Kamis, 23 Jun 2016 20:05 WIB

Semangat dalam Keterbatasan

Ini Eka, Penyandang Tunanetra yang Serba Bisa

Martha Heriniazwi Dianthi - detikHealth
Foto: Martha HD
Jakarta - Sejak usia 8 bulan, Eka Setiawan kehilangan penglihatannya. Kini di usianya yang menginjak 45 tahun, Eka membuktikan tunanetra bukanlah sosok tak berdaya. Buktinya dia bisa melakukan banyak hal, tidak kalah dari mereka yang memiliki penglihatan.

Salah satu keahlian Eka adalah menggunakan komputer. Untuk membantu dan memudahkan Eka dalam pengoperasian, komputer tersebut telah disesuaikan dengan kondisinya.

"Kebetulan saya belajar komputer itu waktu kuliah. Selain itu, sudah ada software yang didesain khusus untuk penyandang disabilitas terutama yang mengalami tunanetra," kata Eka saat ditemui di Yayasan kartika Destarata, Kembangan, Jakarta Barat, baru-baru ini.

Software tersebut menurut Eka berguna untuk menerjemahkan bahasa layar ke bentuk suara sehingga bisa mempermudah para tunanetra dalam menggunakan komputer. Di Indonesia, software tersebut telah beredar sekitar tahun 1990-an.

"Waktu itu masih menggunakan Windows DOS. Software itu sudah kita pakai dan sangat sederhana bentuknya," lanjut Eka yang juga Kepala Sekolah Yayasan Kartika Destarata ini.


Baca juga: Saat Pilih Sekolah untuk Anak Berkebutuhan Khusus, Ini yang Harus Diperhatikan

Sebelum menggunakan komputer, Eka lebih dahulu telah menggunakan mesin ketik manual untuk menyelesaikan tugas-tugasnya saat duduk di bangku kuliah. Soal penggunaan mesin ketik manual, Eka punya kisah yang begitu membekas di benaknya.

"Saya pernah mengerjakan tugas hingga larut malam menggunakan mesin ketik manual, ternyata pas mau difotokopi itu cuma ada bekas ketikan saja tanpa ada tulisan. Ya sudah saya tetap fotokopi bekas ketikan itu, kemudian memberikan ke dosen saya. Untung dosennya mengerti dan saya diberi waktu untuk menyelesaikan," tutur Eka.

Baca juga: Meski Tunanetra, Suryo Bisa Selesaikan Puzzle Rubik Kurang dari 2 Menit

Selain menggunakan komputer, alumnus IKIP Jakarta (sekarang bernama UNJ) ini juga bisa melakukan aktivitas lain seperti bermain musik atau memperbaiki alat elektronik. Ietje Muis Lubis, Ketua dari Yayasan Kartika Destarata, mengakui kemampuan Eka yang bahkan melebih orang dengan penglihatan yang sempurna.

"Pemasangan semua sound system di sini yang paham Eka. Lalu untuk urusan teknologi, malahan pahaman dia daripada saya," ungkat Ietje saat ditemui di waktu yang sama.

Eka yang juga ketua PERTUNI (Persatuan Tunanetra Indonesia) memiliki harapan untuk membantu para penyandang tunanetra, terlebih dalam bidang teknologi. Apalagi menurutnya, harga software yang diperuntungkan bagi penyandang disabilitas harganya masih mahal, sekitar Rp 15 juta. (vit/vit)