Rabu, 01 Mei 2013 08:00 WIB

Ada Apa dengan Asma?

Sesak Napas Belum Tentu Asma, Apa Bedanya?

Erninta Afryani Sinulingga - detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Topik Hangat Ada Apa dengan Asma?
Jakarta -

Menurut istilahnya, penyakit asma berasal dari kata asthma yang artinya susah bernapas atau sesak napas. Walau demikian, bukan berarti setiap gejala sesak napas lantas bisa disebut asma. Ada beberapa hal yang membedakan asma dengan sesak napas biasa.

"Kalau asma itu nama penyakit, sedangkan sesak napas adalah gejala. Jadi bisa dibilang sesak napas belum tentu asma dan asma belum tentu sesak napas," terang prof dr Faisal Yunus, SpP(K), MD, PhD, spesialis paru RS MH Thamrin ketika dihubungi detikHealth dan ditulis Rabu (1/5/2013).

Prof Faisal menerangkan, sesak napas sebenarnya tidak hanya dialami pasien asma saja. Orang dengan penyakit TBC, batuk, kelainan paru, kelainan darah, kelainan jantung, kelainan lambung, hati dan ginjal juga bisa mengalami gejala sesak napas.

"Asma itu penyakit inflamasi kronik saluran napas yang sensitif terhadap berbagai rangsangan yang menimbulkan penyempitan saluran napas yang bisa membaik secara spontan atau dengan pengobatan," terang dr Faisal.

Tak hanya sesak napas saja, prof Faisal menjelaskan bahwa gejala asma umumnya meliputi batuk-batuk, napas berbunyi, lama-kelamaan barulah terjadi sesak napas dan muncul rasa tertekan di dada.

Sekilas, gejala asma memang mirip dengan penyakit penapasan lain sehingga membuat asma sering salah didiagnosis. Di sisi lain, pengidap asma juga seringkali tidak menyadari penyakitnya dan hanya tahu sering batuk di malam hari atau merasa sulit bernapas saat udara dingin.

Nyatanya, asma bisa dipicu oleh berbagai sebab yang berbeda pada setiap pengidapnya. Penyempitan saluran napas yang menyebabkan asma dapat dipicu oleh berbagai rangsangan seperti alergi, debu, bulu binatang, asap, udara dingin hingga olahraga.

"Penyebabnya karena inflamasi kronik di saluran napas yang sensitif. Kalau dingin, debu atau flu itu belum tentu jadi penyebab karena jika pada orang yang tidak mengalami inflamasi tersebut ya tidak akan apa-apa," papar prof Faisal.

Untuk mendiagnosa asma, dokter akan menggunakan kombinasi pemeriksaan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik dan tes laboatorium dengan spirometri, yaitu metode pengukuran hirup dan hembus napas dari paru-paru. Tes alergi juga sering dilakukan untuk menentukan pemicu asma.

(pah/up)
Topik Hangat Ada Apa dengan Asma?