Rabu, 25 Jul 2012 11:06 WIB

Ulasan Khas Tobat Merokok

Fatwa Haram Rokok Tak Bikin Orang Takut Merokok

- detikHealth
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 2009 telah memutuskan fatwa bahwa merokok haram hukumnya bagi wanita hamil, anak-anak, remaja dan jika dilakukan di tempat umum.

Fatwa haram ini kemudian diikuti oleh Muhammadiyah yang mengeluarkan fatwa yang sama. Namun Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan fatwa bahwa merokok hukumnya makruh.

Tapi kenapa meski sudah ada fatwa haram rokok, masih banyak orang yang tak takut merokok?

"Efektifitas dari fatwa haram tersebut bisa dilihat dari sejauh mana kesadaran masyarakat untuk berhenti merokok serta sejauh mana regulasi di tingkat struktur untuk memberlakukan pembatasan aktifitas merokok. Fungsi dari fatwa MUI adalah berupaya memberi perlindungan secara optimal kepada mayarakat," kata Dr H.M. Asrorun Ni'am Sholeh, Sekretaris Komisi Fatwa MUI ketika dihubungi detikHealth, Rabu (25/7/2012).

Keputusan fatwa haram ini diperoleh dengan mempertimbangkan aspek kesehatan dan perlindungan terhadap orang lain yang tidak merokok. Meskipun masih banyak umat muslim yang merokok, fatwa MUI ini seolah memberi angin segar bagi gerakan anti rokok. Berbagai macam kebijakan pemerintah daerah yang membatasi promosi, penjualan dan penggunaan rokok mulai marak digalakkan di Indonesia.

"Akibat fatwa MUI, banyak sekali pemerintah daerah yang kemudian memberlakukan larangan merokok di tempat umum, misalnya di Padang Panjang dan DKI Jakarta. Salah satu efektifitasnya juga bisa terlihat di Kementerian kesehatan berupa penyusunan Undang-undang Kesehatan dan RPP Pengendalian Tembakau," kata Ni'am.

Putusan fatwa haram yang dihasilkan dari Ijtima' Ulama Fatwa III MUI di Kabupaten Padang Panjang, Sumatera Barat itu sudah bersifat final, jadi sudah tidak dapat diotak-atik lagi. Dasar hukumnya mengacu pada ayat Alquran dan Hadis yang intinya menjelaskan bahwa segala sesuatu yang lebih banyak menimbulkan kemudharatan sebaiknya ditinggalkan.

Ni'am menjelaskan, pendapat para ulama terhadap hukum rokok secara umum dibagi menjadi 2, yaitu antara makruh dan haram. Kedua hukum tersebut sebenarnya sama-sama menganggap rokok dilarang dan perlu ditinggalkan. Meskipun diwarnai pertentangan pendapat, para ulama akhirnya menemukan kesepahaman bahwa rokok memang perlu dibatasi penggunaannya, terutama pada kelompok-kelompok yang berisiko dirugikan kesehatannya.

"Forum tersebut dihadiri oleh berbagai ulama dari organisasi kemasyarakatan, lembaga Islam dan universitas Islam di Indonesia. Jadi fatwa merokok haram bagi kalangan tertentu seperti yang disebutkan di atas merupakan hasil keputusan bersama, bukan hanya keputusan MUI saja," pungkas Ni'am.

Dalam Islam terdapat 5 tingkatan hukum untuk mengatur perilaku umat, yaitu wajib, sunnah, makruh, haram dan mubah. Wajib artinya harus dilakukan. Sunnah artinya tidak wajib dilakukan, namun jika dilakukan mendapat pahala. Makruh artinya sebaiknya tidak dilakukan, namun jika dilakukan tidak apa-apa. Haram artinya tidak boleh dilakukan dan Mubah artinya boleh dilakukan.

Dengan adanya fatwa haram ini, diharapkan akan mendorong sebagian besar penduduk di Indonesia yang mayoritas memeluk Islam untuk menghentikan atau setidaknya mengurangi kebiasaan merokoknya.

Namun sayangnya, jumlah perokok di Indonesia masih tetap mengalami kenaikan, terutama di kalangan remaja akibat rendahnya regulasi pembatasan atusan rokok dari pemerintah.





(pah/ir)