Cerita Pemuda Harus Rutin Cuci Darah karena Gagal Ginjal Kronis di Usia 23

Cerita Pemuda Harus Rutin Cuci Darah karena Gagal Ginjal Kronis di Usia 23

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Minggu, 04 Jan 2026 09:50 WIB
Cerita Pemuda Harus Rutin Cuci Darah karena Gagal Ginjal Kronis di Usia 23
Pasien cuci darah karena gagal ginjal. (Foto: Getty Images/saengsuriya13)
Jakarta -

Bagi Kyle Terence Abanto, usia 23 tahun seharusnya menjadi masa keemasan untuk mengejar mimpi sebagai fotografer dan videografer. Namun, bayangan masa depan cerah itu seketika luntur ketika Kyle mengidap gagal ginjal kronis stadium 5 atau chronic kidney disease stage 5.

Di usianya yang belia, ia harus menerima kenyataan bahwa ginjalnya tidak lagi berfungsi dan hidupnya kini bergantung sepenuhnya pada mesin dialisis (cuci darah).

"Ini seperti hukuman seumur hidup tanpa jeruji besi," ungkap Kyle kepada Inquirer. Ia harus menjalani prosedur cuci darah tiga kali seminggu, masing-masing selama empat jam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah Kyle hanyalah satu dari jutaan kasus serupa. Secara global, terdapat tren mengkhawatirkan dengan pasien CKD stadium akhir pada kelompok usia produktif (20-40 tahun) terus meningkat tajam. Di Filipina, tempat Kyle tinggal, diperkirakan ada 7 juta dewasa muda yang mengidap berbagai stadium penyakit ginjal.

Data dari National Kidney and Transplant Institute (NKTI) bahkan menunjukkan angka yang mengejutkan: mayoritas pasien ginjal saat ini (57,44%) berada di rentang usia 20 hingga 59 tahun. Kelompok usia muda ini telah resmi menyalip kelompok lansia (di atas 60 tahun) yang sebelumnya mendominasi statistik penderita ginjal.

ADVERTISEMENT

Di Indonesia sendiri, situasinya tak jauh berbeda; prevalensi penyakit ginjal kronis terus meningkat pada mereka yang berusia di bawah 45 tahun, sering kali baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium kritis.

Biang kerok gagal ginjal sampai cuci darah

Dahulu, penyebab utama gagal ginjal adalah komplikasi penyakit degeneratif atau peradangan penyaring ginjal (glomerulonephritis). Namun, sejak memasuki era 2000-an, polanya berubah total. Gaya hidup "serba instan" dan konsumsi Ultra-Processed Foods (UPF) menjadi pemicu gagal ginjal usia muda.

Kyle mengaku bahwa selama masa mudanya, ia sangat bergantung pada mi instan, makanan kaleng, minuman bersoda, dan camilan asin demi efisiensi waktu saat bekerja.

Tak hanya itu, ia juga rutin mengonsumsi obat pereda nyeri (painkiller) setiap hari tanpa resep dokter hanya agar bisa terus bekerja meskipun tubuhnya merasa sakit.

"Saya tahu ini kesalahan saya, tapi dulu saya tidak tahu lebih baik. Saya hanya makan apa saja yang mudah dimakan, semuanya serba instan karena saya terlalu fokus mengejar target," sesal Kyle.

Depresi berat

Dampak gagal ginjal di usia muda tidak hanya merusak fisik, tetapi juga menghancurkan kesehatan mental. Kyle sempat mengalami depresi berat dan kecemasan karena merasa "dunia berhenti berputar" sementara teman-temannya terus maju.

Ia kehilangan kepercayaan diri saat kulitnya mulai menggelap dan tubuhnya membengkak akibat penumpukan racun.

Kini, setelah berhasil menjalani transplantasi ginjal dari donor yang telah meninggal, Kyle aktif membagikan kisahnya di media sosial. Ia ingin anak muda menyadari bahwa tubuh yang terlihat kuat dan sehat di usia 20-an bisa hancur seketika jika gaya hidup tidak dijaga.

"Kenapa harus saya? Seandainya dulu ada peringatan yang jelas bahwa apa yang saya makan dan minum itu berbahaya, mungkin ceritanya akan berbeda," pungkasnya.

Halaman 2 dari 3
(kna/kna)

Berita Terkait