait penyakit ini," kata Lindsay.

Membuktikan hal yang mustahil, Lindsay berhasil menemukan sendiri obat atas penyakitnya. Sayangnya selain ditinggal sang ibu, Dr Coghlan yang meninggal pada 2015 juga tidak bisa menyaksikan Lindsay kembali seperti semula. Lindsay akhirnya lulus dari Rockhurst University jurusan biologi setelah menghabiskan masa studi selama 16 tahun.



Simak Video "Wanita Ini Mendadak Alergi Air Usai Melahirkan"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)
News Feed