Kamis, 19 Jun 2014 10:26 WIB

Ulasan Khas Papsmear

Dibayangi Stigma Negatif, Remaja Berisiko Sungkan Melakukan Pamspear

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Papsmear merupakan langkah paling ampuh untuk mendeteksi kanker serviks atau kanker mulut rahim sejak dini. Setiap perempuan yang aktif secara seksual dianjurkan untuk melakukannya, tak terkecuali yang masih usia remaja.

Sayangnya, stigma negatif terhadap remaja yang berhubungan seks di luar nikah membuat mereka sungkan untuk menjalani papsmear. Sebagian remaja putri yang hendak melakukan deteksi dini kanker serviks mengaku risih ketika petugas mulai menanyakan status perkawinan, lalu terkesan mencibir setelah tahu statusnya masih lajang.

"Saya kira itu oknum ya. Saya sendiri belum pernah dengar perlakuan diskriminatif seperti itu," kata dr Hari Nugroho, SpOG dari RSUD Dr Soetomo Surabaya saat berbincang dengan detikHealth, seperti ditulis Kamis (19/6/2014).

Sementara itu, dr M Nurhadi Rahman, SpOG dari RS Sardjito Yogyakarta menuding budaya ketimuran sebagai penyebab munculnya stigma negatif pada remaja yang melakukan papsmear. Bukan terhadap papsmear itu sendiri yang dianggap tabu, melainkan perilaku seks di luar pernikahan.

"Bisa jadi karena kita masih ada adat ketimuran ya. Sama kayak masih banyak orang memandang hamil di luar nikah itu tabu. Tapi sebenarnya yang didiskriminasi itu mungkin perilakunya, masih remaja kok sudah berhubungan seksual," kata dr Nurhadi

Soal kesadaran untuk melakukan papsmear sendiri, kondisi di Indonesia secara umum diakui masih sangat rendah. Bukan saja di kalangan remaja, perempuan dewasa yang sudah menikah pun kerap mengurungkan niat setelah tahu bagaimana prosedur ini dijalankan.

"Masalahnya bukan semata karena kurangnya informasi tentang pentingnya papsmear itu sendiri. Di Soetomo kita sering memberikan papsmear gratis, tapi pencapaiannya tidak pernah 100 persen. Jadi butuh edukasi mental masyarakatnya juga," ujar dr Hari.

Alasannya beragam, ada yang takut terdiagnosis, ada juga yang takut dengan tindakan papsmear itu sendiri, akan tetapi yang jelas bukan karena biaya. "Kalau di Yogyakarta lebih ke biaya, selain karena kurangnya info tadi. Di RS Sardjito, papsmear itu sekitar Rp 100-250 ribu. Hampir sama juga di JIH (Jogja International Hospital) juga segitu," tutupnya.

(up/up)