"Cukup banyak juga saya dengar kasus mati suri, tapi saya tidak tahu penyebabnya apa karena belum pernah ada penelitian tentang itu. Karena secara fisik begitu diperiksa kondisinya sama seperti orang meninggal," ujar dr Manfaluthy Hakim, SpS dari departemen neurologi FKUI saat dihubungi detikHealth dan ditulis Rabu (1/7/2012).
Sementara psikolog sosial Rubiana Soeboer dalam bukunya Mati Suri yang dilansir detikHealth, Rabu (1/8/2012) menuturkan perkembangan teknologi dibidang medis turut mempengaruhi dan menghadapkan manusia pada perubahan batasan mengenai kehidupan dan kematian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi lainnya yang juga turut mempengaruhi semakin banyaknya orang yang mengalami mati suri juga terkait dengan adanya kecenderungan peningkatan kasus bunuh diri pada tahun-tahun terakhir ini.
Bagi orang yang mengalami mati suri akan mendapati bahwa kehidupan merupakan proses belajar yang harus dilalui oleh seseorang. Namun tindakan bunuh diri membuat proses belajar seseorang tidak terselesaikan, dan kadang pembelajaran ini didapatkan dalam proses mati suri.
Studi yang dilakukan oleh Rommer tahun 2003 mengungkapkan sekitar 55 persen subjek yang berusaha bunuh diri mengalami pengalaman mati suri tipe kedua yaitu kekosongan yang abadi, 18 persen mengalami mati suri tipe ketiga yaitu yang mengerikan dan sisanya mengalami mati suri tipe keempat yaitu penghakiman.
Mati suri kadang didefinisikan sebagai keadaan seperti mimpi dan pengalaman mengganggu yang berasosiasi dengan penggunaan obat-obatan. Perasaan sadar terpisah dari tubuh sering dirujuk sebagai pengalaman keluar tubuh.











































