Predator online merupakan julukan bagi orang-orang dewasa yang melakukan kekerasan seksual pada anak-anak yang sedang senang-senangnya 'eksis' di internet. Macam-macam bentuk kekerasan yang dilakukan, mulai dari rayuan cabul, bertukar foto vulgar, bahkan hingga berlanjut dengan perkosaan saat melakukan kopi-darat.
Ada pola tertentu yang dipakai para predator saat mendekati mangsanya. Umumnya, mereka menggunakan identitas yang dianggap tidak berbahaya oleh anak-anak, misalnya sebagai dokter, psikolog, atau apapun yang membuat anak-anak merasa nyaman dan mau berteman dengannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah berteman, para predator akan memanfaatkan keluguan dan kepolosan anak-anak untuk mengambil hatinya. Informasi detail tentang hobi, keluarga, teman-teman dekat, alamat, dikumpulkan lalu dipakai untuk memberi kesan bahwa sang predator sangat perhatian pada calon korbannya.
Mengutip FBI (Federal Bureau of Investigation), Donny menyebut tahap ini sebagai proses 'grooming' atau membangun kepercayaan. Prosesnya bisa berlangsung selama mingguan, atau bahkan hingga berbulan-bulan tergantung seberapa mudah calon korban diambil hatinya.
"Jika sudah terjadi hubungan emosional saling percaya antara predator dengan targetnya, maka mulailah dilaksanakan aksi untuk membawa topik esek-esek, meminta target untuk mengirimkan foto dirinya dalam pose vulgar hingga mengajak untuk bertemu," tulis Donny dalam blog pribadinya.
Sebagian dari para predator merupakan pedofil yang artinya hanya memiliki ketertarikan seksual pada anak-anak, dan sebagian lagi masih bisa terangsang oleh sesama orang dewasa. Apapun itu, dua-duanya tetap menjadi ancaman serius bagi anak-anak.
(up/vit)











































