Kamis, 05 Des 2019 12:05 WIB

Disangka Stres Tugas Sekolah, Ingatan Remaja Ini Tiba-tiba Hilang

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi adanya pembengkakan otak membuat hilang ingatan. Foto: iStock
Jakarta - Suatu hari, Rafaela Domingos (17) mengalami kejang di sekolahnya dan dilarikan ke rumah sakit. Namun saat sadar, remaja wanita dari Kent, Inggris ini tidak mengenali kedua orangtuanya. Beberapa jam kemudian ingatan Rafaela kembali pulih. Namun saat tidur dan terbangun keesokannya, ingatannya kembali terhapus.

Dikutip dari Daily Mail, awalnya dokter menyebut bahwa yang dialami Rafaela merupakan stres akibat beban tugas sekolah yang terlalu berat. Hal itu didorong dengan pengakuan orangtuanya yang mengatakan bahwa Rafaela kerap bertingkah aneh sejak tiga tahun lalu, seperti kehilangan nafsu makan, sulit tidur, tidur sambil berjalan, dan sering melamun.

"Sebagai orang tua, itu adalah hal tersulit yang harus saya saksikan. Dia benar-benar kosong pada siapapun," ungkap ibunya, Domingos.

Namun dokter terus melakukan pemeriksaan terhadap penyebab hilangnya ingatan Rafaela. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan yang cukup panjang, remaja itu didiagnosis ensefalitis atau pembengkakan otak berat yang pada kasus Rafaela belum diketahui pasti penyebabnya.



Kondisinya semakin memburuk hingga Rafaela ketakutan dan mencoba melarikan diri dari rumah sakit. Ensefalitis ini bisa mematikan karena pembengkakan otak dapat mendorong ke bawah ke batang otak dan menghentikan fungsinya. Batang otak adalah bagian otak yang mengontrol fungsi vital pernapasan dan sirkulasi.

Domingos mengatakan, putrinya itu menjalani serangkaian perawatan namun tidak berhasil. Hingga akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan plasmapheresis, terapi menukar plasma darah dan menyuling bahan-bahan berbahaya atau beracun yang ada dalam darah.

"Seluruh darahnya disaring, dan setelah menjalani itu dan radioterapi, tiba-tiba lengannya bekerja kembali. Dia bisa bergerak tetapi tidak mengenali kita bahkan dirinya sendiri. Itu hal yang paling memilukan," tutur Domingos.

Rafaela dirawat di rumah sakit selama dua bulan dengan mengonsumsi 26 tablet obat dalam sehari. Perlahan, ia 'hidup' kembali. Ingatannya kembali meskipun tidak menyeluruh. Ada hal-hal yang tak bisa diingatnya.

Tiga tahun berlalu, Rafaela menganggap dirinya dalam keadaan sehat. Kini ia berfokus pada dunia fotografi dan berkampanye soal ensefalitis untuk menyelamatkan nyawa-nyawa lain yang bernasib sama dengannya.



Simak Video "Dengerin Musik Bertempo Lambat dan Nyanyi Bersama Bisa Minimalisasi Stres"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/fds)