Senin, 02 Des 2013 11:56 WIB

Pendidikan Seks Usia Dini

Saat Anak Punya Kebiasaan Mandi Bersama Orang Tua, Kapan Harus Dihentikan?

Nurvita Indarini - detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Beberapa orang tua membiasakan anaknya mandi bersama dengan dirinya, dengan berbagai alasan. Misalnya untuk lebih menghemat waktu, atau sekaligus untuk memberikan pendidikan seks kepada anak terkait anatomi tubuh. Bijakkah memberikan pendidikan tentang anatomi tubuh sambil mandi bersama? Kapan kebiasaan ini sebaiknya dihentikan?

"Usia 5 tahun adalah batasnya bisa mandi bareng dengan orang tuanya. Lebih dari itu jangan mandi bareng, karena organ reproduksi sudah mulai lebih berkembang," kata psikolog anak, Efnie Indrianie, saat berbincang dengan detikHealth dan ditulis pada Senin (2/12/2013).

Ketika organ reproduksi sudah mulai berkembang, maka respons seksual mulai dirasakan. "Karena ada anak kecil laki-laki yang saat nonton televisi dan tanpa disadari ada yang sensual, dia bisa ereksi. Ini dia antara ngerti nggak ngerti, tapi yang jelas respons sensual mulai dirasakan," lanjut Efnie.

Dalam kesempatan berbeda, konsultan kesehatan mental dan psikologi forensik anak dan dewasa, dr Inneke Limuria, mengatakan pentingnya anak mulai dilatih untuk membersihkan alat kelamin dan anus sendiri usai buang air besar, saat mereka sudah dianggap mampu. Jika anak terus-terusan diceboki oleh orang tuanya, pada saat organ reproduksi berkembang, maka anak-anak akan mulai menikmatinya sebagai rasangan seksual.

"Anak 0-5 tahun boleh mandi bersama, mulai dikenalkan tentang alat kelaminnya. Di usia 6, 7, 8, jika anak memiliki mental yang sehat sebenarnya mereka sudah mulai bisa melakukan segala sesuatu sendiri atau lebih mandiri. Jadi saat usia ini, jangan lagi diperlakukan seperti anak kecil," kata dr Inneke dalam parenting talkshow yang digelar Stella Maris International Education di Bethsaida Hospital, Jl Boulevard Gading Serpong Paramount, Tangerang.

"Jika anak perempuan, misalnya, terus-terusan diceboki ayahnya, maka dia akan mengalami sentuhan kenikmatan dari pria sebelum waktunya. Ini sebaiknya tidak diteruskan kepada anak yang mentalnya normal," imbuhnya.

Sementara itu Efnie menambahkan anak yang tinggal bersama orang tua atau orang dewasa yang sudah menikah lainnya, bisa saja terjadi anak memergoki orang tuanya sedang berhubungan intim. Jika anak melihat hal ini, orang tua sebaiknya segera menghentikan aktivitasnya, dan kemudian memberikan penjelasan yang masuk akal bagi mereka.

"Perlihatkan bahwa orang tua memiliki buku nikah, di mana aktivitas seperti itu boleh dilakukan. Apalagi sebelum menikah papa dan mama sudah melakukan pemeriksaan sehat, hanya punya satu pasangan, dan setia pada pasangannya," terang Efnie.

Orang tua tidak perlu menutup-nutupi jika 'tertangkap basah' sedang melakukan hubungan intim oleh anak. Namun orang tua perlu menekankan bahwa anak tersebut, di usia yang sudah matang dan sudah menikah seperti orang tuanya, juga bisa melakukan hubungan seksual.

"Jadi harus tunggu dulu, misalnya sampai usia 25 tahun di mana organ reproduksinya sudah benar-benar matang dan siap. Juga saat sudah punya pasangan sah karena menikah, yang mana dibuktikan dengan buku nikah. Jadi tertanam dalam benak anak bahwa menikah itu tidak bisa asal-asalan," lanjutnya.

(vit/up)