Jumat, 16 Apr 2021 20:23 WIB

Keseringan Tenggak Minuman Berenergi, Mahasiswa 21 Tahun Kena Gagal Jantung

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Man opening a beer tin and frothy foam splashing out Foto: Getty Images/simonkr
Jakarta -

Seorang mahasiswa terkena gagal jantung usai minum minuman berenergi terlalu banyak. Ia bisa mengonsumsi empat kaleng minuman 500 ml per hari selama dua tahun.

Dikutip dari Daily Star, kasus ini terungkap dalam laporan studi di jurnal BMJ. Mahasiswa berusia 21 tahun ini langsung menjalani perawatan intensif selama empat bulan.

Ia mengalami sesak napas dan berat badannya turun secara drastis. Petugas medis bahkan sempat mempertimbangkan apakah dirinya harus segera melakukan transplantasi organ.

Tes darah, scan, dan pembacaan EKG mengungkapkan bahwa ia mengidap gagal jantung dan ginjal. Penulis studi dari Guy's dan St Thomas 'NHS Foundation Trust di London mengonfirmasi kasus ini.

"Kami melaporkan kasus gagal jantung biventrikel parah yang berpotensi terkait dengan konsumsi minuman energi yang berlebihan pada pria berusia 21 tahun," sebutnya.

"Kardiotoksisitas yang diinduksi minuman energi dianggap sebagai penyebab paling mungkin," jelas penulis.

Tak ada riwayat penyakit

Pasalnya, mahasiswa ini sebelumnya tak memiliki riwayat penyakit apapun. Namun, kebiasaan buruk seperti terbiasa mengonsumsi minuman berenergi dengan masing-masing kaleng mengandung 160 mg kafein disebut jadi pemicunya.

Pasien yang tidak disebutkan namanya ini pertama kali mengeluhkan gejala tremor hingga jantung terasa berdebar. Ia pun kerap terganggu saat mengerjakan tugas kuliahnya.

"Ketika saya minum hingga empat minuman energi per hari, saya menderita tremor dan jantung berdebar-debar, yang mengganggu kemampuan saya untuk berkonsentrasi pada tugas-tugas harian dan studi saya di universitas," bebernya.

"Saya juga menderita sakit kepala migrain parah yang sering terjadi selama saya tidak minum minuman berenergi. Ini juga membatasi kemampuan saya untuk melakukan tugas sehari-hari dan bahkan aktivitas santai seperti pergi ke taman atau berjalan-jalan," tuturnya.

Pengalaman ini sangat traumatis baginya. Usai sembuh, ia mengingatkan semua orang untuk berhati-hati dalam mengonsumsi minuman berenergi.

Baginya, banyak orang yang terjebak karena minuman berenergi sangat adiktif, mirip dengan merokok. Kebiasaan yang sama buruknya.

"Saya pikir label peringatan, mirip dengan merokok, harus dibuat untuk menggambarkan potensi bahaya bahan dalam minuman energi," sarannya.

Seperti diketahui, para pakar kesehatan kerap menjelaskan bahaya mengonsumsi terlalu banyak minuman berenergi. Dalam kasus yang sangat jarang, hal ini bahkan bisa berakibat fatal, seperti kasus yang dialami John Reynolds, pria 41 tahun dari California, yang meninggal karena serangan jantung akibat kebiasaan minum energinya.



Simak Video "Yuk Belajar CPR, Pertolongan Pertama Henti Jantung"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)