Rabu, 25 Apr 2012 17:37 WIB

Ulasan Khas

Menanti Lamanya Donor Organ atau Mati di Tengah Jalan

Merry Wahyuningsih - detikHealth
(Foto: thinkstock)
Topik Hangat Ulasan Khas Organ
Jakarta -

Banyaknya penyakit yang menyebabkan gagal organ membuat permintaan untuk donor organ kian menumpuk. Daftar tunggu penerima organ pun semakin panjang, namun hanya sedikit 'pasokan' organ yang dapat dipenuhi. Akhirnya, tidak sedikit pasien yang harus menyerah di tengah jalan.

Menurut data United Network for Organ Sharing (UNOS), hingga saat ini ada 114.056 kandidat daftar tunggu penerima donor organ di Amerika Serikat, seperti dilansir unos.org, Rabu (25/4/2012).

Transplantasi yang sudah dilakukan sejak Januari 2011 hingga Januari 2012 adalah 2.263, sedangkan donor yang tersedia hanya 1.105 orang.

Jika dilihat dari daftar tunggu tersebut, maka ada sekitar 113 ribu jiwa di Amerika Serikat yang harus menunggu lama datangnya pendonor organ yang bisa menyambung hidupnya. Tak jarang, pasien-pasien tersebut harus menyerah dan meninggal dunia sebelum mendapatkan donor.

Jumlah tersebut bisa lebih banyak lagi bila dibandingkan dengan Indonesia yang tidak diperbolehkan menggunakan donor kadaver (jenazah).

Organ donor sangatlah berharga bagi orang yang mengalami gagal organ, seperti gagal ginjal, hati atau paru-paru. Ketiga organ tersebut sebenarnya bisa didapatkan dari donor hidup, baik yang berasal dari keluarga, teman atau bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun.

Sayangnya, tidak semua orang bisa menjadi donor dan kalau pun memenuhi syarat belum tentu organ tersebut dapat diterima dengan baik oleh tubuh baru si penerima organ.

Setelah ditransplantasi dari pendonor, maka tubuh si pasien perlu proses penerimaan organ baru tersebut. Jika tidak ada penolakan organ baru maka pasien bisa bertahan hidup, tapi sebaliknya jika ada penolakan nyawa jadi taruhannya.

Salah satu orang yang sukses menyambung hidup dengan organ baru adalah Dahlan Iskan. Hampir 5 tahun yang lalu tepatnya 6 Agustus 2007, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan harus menjalani transplantasi hati karena menderita kanker hati yang berawal dari hepatitis B yang terlambat diobati.

Dahlan Iskan kini makin menyatu hatinya dengan hati si pendonor. Setelah 5 tahun transplantasi, Dahlan Iskan yang kini berusia 61 tahun, hidupnya makin prima dengan hati barunya.

Contoh penerima cangkok organ lainnya adalah mantan pelatih Timnas Alfred Riedl. Riedl mengumumkan akan melakukan operasi cangkok ginjal sekitar tahun 2006. Begitu rencana operasi cangkok ginjal diumumkan, puluhan penggemar dari berbagai kalangan berbondong-bondong menawarkan diri sebagai donor gijal.

Saat melatih Vietnam, Riedl memang sudah punya masalah ginjal. Pelatih asal Austria tersebut harus melakukan dialisis atau cuci darah hingga 3 kali seminggu karena ginjalnya sudah tidak berfungsi.

Kelainan ginjal tersebut sudah dialami Riedl selama 12 tahun dan makin memburuk justru saat ia dibutuhkan oleh Timnas Vietnam. Beruntung ia punya banyak penggemar setia yang tak ingin tim asuhannya gagal di Piala Asia 2007. Seperti dikutip Dailymail, donor ginjalnya tak lain adalah seorang supporter fanatik di negeri Paman Ho tersebut.

Menurut Dr Nur Rasyid SpU dari departemen urologi RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), saat dihubungi detikHealth, Rabu (25/4/2012), sebagian besar organ yang dipakai dalam transplantasi atau pencangkokan berasal dari donor hidup. Salah satu alasannya, tidak gampang mengambil organ dari donor yang sudah meninggal karena jika sudah terlalu lama maka organnya rusak.

Dr Rasyid menjelaskan, pengambilan organ untuk transplantasi dari donor kadaver hanya bisa dilakukan ketika jantungnya masih berdenyut. Artinya saat diambil, masih ada darah yang mengaliri organ tersebut sehingga masih berfungsi dan belum mengalami kerusakan.




(mer/ir)
Topik Hangat Ulasan Khas Organ