Kamis, 03 Okt 2019 13:25 WIB

True Story

Cerita Atin, ODGJ yang Berjuang Meraih Kembali Kebahagiaannya

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Atin bekerja agar pikirannya tidak kosong. (Foto: Frieda Isyana Putri) Atin bekerja agar pikirannya tidak kosong. (Foto: Frieda Isyana Putri)
Banyuwangi - Baru saja menikah, Sumartin (kini berusia 58) dan suaminya menjalani kehidupan pengantin baru pada umumnya. Wanita asal desa Lemahabangdewo, Banyuwangi, ini sempat merasa bahagia apalagi ia terlahir dengan paras yang cantik.

Dari pernikahannya dengan sang suami, Atin, sapaannya, dikaruniai dua anak. Urusan finansial juga tak perlu dikhawatirkan, Atin dan suami terbilang cukup sukses. Saat itu, ia tak menyangka kebahagiaan dalam kehidupannya bisa lenyap begitu saja.

Suatu hari, keluarga Atin terkena masalah ekonomi, yang kemudian berlanjut ke masalah keluarga. Imbasnya, Atin bercerai dengan sang suami dan akhirnya jatuh sakit dan kembali ke desa.

Dari penuturan kisah yang didapatkan detikcom, sejak saat itu Atin mendadak berubah. Ia dilaporkan sering memarahi anak-anak kecil yang bermain, mengganggu pengendara becak atau motor yang lewat, hingga melempari dengan batu.


Stigma di desa Lemahabangdewo soal orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) membuat warga sekitar merasa resah dan khawatir akan kondisi kejiwaan Atin sehingga mereka sempat 'mengurungnya'. Akhirnya, Jamilah (51), seorang pemilik usaha kue kering di desa tersebut mencoba mengajak Atin untuk bergabung di usahanya tersebut.

"Mbak Atin membuat kue kering dan basah. Bisa pijat juga. Mbak Atin di sini sudah 5 tahun. Karena rasa kemanusiaan saya ajak mereka OGDJ. Awalnya saya khawatir dia menganggu, dia mau apa, kita turutin. Misal lagi kerja mau istirahat dulu silakan. Mereka sudah tidak ngamuk. Saya arahkan mereka tidak susah, meski mereka ODGJ, mereka nurut," jelas Jamilah saat ditemui di pabrik kuenya, Senin (30/9/2019).

Bukan hanya memberdayakan, Jamilah juga tetap berkoordinasi dengan puskesmas sebulan sekali untuk pengobatan atau kadang ditinjau langsung. Kini setelah Atin cukup stabil, Jamilah juga mempekerjakan 3 karyawan ODGJ lainnya.

"Karena dulu (para ODGJ) takut dikagetin, ngerusak. Bukan kiriman. Justru yang paling cerdas mbak Sumartin itu, yang lain masih belum stabil. Mungkin kalau ditanya agak lemot, saya training dulu temen-temen yang lain, biar terbiasa," lanjutnya.

detikcom mencoba mewawancarai Atin yang tengah membuat kue kering bersama 3 ODGJ lainnya. Atin mengaku sejak dulu memang menyukai membuat kue, dan juga sempat belajar memijat dari mbah atau eyangnya.

"Biasa bikin pia, bagiak, sato. Kalau hari raya itu macem-macem, nastar gitu. Sehari saya bisa bikin 3 kilo, 5 kilo. Dari pagi jam setengah 8 sampai mau ashar. Dari dulu suka bikin kue, saya jual sendiri kue basah, kalo di sini kue kering," kata Atin.

Atin membuat kue.Atin membuat kue. (Foto: Frieda Isyana Putri)


Ia bercerita hanya menerima klien perempuan saja untuk pijat dan pada tetangga sekitar. Dengan tawa Atin menceritakan soal ketiga cucunya yang di Jakarta, dan mengaku pikirannya lebih senang dan tenang.

Atin masih terus dalam peninjauan pengobatan untuk mencegah kekambuhan. Demi menghindari bengong, saat di rumah Atin melakukan apa saja mulai dari membersihkan rumah, mencuci piring, menonton televisi.

"Alhamdulillah sekarang lebih senang, ya pikirannya kadang-kadang banyak. Cucu aja (kepikirannya), hahaha. Kalau di rumah ya bersih-bersih, nonton TV, nyuci, korah-korah (cuci piring), kadang solatnya bolong. Jangan sampai bengong lah, harus ada kegiatan. Insya Allah ya nggak bosen, cari uang kok bosen hehehe," tandasnya.



Simak Video "Viral! ODGJ Bantu Buka Jalan Ambulans di Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/fds)