Jumat, 18 Sep 2020 22:04 WIB

15 Tahun Terbaring Tak Bisa Bicara, Remaja di Semarang Butuh Uluran Tangan

Akbar Hari Mukti - detikHealth
Nurse receiving blood from blood donor in hospital. Selama 15 tahun Siti Aisyah tak bisa berjalan dan berkomunikasi (Foto: iStock)
Semarang -

Sudah 15 tahun Siti Aisyah (15) hanya bisa berbaring di kamar tidurnya di dusun Deres, Kelurahan Kandangan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Sejak umur 4 bulan, bungsu pasangan Ramlan dan Saelah itu hingga saat ini tak dapat berjalan maupun berkomunikasi.

"Sejak umur 4 bulan tiba-tiba Siti kondisinya drop saat sedang disuapi makan, sempat pingsan, dan tak pernah bisa lagi berjalan dan berkomunimasi," jelas Ramlan saat ditemui detikcom di rumahnya, Jumat (18/9/2020).

Selama 15 tahun itu juga Ramlan menuturkan dirinya dan Saelah bersama-sama mengurusi Siti Aisyah. Mulai dari memandikan dan memberinya makan.

"Karena Siti Aisyah tak dapat berbicara dan hanya dapat menangis, maka kami mengira-ngira kapan waktu dia makan dan kapan waktu dimandikan," ungkap Ramlan.

Ramlan mengaku segala pengobatan sudah dilakukan ke Siti Aisyah. Namun, hingga saat ini kondisinya tak pernah membaik.

Siti juga sejak enam bulan terakhir menderita penyakit kulit di sekujur tubuhnya.

"Sejak enam bulan kulitnya memerah, bentol bentol dan ada yang mengelupas. Kami beri salep untuk mengobati penyakit tersebut," ujarnya.

Hingga saat ini menurutnya tak banyak yang dapat dilakukan Siti Aisyah. Selain terbaring di kamar tidurnya dan menangis.

"Sejak umur empat bulan sampai umurnya dua tahun, kami membawanya ke RSUD Ambarawa. Diagnosis dokter ada kelainan syaraf, tapi karena tak kunjung membaik maka kami menyudahi pengobatannya," paparnya.

Siti AisyahSaelah tengah merawat Siti Aisyah. Foto: Akbar Hari Mukti/detikHealth

Ia menjelaskan, keadaan ekonomi keluarga membuat Ramlan tak dapat memberikan anaknya pengobatan yang memadai. Ramlan menjelaskan dirinya merupakan pekerja serabutan. Sementara Saelah merupakan pekerja pabrik yang saat ini statusnya dirumahkan karena pandemi Covid-19.

"Kalau beruntung, saya seminggu dua kali bekerja memanggul dan membawa kayu sampai ke Tegal dengan upah Rp75 ribu per hari," ungkap dia.

Untuk pengobatan Siti Aisyah, menurutnya hanya dari kunjungan perawat puskesmas terdekat yang kerap mengunjungi Siti Aisyah.

Siti Aisyah juga kerap mendapatkan uluran tangan dari beberapa pihak.

"Saat ini untuk penyembuhan Siti Aisyah juga dari bantuan sosial," jelas Ramlan.

Sementara Saelah mengaku sejak masa kehamilan Siti Aisyah, tak ada keluhan apapun yang ia rasakan.

"Tak ada keluhan apapun. Kontrol kami lakukan, imunisasi juga lancar. Ketahuannya saat umur 4 bulan itu," jelasnya.

Ia pun berharap agar Siti Aisyah dapat sembuh dan beraktivitas normal. Sebab kondisi Siti Aisyah membuat Siti tak dapat mengenyam pendidikan dan bermain bersama teman sebayanya.

"Keinginan kami agar bisa diobati, dan dapat beraktivitas normal," jelasnya.



Simak Video "Lumpuh Tak Jadi Alasan Nurjannah Berhenti Beraktivitas"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)