Pemeriksaan kesehatan sebelum menikah biasa disebut dengan premarital medical check up. Tujuannya untuk mendeteksi adanya penyakit atau gangguan yang bisa menular kepada pasangan atau membahayakan bayi yang dikandung nantinya. Walau tujuannya baik, banyak orang yang masih skeptis.
"Bagi calon pasangan yang mau menikah masih ada ketakutan akan membuat pernikahan jadi batal. Ini yang masih jadi kendala. Padahal kalau mau terbuka, mengetahui penyakit yang ditularkan dan diturunkan agar masa depan keluarga terjamin kebahagiannya," kata Astri Setiyawati dari Laboratorium Klinik Prodia kepada detikHealth seperti ditulis Rabu, (16/1/2013).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Taruh saja penyakit genetik seperti Thalasemia. Apabila kedua orang tua ternyata merupakan pembawa gen carier, maka anak yang dikandung memiliki kemungkinan 25% mengidap Thalasemia. Penyakit ini membuat sel darah merah cepat rusak sehingga penderitanya harus menjalani transfusi darah setiap bulan.
Masalah juga bisa muncul apabila pasangan memiliki golongan darah dengan rhesus yang berbeda. Bayi yang dikandung dari pasangan ini bisa jadi memiliki golongan darah dengan rhesus yang berbeda dengan ibunya. Apabila terjadi, maka bayi akan dianggap benda asing dan diserang oleh sistem kekebalan tubuh ibu.
Ada juga bermacam penyakit menular seksual yang tidak disadari menghuni salah satu pasangan. Walau kemungkinan munculnya penyakit-penyakit ini terhitung kecil, tidak ada salahnya meminimalisir risiko.
Di Indonesia sendiri, kesadaran masyarakat akan pentingnya pre marital check up belum begitu tinggi. Walau demikian, nampaknya jumlah pasangan yang menjalaninya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
"Sejak kami mulai melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pre marital check up di tahun 2009, jumlah pasien kami sampai saat ini mengalami kenaikan. Mungkin jumlahnya masih belum terlalu signifikan, tapi trennya terus naik," imbuh Astri.
(pah/vit)











































