Rabu, 17 Sep 2014 10:59 WIB

Ulasan Khas Ereksi Abnormal

Hiii! Mayat Juga Bisa Ereksi

M Reza Sulaiman, Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta -

Pada beberapa kasus, bayi atau orang meninggal dilaporkan bisa memiliki ereksi. Mengingat fisik dari bayi dan orang meninggal tidak mampu menerima rangsangan, apakah ereksinya dapat dikatakan sebagai gangguan priapism?

Priapism sendiri adalah ereksi abnormal yang terjadi akibat gangguan aliran darah pada penis meski tanpa ada rangsangan. Akibat darah yang tidak mengalir lancar, penis terus menerus ereksi selama berjam-jam dan terasa sakit.

Pada mayat pria, ereksi umumnya terjadi akibat kematian dari gantung diri dalam posisi vertikal. Salah satu penjelasan atas fenomena yang juga disebut angel lust alias nafsu malaikat ini adalah pengaruh gravitasi. Ketika mayat dalam posisi tergantung, aliran darah akan terkonsentrasi di bagian bawah tubuh termasuk alat kelamin sehingga tampak menegang.

dr Gideon F.P Tampubulon, SpU, dari RS Premier Bintaro membenarkan hal tersebut. Menurutnya priapism memang dapat terjadi pada bayi atau mayat sekalipun. "Secara teori memang bisa terjadi pada semua kalangan umur, termasuk bayi bahkan post mortem erection," kata dr Gideon saat dihubungi detikHealth dan ditulis pada Rabu (17/9/2014).

Meski secara teori priapism dapat terjadi pada siapa saja, dr Gideon sendiri mengaku belum menemukan kasus priapism yang terjadi pada anak atau mayat.

"Tapi pengalaman saya yang terserang biasanya sih orang dewasa atau dewasa muda. Belum ketemu yang bayi atau post mortem," tambah dr Gideon.

Berbeda pandangan, dr Ayodhia Soebadi, SpU, mengatakan ereksi abnormal yang terjadi pada mayat secara definisi tidak dapat dikatakan sebagai kondisi priapism.

"Adanya ereksi post mortem atau pasca kematian menurut saya tidak termasuk dalam definisi priapismus, meskipun salah satu penjelasan fenomena ini adalah cedera saraf tulang belakang yang pada orang hidup mungkin menimbulkan priapismus (meskipun sangat langka sekali)," terang dr yang berpraktik di RS Dr Soetomo Surabaya.

(vit/vit)