Pengalaman Orangtua yang 3 Anaknya Mati Karena Madat

Ulasan Khas

Pengalaman Orangtua yang 3 Anaknya Mati Karena Madat

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Rabu, 06 Jun 2012 13:06 WIB
Pengalaman Orangtua yang 3 Anaknya Mati Karena Madat
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Dampak penyalahgunaan Napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya) bisa sangat fatal. Sebuah keluarga di Jakarta Pusat pernah kehilangan anak yang meninggal karenanya, bahkan tidak hanya satu melainkan 3 anak sekaligus.

Yatimah, janda berusia 53 tahun benar-benar merasakan getirnya kehidupan ketika harus merelakan 3 anaknya meninggal karena Napza dalam 10 tahun terakhir. Yang lebih menyedihkan, 2 dari 3 anak tersebut meninggal di usia yang sangat belia yakni sekitar 20-an tahun.

Perempuan yang tinggal di daerah Cikini tersebut mengisahkan, pengalaman pertamanya kehilangan anak karena Napza terjadi pada tahun 1998. Ketika itu, anak nomor 3, sebut saja Budi meninggal setelah terinfeksi HIV (Human Imunnodeficiency Virus) serta mengalami komplikasi diare dan gagal ginjal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Budi mulai mengenal Napza saat duduk di bangku SMP, bermula saat teman-temannya memaksanya minum pil koplo. Sejak itu ia berkenalan dengan jenis Napza yang lain, termasuk putaw saat pindah sekolah ke sebuah daerah padat penduduk yang memang dikenal sebagai sarangnya para bandar.

Novi (39 tahun), kakak tertua Budi mengisahkan bahwa adik laki-lakinya itu mengalami perubahan perilaku sejak mengenal putaw. Budi yang semula baik, mulai suka mencuri uang kakaknya dan menjual barang-barang milik ibunya termasuk baju mengaji dan mesin jahit demi mendapatkan barang tersebut.

Di saat Budi mengalami masalah dengan ketergantungan Napza, anak Yatimah yang keempat, sebut saja Mawan malah ditangkap polisi dengan tuduhan menjadi kurir putaw lalu dihukum 2 tahun penjara. Padahal di mata keluarga, Mawan tidak pernah ketahuan sedang menggunakan Napza apalagi sampai kecanduan.

Pada saat yang sama, Budi jatuh sakit dan hasil pemeriksaan darah menunjukkan anak tersebut positif terinfeksi HIV. Keterbatasan informasi pada saat itu membuat Budi dan keluarganya yang lain patah semangat dan menganggap diagnosis itu sebagai vonis mati.

"Waktu itu, kami tahunya HIV nggak bisa diobati. Malah kata orang-orang, kalau dibawa ke Rumah Sakit (menyebut nama rumah sakit besar) paling-paling cuma disuntik mati. Dan yang paling menyakitkan, susternya bilang ke Budi agar sebaiknya pulang saja biar tidak menulari pasien lain," kata Novi saat ditemui detikHealth di rumahnya, Selasa malam (5/6/2012).

Tak tahan dengan perilaku suster yang diskriminatif, akhirnya Budi ngotot ingin pulang dan dirawat di rumah. Dalam kondisi sakit parah dan badannya sudah kurus kering, Budi hanya bertahan 2 hari sebelum akhirnya meninggal di usia 21 tahun karena komplikasi di ginjal.

Beberapa tahun kemudian, anak keenam Yatimah, sebut saja Juni kembali terjerumus dalam penyalahgunaan Napza dan akhirnya juga meninggal akibat infeksi HIV sekaligus TB (Tuberculosis). Juni meninggal karena penyakitnya tersebut pada sekitar tahun 2001 di usia 26 tahun.

Saat Juni jatuh sakit, sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang dikelola Ibu Melani dan dr Aisyah Dahlan sudah mulai masuk ke Cikini yang saat itu dikenal sebagai salah satu pusat peredaran Napza. LSM itu telah berhasil mengubah pandangan Novi dan Yatimah tentang ketergantungan Napza.

"Tadinya saya galak banget sama adik-adik, apalagi kalau ketahuan jadi pecandu. Tapi belakangan saya jadi tahu, bahwa orang kecanduan itu sebenarnya ingin berhenti tetapi rasanya sakit. Sejak itu saya ubah pendekatannya, jadi tidak terlalu galak," tutur Novi.

Namun cobaan masih datang bertubi-tubi di keluarga ini. Mawan yang sudah bebas dari hukumannya sebagai kurir Napza, malah mengikuti jejak 2 adiknya yang lebih dulu pergi menghadap Yang Maha Kuasa. Saat dibui di Rutan Salemba, Mawan justru makin dekat dengan Napza dan akhirnya kecanduan juga.

Mawan akhirnya dikirim ke panti rehabilitasi dengan dibantu oleh BNN (Badan Narkotika Nasional). Namun belum tuntas prosesnya, Mawan pilih kembali ke rumah dan seperti yang dikawatirkan sebelumnya, Mawan bergaul lagi dengan lingkungan lamanya dan akhirnya lagi-lagi tertangkap polisi.

Nasib Mawan cukup mujur karena kali ini ia tidak harus dibui di Salemba seperti sebelumnya. Ia dikirim ke Ambarawa, yang dikatakan oleh Novi lebih bersih dari perdagangan Napza. Di tempat itulah, Mawan benar-benar punya waktu untuk membebaskan diri dari ketergantungannya.

Selepas dari tahanan di Ambarawa, Mawan sempat menyatakan kebulatan tekad untuk benar-benar STOP mengonsumsi Napza. Niat tersebut sangat disyukuri oleh keluarga, sebab Mawan masih sempat sadar di saat-saat terakhirnya meski kemudian sama-sama didiagnosis HIV positif dan akhirnya meninggal di usia 31-an tahun.

Novi sebagai anak tertua dari 10 bersaudara sangat terpukul atas kepergian ketiga adik tercintanya. Namun perempuan berjilbab ini berharap kenangan pahit tersebut bisa menjadi pelajaran berharga bagi kedua anak laki-lakinya yang kini berusia 15 tahun dan 10 tahun agar selalu menjauhi Napza.



(up/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads