Rabu, 17 Sep 2014 15:04 WIB

Ulasan Khas Ereksi Abnormal

Penis Bengkok Lebih Banyak Ditemukan pada Bule, Mitos atau Fakta?

Firstrianisa Gustiawati - detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock) Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Tak banyak yang pernah mendengar ada pria yang mengidap penyakit peyronie atau biasa disebut dengan penis bengkok ketika ereksi. Namun belum ada yang tahu pasti apakah pria Asia, khususnya Indonesia jarang mengalaminya atau karena kondisi ini memang cenderung dialami ras-ras tertentu?

"Kalau Indonesia ada, tapi nggak gitu banyak ya," tandas dr Nugroho Setiawan, MS, SpAnd dari RSUP Fatmawati kepada detikHealth dan ditulis Rabu (17/9/2014).

Seperti dikutip dari situs University of Princeton, AS, beberapa pakar dari luar negeri mengatakan peyronie lebih sering ditemukan pada pria Kaukasia dengan usia di atas 40 tahun, terutama yang mempunyai golongan darah A.

"Kalau golongan darah saya nggak tahu ya. Kalau ras juga sebenarnya mungkin berkaitan dengan pola hidup. Tapi yang pasti penyebab peyronie ini ya trauma. Itu aja," timpal Prof DR dr Wimpie Pangkahila SpAnd, FAACS menanggapi hasil temuan tersebut.

Hanya saja pakar andrologi dan seksologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana tersebut mengaku jarang menemukan kasus peyronie pada pria Indonesia.

"Kalau kasusnya tidak sering, tapi dulu ketika suntikan di penis (untuk pengobatan ereksi) sering dilakukan memang ada kasus yang terkena peyronie ini. Itu sekitar tahun 1998 kalau enggak salah," sambungnya.

Sementara itu, seksolog dr Andri Wanananda MS mengatakan jika bentuk penis yang agak 'menunduk' ke bawah saat ereksi adalah kelainan (anomali) sejak lahir. Terutama jika sebelumnya pria tersebut tak pernah mengalami trauma pada batang penisnya.

"Bila menunduknya tidak ekstrem, penis tetap bisa menunaikan tugasnya dengan baik saat hubungan intim dengan lawan jenis melalui posisi hubungan seksual tertentu," tutup staf pengajar Universitas Tarumanegara tersebut.



(lil/vta)