Halo Calon Pengantin Pria, Sudahkan Anda Lulus Tes-tes Ini?

Ulasan Khas Cek Kesehatan Pranikah

Halo Calon Pengantin Pria, Sudahkan Anda Lulus Tes-tes Ini?

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Rabu, 16 Jan 2013 10:03 WIB
Halo Calon Pengantin Pria, Sudahkan Anda Lulus Tes-tes Ini?
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Ibarat membeli kucing di dalam karung, demikian pula halnya membina rumah tangga tanpa didahului premarital medical check up atau pemeriksaan kesehatan sebelum menikah. Siapa tahu diri sendiri atau pasangan memiliki gangguan kesehatan yang bisa berakibat buruk bagi bayi atau pasangan.

"Calon pengantin perlu menjalani pemeriksaan untuk mengetahui kondisi masing-masing. Siapa tahu walau sudah kenal bertahun-tahun, ternyata ada kondisi yang berbahaya bagi keturunan atau pasangan," kata Astri Setiyawati dari Laboratorium Klinik Prodia kepada detikHealth seperti ditulis Rabu, (16/1/2013).

Kedua pasangan yang akan menikah perlu menjalani beberapa pemeriksaan. Walau ada beberapa jenis, sebenarnya prosedurnya singkat dan cukup sederhana. Pasangan hanya diambil sampel darahnya lalu diuji di laboratorium untuk mengetahui kelainan atau penyakit yang berpotensi bahaya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada pria, pemeriksaan yang dilakukan relatif lebih sedikit ketimbang wanita. Wanita membutuhkan pemeriksaan tambahan untuk menjamin bayi yang dikandungnya tidak terinfeksi parasit yang mungkin menyerang ibunya. Tes premarital check up yang diperlukan pria antara lain adalah:

1. Hematologi Rutin
Bertujuan mengetahui cukup atau tidaknya jumlah sel darah, mengetahui adanya penyakit darah, seperti thalasemia, anemia, kanker darah, infeksi, kecenderungan pembekuan darah dan lain-lain. Yang diperiksa adalah kadar hemoglobin, jumlah sel darah merah, sel darah putih, trombosit, jenis sel darah putih dan laju endap darah.

2. Analisa Hemoglobin
Pemeriksaan kadar hemoglobin dilakukan dengan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Tujuannya untuk mengetahui adanya penyakit darah, terutama Thalassemia. Thalassemia adalah penyakit di mana sel darah merah berumur sangat pendek dibanding sel darah merah normal. Penderita harus menjalani transfusi darah sekali sebulan untuk mendapat pasokan sel darah merah.

Penyakit ini adalah penyakit keturunan. Orang yang memiliki gen carier Thalassemia sebaiknya jangan menikah dengan sesama carier sebab ada kemungkinan anaknya akan mengalami Thalassemia mayor seperti yang disebutkan di atas. Sedangkan pemilik gen carier tidak mengalami gejala apapun.

3. Urine Rutin
Pemeriksaan ini berfungsi untuk memantau fungsi ginjal, penyakit ginjal, kemungkinan terjadinya infeksi saluran kemih, batu ginjal atau tumor.

4. Golongan Darah A, B, O dan Rhesus
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui golongan darah berdasarkan sistem ABO dan Rhesus. Bagi pasangan yang memiliki golongan darah dengan Rhesus yang berbeda, yaitu positif dengan negatif, janin yang dikandung bisa terancam.

Apabila janin ternyata memiliki Rhesus yang berbeda dengan milik ibunya, maka ia akan dianggap sebagai benda asing dan sistem kekebalan tubuh ibu akan menyerang janin. Dokter bisa memberikan obat untuk mengatasi kelainan rhesus ini, namun risiko pada bayi tetap ada.

5. Gula darah
Tes ini bertujuan untuk mendeteksi adanya kemungkinan penyakit diabetes melitus atau kencing manis. Ibu hamil yang memiliki diabetes tak terkontrol dapat menimbulkan masalah bagi ibu maupun janinnya. Pada pria, pemeriksaan ini juga perlu untuk mengetahui kondisi fisik secara keseluruhan. Apalagi keturunan pengidap diabetes juga berisiko mengidap diabetes.

6. HBsAg
Tes ini dilakukan untuk mengetahui adanya infeksi virus Hepatitis B yang dapat menimbulkan sirosis atau kerusakan jaringan hati dan kanker hati. Virus ini dapat menular lewat hubungan seksual, ciuman, kontak langsung dengan darah penderita, dan dari ibu ke janin di kandungan maupun saat persalinan.

Penanda awal adanya virus ini adalah dengan mengukur HBsAg. Segera konsultasikan dengan dokter apabila pemeriksaan menemukan hasilnya positif. Dokter dapat memberikan vaksinasi sebelum terlambat.

7. VDRL/RPR
VDRL (Venereal Disease Research Laboratory) dan RPR (Rapid Plasma Reagin) adalah tes untuk mendeteksi penyakit sifilis. Penyakit ini berbahaya sebab bisa menyerang hampir semua organ tubuh, termasuk jantung dan susunan saraf otak. Janin dalam rahim ibu yang tertular sifilis dapat mengalami keguguran, lahir mati atau hidup dengan gejala sifilis di kemudian hari.

(pah/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads