Rabu, 30 Mei 2012 09:47 WIB

Ulasan Khas

Menutupi Aib dengan Aborsi

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
ilustrasi (foto: Thinkstock) ilustrasi (foto: Thinkstock)
Topik Hangat Ulasan Khas Aborsi
Jakarta -

Sementara ada yang bertahun-tahun menikah tapi susah punya anak, beberapa orang malah menganggap kehamilan sebagai aib yang harus ditutupi. Aborsi jadi pilihan untuk menyelamatkan nama baik, meski kadang tidak sesuai dengan suara hati.

Hal ini sering terjadi pada perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan, terutama yang terjadi di luar nikah. Naluri sebagai seorang calon ibu seringkali menggerakkan hatinya untuk merawat janin dalam kandungannya, agar kelak bisa lahir dengan selamat.

Namun kenyataanya, seringkali pasangannya merasa tidak siap untuk jadi bapak dan akhirnya tidak mau bertanggung jawab. Kalau sudah begitu, keluarga jadi ikut-ikutan panik dan akhirnya terbesit keinginan untuk mengambil jalan pintas dengan menghentikan kehamilan lewat aborsi.

"Dalam kondisi seperti ini, perempuan mengalami stres yang sangat tinggi. Pertama karena tidak mau aborsi tapi dipaksa, kedua karena trauma akibat proses aborsi yang memang menyakitkan," kata Inna Hudaya, seorang konselor bagi pelaku aborsi saat dihubungi detikHealth, Rabu (30/5/2012).

Aborsi yang dilakukan karena terpaksa termasuk dalam kategori aborsi tidak aman. Aborsi baru dikatakan aman jika dikerjakan oleh dokter di klinik yang resmi, ditindaklanjuti dengan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada komplikasi dan yang terpenting harus didahului dengan konseling.

Pentingnya konseling pra-aborsi salah satunya untuk memastikan bahwa tindakan ini benar-benar merupakan pilihan si perempuan yang sedang hamil, bukan atas desakan keluarga atau pasangan yang tidak mau bertanggung jawab. Risiko baik fisik maupun kejiwaan juga akan sangat ditekankan saat konseling.

Demikian juga setelah aborsi, perempuan kadang-kadang masih akan terbebani oleh perasaan bersalah hingga rentan mengalami depresi. Bahkan bukan cuma trauma secara kejiwaan, penderitaan ini kadang masih diperparah dengan trauma fisik karena proses aborsi umumnya sangat menyakitkan.

Inna mengatakan, aborsi bukan satu-satunya pilihan saat perempuan mengalami kehamilan yang tidak direncanakan. Pilihan lainnya adalah melanjutkan kehamilan sampai anaknya lahir lalu dibesarkan dengan maupun tanpa pasangan, atau bisa juga memilih alternatif ketiga yakni adopsi.

"Kalau pilih adopsi, perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak direncanakan bisa tinggal dulu di shelter sampai anaknya lahir. Begitu anaknya lahir, dia bisa dibantu mencarikan orangtua angkat. Sepertinya agak repot, tapi selama ini mudah kok," kata Inna.

 

 

 

 

(up/ir)
Topik Hangat Ulasan Khas Aborsi