"Jangan pakai kata 'pojok ASI', konotasinya kok di pojok," kata Dr Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM, pakar laktasi dari RS St Carolus, Jakarta saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Rabu (28/11/2012).
Bagi sebagian orang, penggunaan kata 'pojok' memang bermakna negatif karena mengesankan bahwa menyusui tidak lebih penting dari aktivitas lain sehingga harus dilakukan sambil 'mojok' alias menyingkir ke pojok. Kesan lain dari kata pojok adalah tempat yang sempit dan seadanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Mia menuturkan istilah Pojok ASI sebenarnya kurang tepat karena jelas-jelas dalam peraturan disebutkan sebagai sebuah ruangan yang berarti membutuhkan sebuah tempat yang layak dan bukan hanya sekadar di pojokan.
Di telinga para pengguna ruang menyusui, istilah pojok ASI juga terdengar kurang nyaman. Setidaknya bagi Tiwi (31 tahun), ibu muda yang bekerja sebagai sekretaris di sebuah kantor di kawasan Jl Sudirman, Jakarta Selatan dan sering memanfaatkan ruang menyusui di kantor maupun tempat umum.
"Ibu menyusui itu kan seharusnya dihargai, ibu yang mau menyusui harus diapresiasi," kata Tiwi yang sepakat jika salah satu bentuk apresiasinya adalah dengan memberikan tempat yang layak dan sepantasnya untuk memompa ASI atau memberikan ASI kepada bayinya.
Berdasarkan pengalaman Tiwi di sebuah rumah sakit kecil, ruang menyusui yang diberi nama 'Pojok ASI' benar-benar terletak di pojok dengan fasilitas sangat minimalis. Di tempat itu hanya ada satu bangku kecil dan tirai sebagai penutup, serta papan penunjuk bertuliskan 'Pojok ASI'.
Lalu istilah apa yang paling tepat untuk menyebut ruangan untuk ibu yang hendak menyusui maupun memerah ASI?
"Pakai saja ruangan menyusui. Kalau pakai kata laktasi, istilahnya asing bagi orang-orang, nggak banyak yang tahu. Yang enak ya ruangan menyusui saja," kata Dr Utami Roesli yang merupakan saudara kandung seniman kondang alm Harry Roesli ini.
(up/)










































