Rabu, 22 Mei 2013 10:02 WIB

Ulasan Khas Mata Sehat

Kacamata Tebal pada Orang Tua Besar Kemungkinan Menurun pada Anak

Erninta Afryani Sinulingga - detikHealth
ilustrasi (Foto: Getty Images)
Jakarta - Orang tua yang memakai kacamata tebal akibat minus tinggi seringkali memiliki anak yang juga memiliki mata dengan minus tinggi. Ya, genetika memiliki kontribusi pada kelainan refraksi mata seseorang.

"Umumnya pada minus tinggi terdapat kontribusi faktor genetik, namun tidak sepenuhnya karema kebiasaan atau pekerjaan juga berperan. Juga ada faktor-faktor lain yang tidak sepenuhnya diketahui," tutur dr Gitalisa Andayani SpM, spesialis mata dari Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RS Cipto Mangunkusumo Kirana, dalam perbincangan dengan detikHealth, Rabu (22/5/2013).

Orang tua yang memiliki sumbu bola mata lebih panjang dari normal, umumnya juga akan memiliki keturunan dengan sumbu bola mata yang lebih panjang dari normal.

Selain karena faktor genetik, gaya hidup juga berpengaruh pada minus seseorang. Orang yang tinggal di perkotaan umumnya lebih banyak yang mengenakan kacamata ketimbang orang desa. Hal ini karena sejak kecil orang di perkotaan lebih jarang keluar rumah sehingga membuat mata jarang kena sinar matahari.

Perbedaan intensitas cahaya lampu dengan matahari memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan mata, khususnya jarak antara lensa dengan retina. Karena cahaya lampu relatif lebih redup, berbagai komponen mata tidak berkembang dengan baik sehingga bayangan tidak jatuh tepat pada retina. Akibatnya penglihatan jadi kabur dan harus dibantu dengan kacamata minus agar pandangan jadi lebih fokus.

Teori ini bukan sebatas dugaan, karena sudah dibuktikan dalam berbagai penelitian. Salah satunya seperti yang dimuat dalam jurnal Archieve of Opthamology, yang melibatkan anak-anak keturunan China usia 6-7 tahun yang tinggal di Australia dan Singapura, demikian dilaporkan NYTimes.

Kedua populasi anak-anak tersebut memiliki faktor genetik yang sama, dalam arti jumlah orangtua yang juga mengalami rabun jauh. Namun populasi yang tinggal di Singapura, jumlah anak yang menderita rabuh jauh mencapai 29 persen atau 9 kali lebih banyak dari Australia.

Faktor yang membedakan antara keduanya adalah gaya hidup, karena ternyata anak-anak di Singapura lebih jarang beraktivitas di luar ruangan. Anak-anak di Singapura rata-rata hanya keluar rumah 3 jam/pekan, sedangkan di Australia durasinya mencapai 14 jam/pekan.

"Untuk mengurangi risiko mata minus, caranya sangat mudah. Biarkan anak-anak bermain dan menghabiskan waktunya lebih lama di luar rumah," ungkap Sandra Aamodt, seorang profesor biologi molekuler dari Princeton University.

Pencegahan gangguan penglihatan dengan mengasup vitamin A tidak terbukti secara ilmiah mengurangi minus seseorang, apalagi jika memiliki faktor genetik. Kebiasaan menonton TV atau bermain komputer terlalu lama dan posisi membaca yang salah juga berkontribusi membuat mata lelah yang pada akhirnya bisa membuat kelainan refraksi mata.

Lalu berapakah minus, plus, atau silinder paling parah pada manusia? "Kacamata minus 6 ke atas kita anggap miopia (rabun jauh) tinggi, namun kisaran cukup luas. Ada pasien yang minus 30 namun rekornya berapa, saya tidak tahu," kata dr Gita.

(vit/vit)