Tes Kesehatan Pranikah, Penting Tapi Kerap Diabaikan

Ulasan Khas Cek Kesehatan Pranikah

Tes Kesehatan Pranikah, Penting Tapi Kerap Diabaikan

- detikHealth
Rabu, 16 Jan 2013 14:14 WIB
Tes Kesehatan Pranikah, Penting Tapi Kerap Diabaikan
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Kalau menurut orang-orang tua, memilih pasangan hidup perlu mempertimbangkan bibit, bebet dan bobotnya. Namun agaknya ada hal yang lebih penting, yaitu kondisi kesehatan masing-masing pasangan. Sayangnya masih banyak pasangan yang kurang begitu menganggapnya penting.

Pemeriksaan kesehatan sebelum menikah biasa disebut dengan premarital medical check up. Tujuannya untuk mendeteksi adanya penyakit atau gangguan yang bisa menular kepada pasangan atau membahayakan bayi yang dikandung nantinya. Walau tujuannya baik, banyak orang yang masih skeptis.

"Bagi calon pasangan yang mau menikah masih ada ketakutan akan membuat pernikahan jadi batal. Ini yang masih jadi kendala. Padahal kalau mau terbuka, mengetahui penyakit yang ditularkan dan diturunkan agar masa depan keluarga terjamin kebahagiannya," kata Astri Setiyawati dari Laboratorium Klinik Prodia kepada detikHealth seperti ditulis Rabu, (16/1/2013).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketakutan ini sebenarnya terlalu berlebihan sebab menemukan kelainan dan penyakit pada pasangan bukan berarti lantas membuat pernikahan menjadi batal. Dengan mengetahuinya sejak dini, pasangan dapat mempersiapkan diri terhadap kemungkinan yang terjadi. Kalau kejadian buruk justru terjadi setelah menikah, tentu kekecewaan yang dialami pasangan akan lebih besar.

Taruh saja penyakit genetik seperti Thalasemia. Apabila kedua orang tua ternyata merupakan pembawa gen carier, maka anak yang dikandung memiliki kemungkinan 25% mengidap Thalasemia. Penyakit ini membuat sel darah merah cepat rusak sehingga penderitanya harus menjalani transfusi darah setiap bulan.

Masalah juga bisa muncul apabila pasangan memiliki golongan darah dengan rhesus yang berbeda. Bayi yang dikandung dari pasangan ini bisa jadi memiliki golongan darah dengan rhesus yang berbeda dengan ibunya. Apabila terjadi, maka bayi akan dianggap benda asing dan diserang oleh sistem kekebalan tubuh ibu.

Ada juga bermacam penyakit menular seksual yang tidak disadari menghuni salah satu pasangan. Walau kemungkinan munculnya penyakit-penyakit ini terhitung kecil, tidak ada salahnya meminimalisir risiko.

Di Indonesia sendiri, kesadaran masyarakat akan pentingnya pre marital check up belum begitu tinggi. Walau demikian, nampaknya jumlah pasangan yang menjalaninya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

"Sejak kami mulai melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pre marital check up di tahun 2009, jumlah pasien kami sampai saat ini mengalami kenaikan. Mungkin jumlahnya masih belum terlalu signifikan, tapi trennya terus naik," imbuh Astri.


(pah/vit)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads