Saat orgasme, alat kelamin pria mengalami kontraksi yang cukup kuat sehingga mampu menyemburkan sperma dengan kecepatan 48 km/jam, dan bahkan kadang-kadang mencapai 69,2 km/jam. Cukup cepat bukan? Nah, semburan sperma yang terlalu kencang terkadang diikuti keluhan pegal dan bahkan kram.
"Saat ejakulasi, seluruh tubuh akan mengalami kontraksi. Makanya bisa timbul pegal, tapi itu normal, tergantung dari tingkat kebugaran individunya. Kalau dia bugar ya tidak terlalu capek, kalau dalam kondisi yang nggak bugar ya bisa saja langsung lemas dan lesu," kata spesialis andrologi RSUP Fatmawati, dr Nugroho Setiawan, MS, SpAnd, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (18/12/2013).
Terkait keluhan akibat semburan sperma yang terlalu kencang, menurut seksolog dr Andri Wanananda, MS kalau memang seseorang masih muda, tubuhnya bugar, fisik kuat, maka pegal-pegal itu adalah hal normal. "Tapi kan pegal atau kram itu bisa diatasi dengan relaksasi sesudah berhubungan intim, sehingga setelah itu kita jadi bugar," ucapnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rasa kram atau pegal tergantung kondisi dari tiap individu. Kalau yang sudah lanjut usia, ibaratnya untuk ejakulasi saja agak sulit, apalagi sampai kram seperti itu," kata dr Andri.
Untuk diketahui, kekuatan semburan sperma saat ejakulasi bisa melemah karena berbagai faktor, antara lain jarak waktu dengan ejakulasi sebelumnya. Makin lama diberi jeda, makin optimal kekuatan semburannya. Tentu saja, kualitas rangsangan dan kondisi kesehatan alat kelamin pria ikut mempengaruhinya.
Meski menyembur dengan kekuatan tinggi, namun laju sperma langsung melambat begitu memasuki liang vagina. Untuk melewati serviks atau leher rahim yang jaraknya kurang dari 5 cm, sperma butuh waktu sekitar 5 menit dan bahkan butuh 72 jam untuk mencapai sel telur yang jaraknya hanya 15 cm.
(vit/up)











































