Rabu, 28 Okt 2015 15:04 WIB

Bukan Bodoh Tapi Disleksia

Stroke Bisa Memicu Disleksia? Ini Penjelasan Dokter

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: Thinkstock/Fuse
Jakarta - Disleksia identik dengan kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan membaca atau berbicara. Mirip seperti mereka yang pernah terserang stroke, yaitu cenderung berbicara dengan terbata-bata dan cadel.

Lantas apakah disleksia juga dapat dipicu oleh stroke? "Enggak," jawab Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia (ADI) dr Kristiantini Dewi, SpA.

Menurutnya, stroke terjadi akibat dua hal, pecahnya pembuluh darah atau penyumbatan pada aliran darah di dalam otak yang sama-sama mengakibatkan terhambatnya aliran darah pada jaringan otak.

"Disleksia itu memang dari kecil, bawaan. Bukan dari normal tahu-tahu kena stroke trus susah berbahasa," tegasnya.

Baca juga: Meski Membaik, Kesadaran Akan Disleksia di Indonesia Masih Memprihatinkan 

Namun dokter anak yang akrab disapa dr Tian itu tidak memungkiri bila gejala antara stroke dan disleksia tidak jauh berbeda, meskipun persamaan ini hanya ditemukan pada kasus-kasus tertentu.

"Kalau pecah pembuluh darah otaknya di area sebelah kiri, dia mungkin akan seperti disleksia, karena terganggu proses berbahasanya," terangnya kepada detikHealth dan ditulis Rabu (28/10/2015).

Akan tetapi sebenarnya dalam dunia medis, kondisi ini disebut sebagai efek stroke saja, sedangkan disleksia adalah gangguan atau hambatan dalam proses berbahasa karena ada perbedaan proses berpikir di otak.

"Pada orang disleksia gimana? Mereka menggunakan otak juga sebelah kiri tapi bukan area yang biasa digunakan sehingga tentu untuk menganalisa bahasa dia butuh waktu lebih lama. Sebagian orang disleksia bahkan mengaktifkan juga otak sebelah kanannya untuk memecahkan simbol atau lambang," papar dr Tian.

dr Tian juga mengingatkan, disleksia tidak disebabkan oleh rendahnya tingkat intelijensia, cara mengajar yang tidak baik atau pola asuh yang keliru. Kondisi ini murni berbasis genetika atau turunan.

"70 persen itu genetik, besar sekali memang. 30 persen ada yang tak genetik itu sedang dalam penelitian," lanjutnya.

Stroke sendiri dapat mengakibatkan sejumlah efek samping yang jauh lebih beragam ketimbang disleksia. Kerusakan otak yang dipicu stroke bisa memicu seseorang menjadi fasih berbahasa asing, buta aksara, terkena afasia atau gangguan bahasa di mana pasien kesulitan memahami dan mengutarakan sesuatu, baik itu secara lisan maupun tulisan, hingga hilang ingatan.

Baca juga: Kenali Disleksia, Kelainan yang Membuat Anak Lambat Belajar  (lll/up)